Perceraian kedua orang tua sang pemuda berusia 21 tahun itu terjadi di tahun 2002. Pemuda tersebut sangat panik sejadi-jadinya sepulang merantau dari Tanggerang ketika melihat wajah sang ibu kandungnya sembab karena tangis berlarut dan memar karena pukulan. Setelah mendengar cerita ibu kandungnya, dengan uang tersisa yang ada dikantongnya pemuda itu langsung membawa sang ibu kandungnya dari rumah tempat tinggal selama ini menuju rumah neneknya, nenek yang merupakan ibu dari ibu kandungnya. Sesampai di rumah neneknya itu, bak sudah jatuh tertimpa tangga pula, ia menjadi sangat terpukul karena nenek dan kakeknya justru memarahi dan menyalahkan sang ibu kandung tercintanya. Ada benih kebencian pemuda itu kepada nenek dan kakeknya saat itu.

had

Baca juga

Bangkit Dari Keluarga Broken Home! (Part-1)

Bangkit Dari Keluarga Broken Home! (Part-3)

Bangkit Dari Keluarga Broken Home! (Part-4)

Hadianto nama pemuda itu, ia kelahiran desa Srimukti, Bandar Lampung, pada tanggal 25 April 1981. Hadianto adalah lulusan STM Yayasan PT Bukit Asam tahun ajaran 1999/2000. Ia anak pertama dan mempunyai tiga adik kandung. Ibu kandung Hadianto adalah istri ke-4 bapaknya dimana tiga istri sebelumnya telah diceraikan.

Lulus dari STM, Hadianto dengan uang 150 ribu hasil sebagian penjualan petai dari kebun neneknya ia pergi ke rumah salah satu bibi dari ibunya di suatu desa di Kabupaten Metro, Lampung. Ia disana diminta menjadi guru ngaji di sebuah surau yang tak jauh dari rumah bibinya. Satu tahun Hadianto menjadi guru mengaji disana, tanpa dibayar kecuali uang fee alakadarnya dari para muridnya untuk membeli rokok.

Merantau di Metro dirasa dirinya tidak ada perubahan signifikan maka Hadianto pulang ke kampung masa kecilnya, ke rumah orang tuanya. Berbekal ilmu yang diajarkan Kyai Madroni, Hadianto membentuk Risma (Remaja Islam) di desa tempat orangtuanya tinggal, desa Lebak Peniangan Kecamatan Kasui, Lampung, dengan maksud mengamalkan ilmu yang ia miliki kepada para remaja di desanya. Risma yang Hadianto bentuk dapat berjalan sesaat saja itupun cenderung jalan ditempat, tidak berkembang.

Pada tahun 2001 Hadianto menganggap dirinya telah cukup untuk sibuk dengan Risma di desanya, ia pun mencoba mengembara ke pulau Jawa, tujuan ke Tangerang untuk mencari pekerjaan, ia ingin bekerja di pabrik. Di Tangerang ia sempat makan dan minum selama satu minggu dari bekal uang 200 ribu, itupun sudah dihemat dengan tidur malamnya dari masjid ke masjid. Uang 200 ribu juga termasuk buat ongkos wira-wiri di Tangerang. Tepat dihari ke-8 ia kehabisan uang sedangkan pekerjaan belum ia dapatkan!

Dalam ketidakpastian arah tujuan, langkahnya terhenti di sebuah masjid pinggiran Tangerang, ia pun bermalam disitu. Di masjid itu Hadianto sempat berkenalan dengan seseorang bersorban, hingga akhirnya diajak tidur di rumahnya. Beberapa hari berselang Hadianto mengetahui bahwa orang yang menolongnya itu adalah manusia sakti yang ajarannya menurut Hadianto bersebarangan dengan ilmu sunnah waljama’ah yang ia dapatkan dari Kyai Madroni. Meski begitu Hadianto sempat dapat hidup bersama dengan manusia sakti tersebut selama satu tahun lamanya, Hadianto membantu tugas-tugas orang sakti tersebut. Setelah memiliki cukup uang Hadianto akhirnya memutuskan hengkang dari kehidupan dunia manusia sakti ini. Sebelum Hadianto melangkahkan kaki untuk pulang manusia sakti berkata kepada Hadianto,”Sedang ada masalah besar di kampungmu. Pulanglah!”

(Pada tahun 2002 Hadianto berusia 21 tahun, ia baru saja datang dari pengembaraannya di Tanggerang dalam rangka mencari pekerjaan).

Saat ia baru memasuki rumah orang tuanya ia sangat panik sejadi-jadinya ketika melihat wajah ibu kandungnya sembab karena tangis berlarut dan memar-memar di wajahnya. Setelah mendengar cerita ibu kandungnya, tanpa seizin ayahnya, secepat kilat ia segera larikan ibu kandungnya menuju Merbau Kabupaten Muara Enim, ke rumah nenek, nenek yang merupakan ibu dari ibu kandungnya.

Hadianto bawa ibu kandungnya dengan maksud menyelamatkan ibu yang telah melahirkan dirinya ke dunia ini. Sesampai di rumah neneknya itu, bak sudah jatuh tertimpa tangga pula, ia menjadi sangat terpukul karena sang nenek dan kakeknya justru memarahi dan menyalahkan sang ibu kandung tercintanya. Ada benih kebencian Hadianto kepada nenek dan kakeknya saat itu.

Benci terhadap nenek dan kakeknya itu berlangsung beberapa waktu saja, karena sang nenek dan kakek akhirnya membiarkan sang ibu kandungnya berada di rumah mereka. “Nenek, kakek, saya titipkan ibu saya disini dulu. Nanti kalo saya sudah punya rumah, akan saya ambil ibu saya ini”. Itulah kalimat yang meluncur dari mulut Hadianto saat itu. Hadianto sendiri melupakan ucapan itu begitu usai mengucapkannya. Ia baru teringat kembali ucapan itu saat ia bercerita ke penulis.

Dalam kepanikan dan ketergesaan, Hadianto hanya membawa ibu kandungnya, itulah yang bisa ia lakukan saat itu. Sementara tiga adiknya ia tinggalkan di desa Lebak Peniangan Kec Kasui, Lampung, bersama ayah kandungnya. Hadianto tidak ingin kedua orang tuanya berlarut-larut dalam suasana yang tak mengenakan dan tak berkesudahan. Yang jelas, Hadianto telah dewasa saat itu, ia sangat cukup untuk dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, dia saat itu sudah dapat mengetahui siapa yang salah dan siapa yang benar. Tapi ia tak mempermasalahkannya saat itu, ajaran yang ia dapat di pondok dulu, siapapun orang tua kandung kita maka keduanya harus kita hormati.*

Baca juga

Bangkit Dari Keluarga Broken Home! (Part-1)

Bangkit Dari Keluarga Broken Home! (Part-3)

Bangkit Dari Keluarga Broken Home! (Part-4)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.