Anak PertamaSiang itu Dian berada didalam mobil jemputan sekolah. Dian merasa siang itu lebih terik dari biasanya. Haus. Macet. Diliriknya tempat minum bekal dari bunda yang setiap hari dibawanya. Kosong tanpa air. Ia ingin cepat-cepat sampai di rumah kemudian minum melepaskan dahaganya dan segera duduk beristirahat di balkon kamarnya yang adem di lantai dua rumahnya.

Selama ini, dari hari ke hari bunda Dian rajin menyiapkan bekal dan tak pernah lupa memantaunya terutama sebelum Dian naik mobil jemputan untuk berangkat ke sekolah. Hal itu berbeda dengan yang ada dalam perasaan Dian. Dian merasa bunda yang sekarang sudah berbeda dengan bunda yang dulu. Dian merasa, bunda sekarang lebih memperhatikan Dinda, adiknya, yang baru berumur empat tahun. Dian sedang sebel segede gunung sama bunda akhir-akhir ini.

Macet di siang itu akhirnya berlalu dari pandangan Dian. Ia merasa sedikit lega, terbayang sudah tiba di rumah dengan segala suasananya. Minuman juice kemasan botol yang dia beli bersama ayah semalam terasa sejuk di tenggorokan untuk siang yang  terik itu. Tak seberapa lama mobil jemputan pun berhenti tepat di depan pagar rumah Dian.

“Daah…., sampai besok.” Dian melambaikan tangan keteman-teman satu jemputan dan membuka pagar rumah. Disimpannya sepatu dan tas di tempatnya, diletakkannya tempat bekal yang sudah kosong di tempat cuci piring. Dian tak ingin bunda marah gara-gara dia tidak menyimpan sesuatu barang tidak pada tempatnya.

Dian segera menuju kulkas. Kemarahan Dian ingin segera ditumpahkan begitu melihat botol juice yang dibayangkan selama perjalanan tadi ternyata sudah kosong mlompong!

“Dindaaa… !” Teriakan Dian mengejutkan Dinda yang sedang bermain bersama bunda. Dinda menatap takut-takut pada Dian. “Kamu minum juice Kakak, kan? Ayo, jawab!”

Bunda dengan sigap dan lembut menenangkan Dinda. “Dinda, Kakak bertanya sama kamu. Benarkah Dinda minum juice yang di botol ini?” Tanya bunda kepada Dinda. Dinda mengangguk.

“Itu namanya mencuri, Dinda. Kalau mencuri itu mengambil barang orang lain tanpa izin. Nanti kamu tidak punya teman!” Dian berkacak pinggang.

“Sudah, Kak. Dinda belum paham. Kita ajarkan Dinda pelan-pelan. Mungkin Dinda tidak tahu kalau minuman itu milikmu. Dia mengira semua yang ada di kulkas boleh dimakan atau diminum tanpa harus izin siapapun terlebih dahulu. Kamu pernah memberitahu ke Dinda bahwa itu milikmu?” Tanya bunda. Dian terlihat makin sebel sama bunda dengan pertanyaan itu. Dian merasa harusnya bunda memarahi Dinda. Dian tidak menjawab pertanyaan bunda dan berlalu menuju kamarnya dengan muka kemerahan. Meski merasa geram dan marah pikiran Dian mengakui bahwa perkataan bunda itu benar, Dian tidak memberitahu Dinda tentang minuman itu. Tapi seharusnya Dinda tidak boleh minum begitu saja dan harus bertanya dulu ke bunda atau Bi Yoyoh.

Sekitar tiga mingguan terkahir ini Dian sedang merasa tidak suka menjadi anak pertama. Dian berontak dengan kodratnya yang dilahirkan sebagai anak pertama. Anak pertama selalu diminta mengalah. Dian tidak suka punya adik. Perhatian bunda dan ayah tidak seperti dulu lagi. Dian merasa sangat bahagia selama enam tahun menjadi anak tunggal. Setelah Dinda lahir segalanya menjadi berubah. Dian tidak ingin punya adik, tapi Dian ingin mempunyai kakak. Dian tidak suka menjadi anak pertama. Bukan hanya soal juice, tapi buku cerita, buku gambar, dan mainan Dian berantakan diutak-atik Dinda. Bunda sudah membelikan Dinda mainan dan buku, tapi Dinda senang berada di kamar Dian. Kini, Dian melarang Dinda masuk kamarnya.

Kejadian soal juice telah berlalu satu minggu. Dian masih tidak suka sama Dinda dan menolak ketika Dinda mengajaknya bermain boneka baru. Dinda bermain bersama Bi Yoyoh dan Dian mengurung diri di kamar.

Tiba di satu siang, Dian merasa heran tidak mendengar suara Dinda sepulang sekolah. Saat ayah pulang kerja sore hari, Dian terkejut saat ayah pamit kerumah sakit untuk menggantikan bunda menemani Dinda.

“Dinda sakit, Yah?” Tanya Dian cemas. Ada rasa khawatir di hati Dian dan merasa bersalah tidak tahu lebih awal.

“Dinda demam sampai 40 derajat. Dinda harus diinfus.” Jawab ayah.

“Ayah mau nginap di rumah sakit?” Tanya Dian.

“Betul. Bunda akan nemani kamu di rumah dan menyiapkan kamu bekal sekolah. Ayah pergi dulu.” Jawab ayah.

