Jika 1000 lelaki Jakarta ditanya apakah artis Dian Sastro itu cantik? Saya yakin akan ada 1001 lelaki yang akan menjawab “ya, cantik!”, satu lelaki lainnya itu adalah saya. Jika saya bertanya pada 1000 lelaki Jakarta tersebut, apakah kenal dengan artis yang namanya Omas, saya yakin 1000 lelaki itu akan menjawab “ya, kenal!”. Dian Sastro maupun Omas mereka sama-sama artis. Mereka, sama-sama kita kenal karena mereka berdua adalah orang terkenal. Apakah 1000 lelaki Jakarta tersebut mengenal dengan yang namanya Ahuy? Mmmmh, …siapakah Ahuy? Yuk, kita simak jika kita ingin mengenalnya.

ahuy2Saya mengenal nama Ahuy ketika saya kali kelima mendatangi masjid Lautze di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat. Persis di halaman depan masjid Lautze tersebut terdapat kedai mie ayam, kedai tersebut selalu ramai pengunjung terutama dihari Sabtu dan Minggu. Ahuy, itulah nama pemilik kedai mie ayam tersebut. Saya beberapa kali makan mie ayam di kedai itu. Saya panggil pemilik kedai itu ko Ahuy, maksud saya untuk menghormatinya sebagai saudara yang lebih tua. Setahu saya dalam dialek Hokkian ataupun Tiochiu untuk menghormati saudara laki-laki yang lebih tua menggunakan “ko”.

Saya tidak ingin bercerita soal rasa mie ayam ko Ahuy. Disini, saya hanya ingin bercerita soal hikmah setelah berbincang-bincang dengan ko Ahuy. Kala itu, ba’da solat dzuhur berjamaah di masjid Lautze, perut saya merasa lapar. Lantas saya mampir di kedai mie ayam milik ko Ahuy tersebut. Saya melihat kedai mie ayam Ahuy siang itu agak lain pemandangannya, saya melihat dideretan para pelayan ada orang baru. Orang baru itu sedang meracik semangkok mie ayam.

Orang yang baru saya lihat itu lantas membawa mangkoknya yang berisi mie ayam siap hidang ke meja tempat saya menunggu pesanan, saya kira dia akan menghidangkan semangkok mie itu untuk saya. Oo, ternyata tidak, dia tersenyum kearahku lantas duduk dikursinya yang satu meja denganku lantas ia melahap mie ayam tersebut yang sebelumnya dia racik sendiri. Tanpa basa-basi saya sapa dia, “Maaf, apa nama bapak itu Ahuy?” Dia menjawab pendek, “Ya”, lantas dia tersenyum untuk saya dan saya pun tersenyum untuknya. Kami saling berjabat tangan. Untuk kali pertama itulah saya melihat dan mengenal wajah pemilik kedai mie ayam itu.

Saya duduk menghadap timur sedang ko Ahuy mengahadap utara, dimana dihadapan ko Ahuy telah duduk dua lelaki yang sebelumnya berjabat tangan dengan saya. Mereka bertiga yang satu meja dengan saya adalah lelaki keturunan Tionghoa, sedang saya pribumi meski mata saya kata orang-orang sipit juga. Jika keturunan Tionghoa di Indonesia kita sebut sebagai minoritas maka dimeja itu saya sebagai minoritas.

ahuy3Kami berempat di meja itu langsung saling mengobrol seperti layaknya sudah saling kenal lama. Sambil meyantap mie ayam masing-masing, obrolan ringan pun terus mengalir begitu saja sambil diselingi canda tawa. Di meja itu kami tidak sedang membicarakan Dian Sastro, Omas ataupun artis lainnya, kami kebetulan saat itu membicarakan soal kerohanian.

Dua lelaki dihadapan ko Ahuy pamit kemudian mereka masuk ke masjid untuk belajar mengaji (lihat video berdurasi 1,5 menit dibawah). Ko Ahuy dan saya tetap di meja tersebut. Kami berdua melanjutkan obrolan. “Mas, bisa tunjukkan ke saya, di surat dan ayat mana di alqur’an yang menyebutkan syahadatain?” tanya ko Ahuy kepada saya. Alhamdulillah, ko Ahuy sangat mengerti kejujuran saya bahwa saya tidak berpengetahuan menjawab secara akurat. Lagian ko Ahuy menanyakan itu bukan untuk menguji seberapa jauh pemahaman saya atas kitab suci umat Islam.

Saya berkeyakinan ko Ahuy mengajukan pertanyaan itu sebatas sambil lewat saja, dan saya merasa itu adalah bagian dari proses yang dialami ko Ahuy dimasa lalunya dalam memahami Islam. Sebab dari ceritanya, ko Ahuy selalu banyak pertanyaan yang fundamental tentang Islam dan selalu dilontarkan kepada yang merasa mampu menjawabnya untuk memuaskan pencarian batinnya.

Saya melihat ko Ahuy adalah orang yang kritis dan selalu optimis semenjak dia mengikrarkan dirinya menjadi seorang muslim ditahun 2001. Proses keislaman ko Ahuy diawali mimpi yang datang berulang termasuk yang dialami istrinya yang sudah almarhum. Menjelang keislaman dirinya dan istrinya, ko Ahuy selama setahun lebih selalu gelisah dan sulit tidur hingga adzan subuh.

Kalimat-kalimat di adzan inilah yang paling sering diulang-ulang dalam obrolan santai dengan saya siang itu. Ko Ahuy betul-betul begitu sangat terkesan dengan kalimat ‘hayya alalfalaah’. Ia mengartikan sesuai yang dia sampaikan ke saya makna kalimat ‘hayya alalfalaah’ adalah kita diajak menuju kemenangan. Dia memahami, menghayati,  dan meyakini betul makna ‘kemenangan’ itu.

Kemenangan dalam mengalahkan dirinya dan memenuhi panggilan untuk bertemu penciptanya sehari 5 kali. Pengakuannya, jika sudah takbiratul ikhrom disetiap solatnya dia selalu merinding dibagian kedua lengannya karena disaat-saat itulah secara otomatis dimatanya ‘diperlihatkan’ bagaimana kehidupan ko Ahuy sebelum tahun 2001. Dalam solatnya dia selalu ‘diperlihatkan’ bagaimana kehidupan dirinya dimasa lalu, “apakah seperti itu yang dikatakan solat yang khusuk?!” ko Ahuy seperti bertanya pada saya, saya membiarkan pertanyaan itu. Hujan tiba-tiba turun nyaris deras setelah gerahnya udara siang itu, obrolan kami tetap berlanjut tak terganggu oleh turunnya hujan.

Pengakuan ko Ahuy, dia sudah masuk dan tampil dalam berbagai channel TV di Indonesia, mereka mewancarai tentang keislaman dirinya.

Obrolan saya dengan ko Ahuy, lelaki kelahiran Pontianak tahun 1958, berhenti ketika hampir tiba waktu ashar.

Di rumah, saat menjelang tidur malam, saya merenungi kembali apa-apa yang dibicarakan dengan ko Ahuy. Siang tadi ko Ahuy seakan bertanya kepada saya, diayat dan surat keberapa dalam alqur’an syahadatain disebutkan? Setelah diselingi beberapa obrolan ko Ahuy membuka aplikasi alquran yang ada di henponnya. Ia tunjukkan diayat dan surat keberapa dalam alquran yang menyebutkan syahadatain. Saya bersyukur, siang itu bertambah pengetahuan saya mengenai agama saya dari orang yang islamnya jauh lebih muda dari saya.

Malam itu mata saya belum mau terpejam juga, kemudian terlintas dalam ingatan saya akan cerita ko Ahuy yang sangat begitu terkesan dengan ‘hayya alalfalaah’.  ‘Ayo menuju kemenangan’ itulah yang dimaknai dan sangat diyakini oleh ko Ahuy atas bagian kalimat dari adzan tersebut. Dan ko Ahuy selalu merasakan bahwa dirinya dari waktu kewaktu selalu diberi kemenangan dalam mengalahkan dirinya sendiri.

Perenungan saya berlanjut dimalam itu, mengapa ko Ahuy begitu mudah dan begitu dalam merasakan makna kalimat ‘hayya alalfalaah’? Atau lainnya, dalam usia saya seperti ini, kenapa baru sekarang mendengar atau berfikir disurat apa dan ayat keberapa syahadatain disebutkan dalam alquran? Saya khawatir saya termasuk orang yang ditutup kalbunya dari hidayah untuk bisa memaknai dan menghayati nikmat yang ada. Ahh, semoga tidak begitu. Siang tadi saya mengenal seorang Ahuy bukankah itu hidayahMU untuk menuntun saya menuju ‘kemenangan’?!***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.