webPada tahapan investigasi ini investigator sudah mengantongi hampir seluruh fakta dari sebuah insiden yang diinvestigasi. Pada tahap ini pula investigator sudah mengetahui bagaimana insiden itu bisa terjadi. Meski demikian pada tahapan ini investigator harus bisa mengolah dan menemukan jawaban atas pertanyaan penting: mengapa insiden tersebut terjadi?

Investigator dituntut berfikiran logis dan terbuka terhadap semua kemungkinan. Kaitkan kemungkinan dalam investigator terhadap fakta-fakta yang ada. Bisa jadi fakta-fakta yang ada tidak mendukung tersusunnya rangkaian logis sehingga terjadinya insiden yang sedang diselidiki. Ini menunjukkan masih adanya rangkaian yang terputus (gap).

Gap ini dapat membuat investigator memerlukan data-data baru atau jika perlu maka perlu dihadirkan kesaksian ulang (atau lanjutan) dari sebagian para saksi yang pernah diwawancarai. Langkah ini diambil dalam menunjang validitas mengapa insiden itu bisa terjadi.


Jika investigator telah selesai melakukan analisa, catatlah urut-urutan aktifitas hingga terjadinya insiden. Cantumkan kemungkinan penyebab-penyebab insiden pad setiap langkah yang dicatat. Periksa kembali catatan yang telah tersusun tersebut untuk memastikan apakah:

  • Benar-benar telah didukung bukti.
  • Bukti berupa fisik, administrasi / dokumen, gambar / foto, atau bukti berdasarkan keterangan saksi.
  • Mengacu pada asumsi logis.

Dari catatan diatas investigator dapat menemukan hal-hal ketidaksesuaian yang seharusnya dilakukan di lapangan. Ketidaksesuaian ini merupakan pijakan bagi investigator untuk membuat rekomendasi atau saran-saran.

Tahapan akhir sebuah investigasi adalah membuat rekomendasi-rekomendasi dengan akurasi yang baik berdasarkan fakta yang ada dan bertujuan untuk mencegah hal serupa tidak terulang kembali.

Rekomendasi-rekomendasi dari investigator harus spesifik, konstruktif, berhubungan langsung dengan akar penyebab terjadinya insiden dan atau terkit dengan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya insiden.

vibratorDalam pembuatan rekomendasi-rekomendasi tersebut investigator harus menghindari hal-hal bersifat umum, oleh karenanya tidak boleh dilakukan dalam ketergesaan dan keterpaksaan.

Sebagai contoh, investigator telah memastikan bahwa kondisi jalan licin yang menanjak sangat berkontribusi pada terjadinya sebuah insiden tergelincirnya kendaraan.

Investigator tidaklah tepat jika hanya merekomendasikan “menghilangkan jalan licin”, akan lebih baik merekomendasikan:

  • Bersihkan jalanan tersebut dari lumpur dengan menggunakan motor grader secara rutin (rekomendasi ini hanya untuk jalan itu).
  • Atau, perbaiki jalan licin tersebut dengan dikupas, ditimbun bebatuan dan sirtu serta dipadatkan (rekomendasi ini hanya untuk jalan itu).
  • Atau rekomendasi yang terbaik, perbaiki semua jalan licin yang ada di semua area dengan dikupas, ditimbun bebatuan dan sirtu serta dipadatkan (rekomendasi ini umum namun spesifik dan preventive).

Investigator sangat disarankan untuk selalu menghindari mengeluarkan rekomendasi untuk mendisiplinkan orang meski orang itu nampak berbuat salah. Tindakan seperti itu pada hakekatnya bertentangan dengan tujuan investigasi itu sendiri. Parahnya, dapat sangat berpotensi menghambat proses keterbukaan informasi dalam investigasi diwaktu-waktu berikutnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.