Setelah mengalami perbaikan beberapa bagian interior rumah, diakhir tahun 2004, Hadianto pergi ke Kasui, Lampung, menjemput ketiga adiknya di rumah ayahnya. Melalui proses yang melibatkan perangkat desa setempat, akhirnya Hadianto dapat memboyong seluruh adiknya ke Muara Enim.

Baca juga:

Bangkit Dari Keluarga Broken Home! (Part-1)

Bangkit Dari Keluarga Broken Home! (Part-2)

Bangkit Dari Keluarga Broken Home! (Part-4)

had3Sejak perceraian orangtuanya, secara alamiah Hadianto sebagai anak pertama, memiliki beban menghidupi ibu dan ketiga adiknya. Pada tahun 2002 Hadianto bangkit dan bekerja mencari nafkah. Ia pertama bekerja di logging company sebagai tenaga tebang potong di penghujung tahun 2002.

Selama bekerja sebagai tenaga tebang potong dengan upah seratus ribu perhari, Hadianto selama hampir satu tahun berada di hutan. Bekerja di hutan, makan-minum di hutan, dan tidur pun di hutan. Tidur beralaskan terpal dan beratap terpal. Nyamuk, jenis seranga lain dan lintah adalah hal biasa bagi diri dan kawan-kawannya.

Mendekati genap satu tahun sebagai tukang tebang potong, Hadianto meski seharian berada di hutan ia mendengar juga bahwa di kampung nenek-kakeknya sedang dibuka lahan untuk proyek konstruksi. Maka diawal tahun 2004 Hadianto kemudian mengenal dunia konstruksi, ia bekerja di sebuah kontraktor lokal yang bergerak dibidang sipil bangunan sebagai oilman.

Hadianto rajin menabung uang sisa hasil bekerja selama sebagai tukang tebang potong dan oilman, yakni dari tahun 2002 – 2004. Tabungan itu kemudian ia belikan satu kavling rumah di area transmigrasi yang masih satu desa dengan desa nenek dan kakeknya, di Muara Enim. Rumah yang dibelinya ditahun 2004 itu berukuran 6×6 meter, luas tanah 600 meter persegi plus kebun karet seluas satu koma satu hektar, seharga dua setengah juta rupiah. Rumah itu beratap seng, berdinding kayu papan, dan berlantai tanah. Pemilik rumah dan kebun karet menjualnya karena di lingkungan desa itu benar-benar dirasa tak aman & tak nyaman untuk hidup bagi diri dan keluarganya.

Setelah proses pembelian rumah dan kebun selesai, Hadianto bergegas ke rumah nenek-kakeknya untuk menjemput ibunya dengan minta ijin kepada nenek-kakeknya. Lantas mereka berempat menuju rumah yang baru dibeli Hadianto. Sesampai di depan rumah yang baru dibelinya, “Mulai malam ini ibu tidur di rumah saya”, kata Hadianto. Sang Ibu hanya terpaku agak lama kemudian pipinya basah karena matanya mengeluarkan butiran bening air kebahagiaan yang sepertinya sangat sulit dibendungnya. Suara isak terdengar oleh Hadianto. Sebaris kalimat dari sang ibu yang masih diingat Hadianto saat berada tepat di depan rumah yang baru dibelinya, “Seharusnya ibu yang menghidupimu, bukannya anakku yang menghidupiku”. Kalimat tersebut terucap dalam beberapa jeda isakan sang ibu. Isakan itu adalah isakan terpanjang di dunia sampai kapanpun menurut Hadianto, sebab isakan tersebut masih sering terdengar ditelinga Hadianto hingga sekarang.

Malam pertama di rumah baru, Hadianto tidur di luar kamar beralaskan terpal sedangkan ibunya tidur dalam kamar beralaskan papan dari daun pintu yang usang.

Setelah mengalami perbaikan beberapa bagian dalam rumah di akhir tahun 2004 Hadianto pergi ke Kasui, Lampung, menjemput ketiga adiknya di rumah ayahnya. Melalui proses yang melibatkan perangkat desa Lebak Peniangan Kecamatan Kasui, Lampung, akhirnya Hadianto dapat memboyong ketiga adiknya ke Muara Enim. Hadianto, sang ibu, dan ketiga adiknya sejak saat itu tinggal di bangunan rumah sangat sederhana milik Hadianto. Namun hal tersebut hanya dapat berjalan satu tahun saja, ada kondisi yang memaksa sebagian dari mereka harus tinggal diluar rumah mungil itu.

Perpisahan itu karena kehendak Hadianto. Hadianto, sang ibu dan adik ketiganya yang masih sekolah SMP tetap tinggal di rumah itu. Adik pertamanya yang hanya lulusan SD dan tidak pernah mau melanjutkan pendidikan di sekolah umum, dipesantrenkan di Pandeglang Banten. Adik keduanya dipaksa Hadianto harus tinggal di Baturaja untuk memulai kuliah di STAI. Semua biaya terkait pendidikan ditanggung Hadianto. Hadianto gajimu berapa? Bukan seberapa besar-kecil gaji saya yang menjadikan semua keputusan itu, melainkan selalu berusaha mencukupkan uang yang saya terima dari upah sebagai oilman. “Adik-adikku semuanya harus menuntut ilmu untuk mengangkat derajat keluarga!”*

Baca juga:

Bangkit Dari Keluarga Broken Home! (Part-1)

Bangkit Dari Keluarga Broken Home! (Part-2)

Bangkit Dari Keluarga Broken Home! (Part-4)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.