RSS
Facebook

Bangkit Dari Keluarga Broken Home! (Part-1)

Ditahun 1998, remaja ini keluar dari pondok pesantren Al Amaliyah karena malu gak pernah mampu nyumbang untuk setiap acara khataman dirinya. Sebenarnya, Kyai Madroni tak masalah. Ia dan adiknya selalu diikutkan pak Kyai pada setiap acara khataman meski tak nyumbang sepeserpun. Tapi remaja ini pingin sekali ketemu ayahnya dan marah-marah pada ayahnya, “Aku dan adikku ini sebenarnya anak siapa?! Kenapa ayah tak pernah membiayai hidup kami di rantau? Aku sangat malu kalo ada acara khataman!”

Baca Juga

Bangkit Dari Keluarga Broken Home! (Part-2)

Bangkit Dari Keluarga Broken Home! (Part-3)

Bangkit Dari Keluarga Broken Home! (Part-4)

HadiHadianto nama remaja itu, saat itu Hadianto masih remaja, ia kelahiran desa Srimukti, Bandar Lampung. Ia anak pertama dan mempunyai tiga adik kandung.

Semasa kecil, Hadianto kecil tidak diisi dengan dunia masa anak-anak sewajarnya anak-anak sebayanya. Hadianto dari waktu kewaktu ditempa masalah diluar usianya. Permasalahan yang bisa dibilang seharusnya bukan menjadi masalahnya namun harus ia pikul dalam ketidaktahuannya.

Kala itu Ayah dari Hadianto selalu berpindah-pindah rumah dengan satu alasan tertentu. Karena sering berpindah rumah yang jaraknya cukup jauh maka Hadianto pun sering berpindah sekolah. Saat kelas 1 hingga kelas 2 SD Hadianto sekolah di Pematang Panggang, saat kelas 3 SD hingga kelas 1 SMP Hadianto bersekolah di desa Lebak Pemangan Kecamatan Kasui. Saat kelas 2 SMP pindah lagi ke Pangkalmas Masuji. Semuanya berada di Bandar Lampung.

Sekitar tahun 1995 ayahnya Hadianto mencalonkan diri dalam pilkades di satu desa di area transmigrasi Masuji Lampung, hasilnya kalah. Karena merasa malu atas kekalahannya maka ayahnya pindah rumah ke lain desa, Hadianto yang saat itu kelas 2 SMP dan adik pertamanya (lelaki) yang saat itu kelas 4 SD disuruh sang ayah sekolah di Cisimeut, Kabupaten Lebak – Provinsi Banten. Hadianto dan adiknya akhirnya bersekolah di Lebak Banten. Hadianto dan adiknya menuntut ilmu di Lebak dari tahun 1995-1999. Selama kurun waktu sekitar 4 tahun tersebut Hadianto dan adiknya tak pernah pulang mudik termasuk dalam setiap lebaran, tanpa pernah dijenguk orang tuanya dan tanpa ada siapapun yang membiayai.

Di Cisimeut, Hadianto dan adiknya sempat ikut pamannya yang berprofesi sebagai seorang guru SD di desa tersebut. Karena selama di rumah pamannya, ia dan adiknya sering terpaksa menahan rasa lapar dari pagi hingga malam maka Hadianto yang saat itu berumur 14 tahun tertarik untuk mondok di pondok pesantren yang sering ia dan adiknya lalui saat pergi dan pulang sekolah. Hadianto dan adiknya sangat berharap dengan mondok di pesantren maka mereka dapat makan banyak selain belajar mengaji.

Kala itu sore hari, itulah hari pertama kali Hadianto dan adiknya menjadi santri. Hadianto mondok bersama adiknya atas kemauan Hadianto sendiri.  Bekal pertama mondok adalah pemberian pamannya yakni beras 1 kulak (9 liter), ikan peda 6 ekor, dan garam 4 balok untuk selama sebulan pertama.



style="display:inline-block;width:728px;height:90px"
data-ad-client="ca-pub-
6882140561110162"
data-ad-slot="9215876336">

Hadianto menjadi santri Kyai Madroni sejak ia siswa kelas 2 SMP hingga kelas 2 STM, Hadianto dan adiknya belajar mengaji alias mondok di pondok pesantren (ponpes) Al Amaliyah asuhan Kyai Madroni. Ponpes tersebut tepatnya terletak di desa Munjul Kecamatan Leuwi Damar Kabupaten Lebak Provinsi Banten.

Pandangan Hadianto, Kyai Madroni adalah seorang Kyai yang sangat konservatif, meski demikian Hadianto dan adiknya tetap bersekolah di sekolah umum selain mondok.

Saat Hadianto mengawali bulan ke-2 menjadi santrinya Kyai Madroni, selain sebagai siswa dan santri, Hadianto juga sebagai pekerja pada seorang sodagar kaya di desa tersebut dengan upah Rp. 1500 per setengah hari.  Hadianto harus bekerja untuk setiap setengah hari selepas sekolah umum karena ia menyadari disaat itu tanpa siapapun yang membiayai hidup untuk dirinya dan adiknya, ia terpaksa harus bekerja jadi tukang kredit keliling.

Dalam menjalani sebagai tukang kredit keliling tidak selalu uang seribu limaratus ada ditangan dalam setiap harinya. Jika ia jatuh sakit maka ia tak mampu lagi memikul barang yang akan ia kreditkan. Hadianto pernah beberapa kali tak dapat uang dalam setengah hari, maka dihari itu ia dan adiknya hanya makan malam dari sisa teman-teman di pondok berupa kerak nasi (intip) yang ada didalam panci diatas tungku!

Cerita lain masa nyantri di pondok, kedatangan Hadianto di pondok pesantren Al Amaliyah bak magnit bagi para orang tua maupun anak-anak di desa sekitar. Kedatangan Hadianto mampu menambah jumlah santri-santriwati asuhan Kyai Madroni secara signifikan. Pondok yang tadinya sepi menjadi ramai! Semua itu terjadi berkat Hadianto yang menjadi tukang kredit keliling di desa Munjul. Menjadi tukang kredit keliling maka Hadianto banyak dikenal oleh para orang tua di desa tersebut dan sekitarnya, dan diketahui bahwa Hadianto adalah salah seorang santri Kyai Madroni. Singkat cerita kedatangan Hadianto di ponpes tersebut membuat ponpes banyak memiliki santri khususnya santriwati, yang tadinya total hanya sekitar 95 santri menjadi sekitar 400an santri dalam waktu relatif singkat.

Hadianto ketika jadi santrinya Kyai Madroni merasa dirinya adalah santri yang paling bodoh diantara santri yang ada, tapi justru ia yang selalu diajak oleh sang kyai kemanapun pak Kyai punya acara. Kenapa? Karena mungkin Kyai Madroni berfikir Hadianto adalah santri yang begitu populer di masyarakat desa, santri merangkap tukang kredit keliling sekaligus merangkap pelajar sekolah umum. Hanya seorang Hadianto santri yang seperti itu!

Waktu berjalan terus, Hadianto semakin menjadi remaja yang beranjak dewasa, ia mulai memiliki rasa malu. Perasaan malunya terus menekan bathinnya, hingga disaat puncaknya Hadianto mengajak adiknya untuk pulang ke rumah orang tuanya. Berbekal uang 50 ribu rupiah hasil penjualan beberapa kitab miliknya Hadianto dan adiknya pulang ke Lampung. Uang 50 ribu ditahun 1998 sebenarnya tidak cukup untuk ongkos kedua anak dari Cisemeut – Rangkas Bitung – Merak – Bakauheni – Kasui Lampung Utara. Berkat ridlo dan doa sang Kyai Madroni maka Hadianto dan adiknya dapat sampai di rumah orang tuanya meski hanya dengan limapuluh ribu rupiah.

Hadianto memutuskan untuk keluar dari ponpes Al Amaliyah karena bathinnya tertekan dari ke hari, ia merasa malu gak pernah mampu nyumbang untuk setiap acara khataman dirinya. Sebenarnya, Kyai Madroni tak masalah. Ia dan adiknya selalu diikutkan pak Kyai pada setiap acara khataman meski tak nyumbang sepeserpun. Hadianto pingin sekali ketemu ayahnya dan marah-marah pada ayahnya, “Aku dan adikku ini sebenarnya anak siapa?! Kenapa ayah tak pernah membiayai hidup kami di rantau? Aku sangat malu kalo ada acara khataman!”

 “Namun pada saat bertemu ayahku, aku memandang wajahnya yang menua saja sudah tak tega, apalagi marah sama dia”, kata Hadianto sambil mengenang masa lalunya.

“Tidak, tidak. Aku harus hilangkan semua amarahku saat ini juga”, Hadianto mengenang suara hatinya yang dirasakan beberapa tahun lalu dikala berhadapan dengan ayahnya. Hadianto tak jadi marah-marah terhadap ayahnya karena ia selalu ingat dengan ilmu-ilmu yang dipelajari dari Kyai Madroni dulu, termasuk لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ (Jangan marah, bagimu Syurga).

Bekal ilmu dari pondok yang diajarkan Kyai Madroni membentuk Hadianto yang alim. Dengan ilmu yang telah diserapnya di Al Amaliyah dulu terus membimbing hawa nafsunya menjadi suatu kelembutan hati dan kesabaran dalam menerima kenyataan. Bahkan ketenangan hati yang tercipta karena kesabarannya telah membesarkan semangat dalam mengarungi hidup untuk selalu menjadi lebih baik.

Hadianto dan adiknya telah pulang ke rumah orang tuanya di Lampung, adiknya memilih tidak bersekolah dan tinggal bersama orang tuanya. Berbeda dengan Hadianto, ia lebih memilih bersekolah melanjutkan ke STM Yayasan PT Bukit Asam, Tanjung EnimSumatera selatan, dan tinggal di rumah neneknya di Muara Enim.*

Baca Juga

Bangkit Dari Keluarga Broken Home! (Part-2)

Bangkit Dari Keluarga Broken Home! (Part-3)

Bangkit Dari Keluarga Broken Home! (Part-4)




Leave a Reply

You might also likeclose
%d bloggers like this: