RSS
Facebook

Berqurban Di Sekolah

qurban-sekolahBerqurban merupakan bagian dari Syariat Islam yang sudah ada semenjak manusia ada. Ketika putra-putra nabi Adam AS diperintahkan berqurban. Selain sebagai ibadah kepada Allah penyembelihan hewan qurban merupakan sarana memperluas hubungan baik terhadap kerabat, tetangga, tamu dan saudara sesama muslim. Semua itu merupakan fenomena kegembiraan dan rasa syukur atas nikmat Allah SWT kepada manusia.

Iedul Adha, Iedul Qurban, Hari Raya Haji begitulah masyarakat sering menyebutnya. Akhir-akhir ini media di Negeri kita “marak” mengenai terkait hewan qurban: soal penarikan iuran qurban di sekolah dan masalah larangan penyembelihan dilakukan di sekolah.

Diyakini pada tahun 2015 kita tetap dapat menyaksikan pihak sekolah-sekolah akan mengerjakan penyembelihan hewan qurban atau pihak sekolah menyerahkan hewan qurban kepada masjid atau panitia qurban atas nama sekolah.

Secara hakekat persyaratan pelaksanaan pemilikan dan penyembelihan hewan di sekolah tidak ada bedanya dengan tempat-tempat umum lainnya seperti di masjid-masjid. Persyaratan itu akan memberikan pengenalan/pengetahuan syariat qurban sejak dini, pembelajaran (edukatif/tarbiyah) bagi masyarakat sekolah yang terlibat terutama bagi anak didik. Hal ini perlu kita apreasiasi, namun tentunya perlu ada hal-hal yang dikritisi dan koreksi untuk kebaikan bersama.

Qurban di sekolah-sekolah dilakukan secara iuran (istilah fiqih: isytirak), yaitu berserikatnya 7 – 10 orang untuk mengumpulkan uang guna membeli sapi atau unta, lalu mereka menyembelihnya sebagai hewan qurban dan masing-masing berhak atas sepertujuh / sepersepuluh dari kurban itu. Hal itu sesuai tuntunan agama, namun tentunya tidak dapat dipenuhi para anak didik dari sisi finansial. Apalagi di tahun 2015 sekarang ini realita yang ada di masyarakat masih banyak yang belum memiliki rezeki untuk berqurban karena harga kambing atau sapi yang semakin mahal (naik hingga 30% dari tahun sebelumnya) sementara kebutuhan hidup terus meningkat.

Melihat kenyataan diatas dilakukanlah sistem iuran untuk membeli hewan qurban (biasanya kambing, harga lebih terjangkau). Penarikan iuran itu syah-syah saja selama penarikan iuran sejalan dengan prinsip keikhlasan dan tidak berbenturan dengan pasal-pasal KUHP.

Permasalahan yang timbul adalah berqurban kambing atas nama iuran (kepemilikan) sejumlah anak didik atau banyak orang dimana secara hukum tidak boleh dan tidak sah, karena tidak ada dalilnya baik dari Alquran maupun Sunnah. Dengan demikian jelaslah bahwa berkurban secara iuran yang dilakukan di sekolah-sekolah dari iuran para anak didik, tidak sah menurut syara’. Hal tersebut mengakibatkan sembelihan yang ada tidak bernilai ibadah qurban, melainkan sembelihan biasa. Ibarat acara bakti sosial, sedekah, atau acara pemberian santunan yang pembagian daging dan waktunya berbarengan dengan hiruk pikuk hari Raya Iedul Adha.

qurban-sekolahhPihak sekolah syah-syah saja jika mengubah cara rencana qurbannya agar sesuai syara’ (dari bernilai sedekah biasa menjadi sembelihan yang bernilai Udhiyah/Qurban). Misalnya dengan mengimbau orang tua murid yang mampu untuk berqurban kambingatau sapi di sekolah.

Cara lain, untuk kambing pembelian hasil iuran dihadiahkan kepada seseorang di lingkungan sekolah misal salah satu anak didik/guru/penjaga sekolah sehingga satu ekor kambing menjadi qurban dari satu orang, bukan qurban dari iuran sejumlah orang. Cuman perlu diperhatikan, sesuatu yang sudah dihadiahkan maka ia menjadi hak sepenuhnya orang yang menerimanya. Kalau toh sekolah berkeinginan agar kambing yang dihadiahkan itu disembelih dilingkungan mereka, paling jauh pihak sekolah hanya bisa menghimbau. Karena hak itu sudah beralih menjadi milik orang yang dihadiahkan. Wallahualam. (Dikutip dari berbagai sumber).*




Leave a Reply

You might also likeclose
%d bloggers like this: