RSS
Facebook

Berguru Langsung Kepada Ahlinya

dokKetika sekitar 15 menit lagi jam kerja akan usai, saya dihampiri kawan sekerja, ia seorang dokter wanita lulusan universitas ‘terkeren’ di Indonesia. Ia wanita yang banyak ilmu namun tak sekalipun ia memperlihatkannya dalam suasana yang tak perlu, bahkan nampak seperti orang yang selalu ingin belajar dan terus belajar. Ia sekarang ingin belajar mendalami salah satu bidang dalam agama islam, fiqih.

Dokter itu ingin mendalami bahasa arab dengan maksud mendalami ilmu fiqih. Ilmu fiqih menurut bahasa saya adalah ilmu dalam syariat Islam yang secara khusus membahas persoalan hukum yang mengatur mengenai manusia terhadap dirinya, terhadap lingkungannya dan Tuhannya dengan dalil-dalil bersumber dari Al-quranul Karim, Hadits, ijma’, ijtihad. Ilmu itu sangat penting bagi setiap muslim sehingga ia tahu hak dan kewajiban dirinya sebagai hamba Allah. Nah, ilmu fiqih-lah yang sebenarnya ingin dokter itu pelajari.

Saya katakan padanya bahwa itu kan bisa dipelajari melalui searching di mbah google, ia dengan kalem namun tegas dan sambil menggelengkan kepala “Tidak, aku ingin belajar langsung dengan guru ato orang yang benar-benar menguasai ilmu fiqih”. Jawaban yang sangat mengagumkan bagi saya, saya agak selidik tanyakan padanya, emang kenapa gak dari internet lewat mbah google? Jawaban teman saya yang dokter wanita itu sederhana saja, “Saya sangat teramat sedikit menguasai ilmu fiqih dan ingin be-la-jar. Belajar dari guru yang betul-betul menguasai ilmu fiqih secara langsung, bertatap muka. Bisa bantu?”.

ngaji2Pertanyaan dokter itu sudah saya jawab saat itu juga bahwa saya gak bisa bantu, saya gak tahu dokter itu puas atau tidak atas jawaban saya. Hanya saja, anehnya, kalimat dokter itu masih melekat dibenak saya hingga tengah malam ini, “Saya sangat teramat sedikit menguasai ilmu fiqih dan ingin be-la-jar. Belajar dengan guru fiqih langsung bertatap muka. Bisa bantu?”.

Malam ini malam Jumat, sehabis membaca surat-surat Al-Kahfi, Waqiah, Al-Mulk dan Yaasin, saya mencoba memahami makna dari kalimat terakhir teman wanita saya yang dokter itu. Pertama saya coba merenung bahwa fiqih adalah bagian dari ilmu Islam, Islam itu agama, agama adalah kebutuhan super vital bagi manusia. Manusia adalah lemah dalam semua aspek terutama spiritual dan metafisik, dan pasti membutuhkan kekuatan tempat bersandar kepada kekuatan yang MAHA segalanya, yaitu TUHAN. Untuk mengenal TUHAN dibutuhkan yang namanya agama, menurut Al-Quranul Karim Islam adalah satu-satunya agama yang diridloi Allah Ta’ala. Nah, saya coba pemahaman saya ini dikaitkan dengan kalimat terakhir dokter itu. Pemikiran saya, dokter itu benar-benar merasakan ilmu fiqih adalah penting untuk dunia akhiratnya maka ia ingin mempelajarinya secara tatap muka langsung dengan ahlinya. Ia ingin mempelajari ilmu fiqih bukan dari guru atau sumber yang salah!

Dalam dunia ajar-mengajar makna ‘bertatap muka langsung’ tentu memberikan kepastian bagi kita atas jatidiri si guru dan kepastian melalui kitab apa kita belajar. Selain itu bertatap muka langsung juga dapat memuaskan kita dalam sesi tanya jawab. Yang penting, kita yakin kita tidak sedang salah memilih guru dan sumber!

ngaji2Bagaimana dengan teknologi internet? Kita kan bisa searching ilmu fiqih dari ribuan bahkan jutaan sumber dengan ragam bahasa, hanya satu kata TINGGAL BACA. Namun saya ingat-ingat lagi kalimat terakhir dokter teman sekerja saya di sore tadi, “Saya sangat teramat sedikit menguasai ilmu fiqih dan ingin be-la-jar. Belajar dengan guru fiqih langsung bertatap muka. Bisa bantu?”.

Untuk arus informasi memang dengan internet dunia bisa dalam genggaman tangan kita, namun apakah menuntut ilmu yang sangat penting seperti ilmu fiqih itu bisa dilakukan? Seobyektif mungkin bisa YA atau TIDAK. Tergantung siapa yang belajar dari internet dan dengan siapa (situs mana) kita belajar. Bagi dokter itu mungkin tidak tepat, itu pemahaman saya, kan dokter itu menganggap ilmu fiqih yang dia kuasai masih sangat teramat sedikit dan butuh tatap muka dengan guru.

Saya berfikir, dengan ilmu fiqih yang dikuasainya dokter itu masih perlu KEPASTIAN sumber dari situs-situs yang ada di internet, ia mungkin masih bingung sumber-sumber mana yang bisa dipercayanya? Sebab, zaman sekarang banyak orang bebas ngomong soal agama (khususnya ilmu fiqih) di media sosial, dengan kata lain ‘tahu sedikitpun bisa banyak bicara’ dan melupakan ‘ketahuilah yang kamu katakan, bukan mengatakan yang kamu ketahui’.

Khususnya ilmu fiqih dan umumnya ilmu agama, nampaknya pengajaran secara tradisional atau konvensional yakni secara tatap muka langsung antara pembelajar dan pengajar adalah lebih tepat dibandingkan secara online atau melalui situs-situs. Itulah pemikiran saya kenapa dokter itu memilih belajar ilmu fiqih secara tatap muka langsung. “Bagaimana dok, jika dikombinasikan antara belajar melalui internet juga belajar lewat tatap muka langsung?”

Dokter itu teman kerja saya, masih gadis, anak pedagang sukses, usia 27 tahun, cantik, belum menikah dan belum punya pacar. Anda ingin mencuri hatinya? Curilah hatinya secara baik-baik. Anda tahu bagaimana cara mencuri hati secara baik-baik? Jika belum tahu, saran saya, belajar dan berguru langsung kepada ahlinya.*




Leave a Reply

You might also likeclose
%d bloggers like this: