bayanganSiang tadi puasa terakhir, ini berarti malam takbir. Lepas semua aktifitas kosong pula rongga-rongga rutinitas.

Tak sampai setengah jam selepas buka puasa dan solat magrib di sajadah tua kudengar suara bocah-bocah kecil melangkah memburu isya mendekat ke masjid ini. Langkah-langkah pendek seirama langkah ketiga anak yang selalu kucium bertubi setiap hari. Langkah-langkah yang seperti hadir mengajakku berputar keseluruh jalanan kota bogor sambil mendengar lantunan lafaz berulang Allaahu Akbar. Lantas kalian minta pulang ke rumah dan memanja mengajak bermain kembang api di bebatuan putih depan teras rumah.

Malam berjalan sementara gema takbir terus bersahutan di langit memantul dari satu bintang ke bintang lainnya memendar getaran hingga dibibir ini. Kopi yang kuseruput disudut depan rumah kubayangkan buatan sibungsu dari kalian, sambil kubayangkan pula bersama kalian berbincang tentang esok lebaran tentang sekolahan tentang masa depan. Tak ketinggalan kubayangkan juga sesekali diantara kami tertawa karena selingan canda soal indahnya dunia.

Malam ini bayangan kalian berbicara denganku dan bayanganku berbicara dengan kalian. Sesekali kupangku bayangan kalian dan sesekali kubayangkan memangku diantara kalian. Bayangan demi bayangan mengisi malam lebaran. Dari bayangan ke bayangan membawa kenikmatan sambil bertakbir hingga paling ujung malam.

Bayangan itulah bayangan bersama kalian. Bayangan duniawi yang menuntun diri dalam nikmat kesendirian. Alhamdulillah, kesendirian ini tiada tak bertuan apalagi tak bertuhan. Kusadari betul aku punya bayangan sedang Tuhanku pun punya bayangan. Yaa Hadi, yaa Alim, yaa Khabir, yaa Mubbin, tuntunlah aku dan bayanganku selalu mengarah kepadaMu meski sinar-sinar itu datang dari arah mana saja, sebab dunia dan akhiratku sebagaimana aku berprasangka kepadaMu.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.