satiman2Tulisan ini merupakan sambungan dari tulisan sebelumnya yakni Pak Satiman Motivator Pendidikan Anaknya.

“Badan saya ini kecil tapi besar cita-citanya. Saya ini pendek tapi harus tinggi pendidikan anak-anaknya”, kata pak Satiman datar saat ditanya berapa tinggi dan berat badannya.

Pasangan bapak dan ibu Satiman memiliki tiga anak. Teguh Arianto sebagai anak pertama yang sedang menyelesaikan studi doktoralnya di Jerman. Teguh ini merupakan dosen Teknik Kimia di universitas tertua di Indonesia, UGM. Istri Teguh merupakan dosen UGM juga dengan pendidikan akhir S2.

Anak kedua, Dwi Rostrani, lulusan S1 FKIP di Universitas Malang (dulu IKIP Malang). Dwi sekarang sedang magang sebagai guru di sebuah Madrasah Aliyah di Cilacap. Anak ketiga, Atiqurrahman, sekarang masih duduk dibangku SMP kelas 2.

Pak Satiman dilahirkan dalam keluarga besar, ia anak ke 4 dari 9 bersaudara. Ia lahir di Cilacap, tanggal 15 Juli 1959. Sejak tahun 1982 telah mengembara dari proyek ke proyek, total proyek konstruksi yang pernah diikutinya sekitar 20. Proyek konstruksi petrochemical dan oil and gas. Baik proyek konstruksi didalam negeri maupun luar negeri.

Bekerja di lingkungan proyek konstruksi maka pak Satiman telah keliling pulau Jawa, Kalimantan, Sumatera bahkan hingga ke negara-negara Middle East dan Timur Jauh. Sebagai tenaga kerja ‘kutu loncat’ alias freelance ia berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya secara bebas. Perusahaan-perusahaan besar yang pernah disinggahinya seperti Fluor Daniel, Rekin, IKPT, JGC, Tripatra.

Bekerja di proyek sangat disukainya, selain bisa melanglang kemana-mana dan dibayar, pun ia bisa bekerja sambil berolahraga karena lingkungan konstruksi menuntut kuat berjalan kaki, naik-turun tangga berulang kali, terkena sinar matahari baik pagi, siang maupun sore. Pak Satiman sangat merasa bersyukur diusia 57 tahun masih segar bugar.

Kembali ke soal anak, pak Satiman tentunya bersyukur dan bangga ternyata Teguh anak pertamanya dapat membantu meringankan beban biaya pendidikan karena Teguh mendapatkan beasiswa pendidikan disetiap jenjang pendidikannya. Teguh menerima beasiswa sejak ia bersekolah di SMA hingga S3.

satiman3Jurus-jurus yang telah dan masih terus dilakukan oleh pak Satiman untuk memacu semangat pendidikan bagi anak-anaknya adalah:

  1. Menceritakan kepada anak pertamanya mengenai cita-cita sekolah pak Satiman yang belum mencapai sesuai jenjang yang diinginkannya. Pak Satiman menginginkan lebih dari lulusan STM. Alasan tidak tercapai cita-cita pak Satiman dituturkan dalam bahasa yang apa adanya tanpa menyalahkan siapapun.
  2. Memastikan bahwa pekerjaan/penghasilan yang didapat adalah halal.
  3. Menyatakan diri bahwa pak Satiman siap untuk membiayai sekolah anak dengan syarat si anak harus serius untuk menuntut ilmu.
  4. Selalu memberikan contoh (mengajarkan) seperti berdoa setiap saat, minimal sehari melakukan solat 17 rakaat, puasa sunah Senin & Kamis, hidup sederhana (tidak boros), tawakal.
  5. Selalu bergaul dengan orang lain dengan selalu memperhatikan (melihat/belajar) akan keberhasilan dan kegagalan dalam mendidik anak khususnya dalam aspek dunia pendidikan/sekolah.

“Saya kira cuman itu saja. Mungkin gak ada yang istimewa. Cuman yang saya rasakan saya harus banyak bersyukur dan ingin melupakan soal puas atau tidak puas dalam meraih yang saya cita-citakan”, ujar pak Satiman yang memiliki tinggi badan 150 cm dan berat badan 49 Kg.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.