wudluSudah sekian lama, mungkin sudah puluhan tahun lamanya disetiap masjid yang kusinggahi selalu menyediakan fasilitas wudlu dengan menggunakan keran air, baik di masjid-masjid yang berada di kota maupun yang berada di desa. Tapi siang itu benar-benar berbeda ketika diriku memasuki area wudlu di masjid Akbar desa Pulau Panggung, Kabupaten Muara Enim, Sumatera selatan, yang ada hanya bak persegi berukuran besar dengan beberapa gayung dan tentunya air.

Bak wudlu besar di masjid Akbar tersebut berukuran sekitar 8 kali 2 meter dengan kedalaman 1,5 meter. Menurutku fasilitas wudlu tersebut sangat sederhana. Meski sangat sederhana, bagi diriku sangat berharga karena mampu mengingatkan kembali masa laluku disaat kecil ketika belajar berwudlu di rumah orang tuaku.

Dulu, di rumah orang tuaku aku belajar berwudlu dengan menimba air di sumur terlebih dahulu. Air yang barusan kutimba (timba hitam yang terbuat dari karet bekas ban) kusimpan diatas bibir sumur warna semen. Lantas dengan sebuah gayung plastik berukuran kecil aku menciduk air dari timba tersebut berulang kali untuk menyiram tubuh sesuai aturan dan urutan berwudlu. Basah sebagian badanku karena air wudlu, namun tak jarang basah juga baju dan sarungku.

Fasilitas bak wudlu di masjid Akbar desa Pulau Panggung di siang itu benar-benar berharga bagi bathinku. Aku tahu bak wudlu itu berupa sebuah kotak yang tentunya tak sama bentuknya dengan sumur di rumah orang tuaku, meski demikian aroma udara dari percampuran lumut dan air di bak itu sangat sama dengan yang ada di sumur rumah orang tuaku. Itulah aroma yang kucium di bak wudlu masjid itu. Aroma itulah yang sangat berharga bagi diriku. Aku serasa kembali ke masa lalu.

Saat diriku menikmati betapa berharganya aroma bak wudlu di masjid itu ternyata bathinku berbisik, “Selain aroma itu, masih ada lagi yang lebih berharga buatmu wahai anak Adam”.

“Apa itu?”, tanyaku.

“Janganlah derajat wudlumu yang sekarang sama dengan wudlumu dimasa lalu. Tirulah wudlunya para Nabi dan para shadiqqin!”.***

Note:
As-Shadiqin adalah orang-orang yang membenarkan segala apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya. Orang-orang yang antara lahir dan bathinnya sama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.