errySemua hasil investigasi yang berupa bukti gambar atau foto-foto, barang-barang bukti seperti benda termasuk dokumen / data-data, dan catatan hasil interview yang kemudian dianalisa secara seksama, maka dibuatlah rekomendasi.


Pembahasan mengenai analisa dan rekomendasi telah kita lalui di artikel sebelum postingan ini. Langkah selanjutnya setelah analisa dan rekomendasi adalah pembuatan laporan. Laporan dapat disusun berdasarkan semua data dan fakta yang telah kita bahas sebelumnya. Laporan dituangkan dalam Bahasa tulis. Investigator menyususun laporan untuk menggambarkan alur cerita hingga terjadinya insiden, faktor-faktor penyebabnya, akar penyebabnya, dan rekomendasinya.

Ada beragam bentuk form pelaporan insiden yang ada di lapangan namun secara prinsip sama. Pada laporan yang penting alur jelas dan bukti-bukti yang ditunjukkan sangat relevan denga nisi laporan itu sendiri. Jangan menambahkan hal-hal yang tidak perlu dalam laporan, apalagi sangat banyak lampirannya. Laporan yang baik bukanlah dari kuantitasnya namun dari kualitasnya. Buatlah laporan sesuai forma yang tersedia dengan lampiran yang tepat dan jika dibaca orang lain langsung dipahami isinya.

Adakalanya pihak atasan, client atau lainnya meminta investigator untuk mempresentasikan hasil inevstigasi. Ini bukanlah hal berat selama investigator obyektif dalam menjalani proses investigasi. Justru itu adalah kesempatan baik untuk menyampaikan temuan-temuan dan rekomendasi sebagai corrective actions.

Ada presentasi atau tidak, investigator harus bisa mengkomunikasikan temuan-temuan dan rekomendasinya kepada semua level yang ada. Mulai dari pekerja, foreman, supervisor dan manajemen. Tujuannya hanya satu, safety campaign and promotion agar insiden sama tidak terulang kembali. Sampaikan pesan itu secara berulang yang tidak membosankan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.