Ular tikusMeski tengah hari tapi langit saat itu gelap. Awan hitam bergelantungan di langit. Gerimis turun membasahi rawa ilalang tak bertuan. Di rawa itu tanah becek berlumpur, licin. Di tengah rawa terdapat seekor ular piton seukuran lengan orang dewasa dengan panjang sekitar tiga meter. Ular itu sedang berganti kulit. Kulit bagian kepala sudah terkuak sedang bagian lain masih menyatu dengan tubuh ular itu. Ular itu sedang sangat kesulitan melepaskan kulit usangnya karena ditengah rawa tanahnya licin. Ular itu bergerak-gerak dan berguling-guling berulang kali namun kulit usang itu tak mampu ia lepas. tanah licin menyulitkan proses pergantian kulitnya. Sudah sekian lama ular itu berusaha melepaskan kulit usangnya tetapi tidak berhasil. Ular itu kelelahan dan akhirnya tertidur.

Tiba-tiba ular itu terkejut dan terbangun. Ada seekor tikus jantan besar persis berada dihadapan ular tersebut. Sungguh rejeki bagi ular piton itu, ia sedang kelelahan dan kedinginan. Ia sedang sangat lapar. Ketika tikus jantan itu tepat ada didepannya maka langsung saja ular itu menegakkan lehernya dan ancang-ancang memangsa sang tikus. Tikus itu hendak dipatuknya dan dilahapnya. Tikus itu sangat ketakutan. Wajah tikus pucat pasi, badanya bergetar. “Matilah aku!,” kata tikus dalam hatinya. Ketika moncong ular tinggal tiga sentimeter lagi tikus berteriak ketakutan.

“Stooop!” Ular piton itu tiba-tiba menghentikan ayunan lehernya mengurungkan memangsa sang tikus.

“Hey, tikus gemuk. Kenapa kau menyetopku. Kau mangsaku. Aku lapar!”

“Maaf tuan ular yang baik hati, aku lihat tubuhmu sedang ganti kulit. Betul itu?” tanya sang tikus sambil mengamati suasana.

“Ya, betul. Aku sedang kesulitan melepaskan kulitku yang usang karena tanah rawa ini sangat licin, tubuhku tak bebas bergerak,” jelas sang ular.

“Maaf tuan ular yang bijak, bolehkah aku menolongmu melepaskan kulit usangmu?” kata sang tikus mulai merayu.

“Tentu saja kau boleh membantuku wahai tikus gemuk tapi kau mangsaku aku lapar. Aku harus melahapmu sekarang.”

“Maaf ular yang bijak, boleh saja kau mangsa tubuhku tapi berikanlah aku kesempatan berbuat baik padamu terlebih dahulu. Setelah itu kau boleh lahap tubuhku ini,” pinta sang tikus lagi.

“Kenapa begitu?!” sang ular bertanya keheranan.

“Aku ingin berbuat baik padamu wahai ular yang bijak. Aku rela mati asal aku sudah berbuat kebajikan dahulu, aku ingin masuk syurga setelah matiku,” sang tikus menjelaskan.

Ular itu terdiam berpikir. Ia merasa harus mengikuti tawaran sang tikus itu. Sebab ada dua keuntungan baginya, kata dalam hatinya. Keuntungan pertama, dengan pertolongan sang tikus maka ular itu dapat melepaskan kulit usang dan berganti kulit yang baru. Keuntungan kedua, ia tetap bisa memangsa tikus gemuk itu. Kenyang!

“Okey. Aku setuju kau bantu aku lantas kau kulahap setelahnya,” jawab sang ular.

“Baiklah, aku rela mati setelah membantumu. Sekarang ikutilah instruksiku wahai ular yang bijak.”

“Ya, katakanlah. Apa instruksimu?”

“Lingkarkanlah lehermu ditubuhku,” perintah tikus.

“Kenapa begitu?!”

“Jika kau perlu pertolonganku, janganlah kau banyak bertanya. Lakukan saja perintahku”.

“Ya ya, baiklah,” jawab ular singkat.

Gerimis mulai deras. Sesekali terdengar ledakan petir dilangit. Basah tubuh ular dan basah juga tubuh tikus itu.

Ular itu mengikuti perintah sang tikus melingkarkan lehernya ditubuh sang tikus.

“Ya, terus eratkan lehermu ditubuhku dan tariklah tubuhku,” perintah sang tikus. Ularpun patuh terhadap instruksi itu. Dengan sekali tarikan leher ular maka tertariklah tubuh tikus itu dan tertarik pula kaki-kaki belakang sang tikus dari himpitan lumpur. Wow, rupanya kaki-kaki belakang tikus itu tadi terhimpit lumpur. Kaki-kaki belakang tikus itu tak dapat bergerak apalagi melompat membawa tubuhnya menjauh dari ular. Sang ular lah yang telah menolongnya.

“Baik. Sekarang berikanlah ekormu padaku.” Untuk kesekian kali ular itu menuruti perintah sang tikus. Ekor ular itu tepat didepan moncong tikus. Sang tikus mengigit ekor ular.

“Sudah kugigit ekormu wahai ular, sekarang gerakkanlah tubuhmu ke arah menjauhiku”, kata tikus.

“Terus, terus. Pandang saja kearah depan sana. Jangan kau menoleh ke belakang”, imbuh tikus.

Ular tetap patuh pada tikus itu. Sang ular pun bergerak menjauhi sang tikus yang tetap mengigit ekor ular. Pergerakan ular dan gigitan tikus ini membuat kulit usang sang ular tertinggal. Ular piton itu seperti keluar dari bungkusnya. Seperti sosis yang keluar dari kemasannya. Semakin lama semakin mudah tubuh ular itu melepaskan kulit usangnya.

“Sudah? Aku merasakan seluruh tubuhku sudah terlepas dari kulit usangku”, kata sang ular.

“Wahai tikus gemuk, aku merasakan seluruh tubuhku sudah tak ada lagi melekat kulit usang”, kata sang ular lagi.

Ular tak mendengar jawaban tikus. Benar-benar tak ada jawaban. Hanya sesekali suara petir yang terdengar. Ularpun menoleh ke arah belakang. Sang tikus tak ada dalam pandangan ular, hanya kulit usangnya yang nampak dimata sang ular. Ular baru tersadar bahwa tikus itu telah mengelabuinya. Tikus itu telah mengingkari janjinya sendiri.*

M. A. Bagayo

(Fabel diilhami tugas sekolah anak pertamaku yang bijak & ganteng)
Ilustrator: Yasmine aliifa syechan – siswa SDN 3 Klangenan kelas IV

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.