Sepi sekali rumah ini tanpa celoteh Dinda. Celoteh Dinda yang sering membuat Dian tertawa di kamarnya. Celoteh Dinda bersama ayah yang terdengar Dian dari kamarnya di suatu malam. Dian mengenang celoteh-celoteh lucu Dinda.

“Ayah! Aku naik di punggung ayah. Aku jadi putri. Ayo, Ayah melompat, dong!”

“Melompat? Loh, kan, berat ada Dinda di punggung ayah.”

“Ayah jadi Sparky.” Kata Dinda membuat Dian yang mendengarnya tersenyum.

“Apa itu Sparky?” Tanya ayah dan membuat Dian tertawa tertahan di kamarnya.

“Sparky itu kuda, yah. Aku seorang putri. Ayahnya, nyengir dong, kayak Sparky!”

Tawa Dian kembali tertahan. Diintipnya malam itu dari lantai dua. Ayah dan Dinda sedang bermain. Bunda juga tersenyum-senyum. Dian menolak saat ayah dan bunda memanggilnya untuk berkumpul di ruang keluarga.

Malam ini Dian gelisah dan tidak bisa tidur. Dian masuk ke kamar bunda. Bunda juga belum tidur.

“Bun, bagaimana keadaan Dinda? Apa panasnya sudah turun?” Tanya Dian mengawali pembicaraan.

“Sudah. Tapi Dinda harus tetap dirawat sampai stabil. Alhamdulillah, hasil tes darahnya baik. Mudah-mudahan lusa sudah bisa pulang. Kamu belum tidur?” Tanya Bunda.

“Dian mikirin Dinda. Dian sebel sama Dinda dan tidak suka jadi anak pertama. Tapi saat Dinda tidak ada, rumah ini terasa sepi.” Bunda merasa lega dengan keterusterangan Dian.

Bunda tersenyum. “Soal anak pertama, bunda jadi ingat cerita Tante Lina, teman bunda yang juga pernah sebel seperti kamu jadi anak bungsu. Tapi, Tante Lina pada akhirnya bersyukur dan selalu bersyukur karena masih banyak orang yang tidak seberuntung dia,” sambung bunda.

“Loh, kok, sebel jadi anak bungsu?” Tanya Dian heran dan ingin tahu cerita soal Tante Lina.

“Tante Lina itu anak terakhir dari sepuluh bersaudara. Dia mempunyai sakit maag akut. Menurut dia mungkin saja sakitnya itu karena dia terlahir jadi anak bungsu karena saat mengandung dia kondisi ibunya yang sudah tua dan perhatian ibunya berkurang karena sudah lelah dengan kakak-kakaknya sehingga lupa mengingatkan Tante Lina makan. Tapi, akhirnya Tante Lina menyadari mengeluh itu tidak ada gunanya. Kata Tante Lina, bersyukur dan selalu bersyukur adalah hal terbaik dan menjaga kesehatan adalah jalan keluar terbaik. Kini Tante Lina sehat dan tidak pernah kumat maagnya. Bersyukur, tersenyum, dan mengawali hari dengan sesuatu yang positif adalah kuncinya.” Bunda tersenyum.

“Waktu hamil Dinda, apakah bunda juga kondisinya sudah lelah?” Tanya Dian lagi.

“Bunda berusaha selalu menjaga kondisi pada setiap kehamilan bunda. Makan makanan bergizi, istirahat cukup, berdoa, dan selalu berkomunikasi denganmu. Juga komunikasi dengan Dinda saat ia masih berada dalam Rahim. Tidak ada yang dibedakan. Dulu, kamupun sering bermain-main seperti Dinda bermain sama ayah. Permainan kamu dulu adalah “Siboding-boding” dan hanya kita yang tahu “siboding-boding” itu. Oh ya, sudah malam. Segera tidur, Dian. Besok harus solat subuh dan berangkat sekolah tepat waktu”

“Baik, bunda. Besok sore boleh ikut kerumah sakit?”

“Tentu.” Jawab bunda. Dian menutup kamar bunda dan kembali ke kamarnya.

Bunda benar, tidak ada yang dibeda-bedakan. Dian ingat benar permainan “siboding-boding” bersama ayah. Ya, hanya ayah, bunda, dan Dian yang tahu permainan itu. “Siboding-boding” adalah permainan bersama ayah sebelum Dian tidur. Permainan guling-gulingan di tempat tidur bersama ayah. Permainan yang mulai berakhir saat Dian kelas satu SD. Dian menolak bermain “siboding-boding” karena merasa sudah besar.

Malam itu sebelum terpejam mata diatas pembaringan, Dian menyadari kalau ayah tidak pernah membeda-bedakannya dengan Dinda. Dian mengingat banyak lagi permainan selain “siboding-boding” bersama ayah. Dian tersenyum mengingat permainan gerakan “Blue Bee” bersama ayah. Kini ayah pun melakukan hal yang sama kepada Dinda. Ayah bilang supaya ketika besar nanti punya kenangan yang baik dan lucu bersama ayah. Dian tersenyum. Dian berjanji akan mengajak dan mengajari Dinda banyak hal dengan bermain dan menciptakan kenangan-kenangan indah. Dian berdoa sebelum tidur untuk kesembuhan Dinda. Dian tersenyum dalam tidurnya.*

 

Farhah Faridah, 2015

 

Catatan:
*kosong mlompong = kosong sama sekali.
*Sparky = nama anjing bull terrier, Walt Disney.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.