amirAmir, adalah kawan masa kecilku. Ia bernama lengkap Hamir Tarman. Tarman adalah nama bapaknya, tukang becak di kotaku. Amir, begitulah aku biasa memanggilnya. Amir anak sulung dari tujuh bersaudara. Mereka tinggal dalam rumah petak berukuran sekitar 5×9 meter persegi, sempit dan berdinding bilik. Rumah sempit itu hanya terdiri dari secuil ruang tamu, satu kamar tidur, dapur dan kamar mandi. Amir dan adik lelaki pertamanya sering tidur di tajug, karena rumahnya terlalu sempit untuk tujuh bersaudara dan kedua orangtuanya. Tajug adalah sebutan atau istilah di daerahku untuk mushola. Letak tajug tepat didepan rumah orang tuaku.

Saat itu tahun 1982 semester genap, aku duduk di kelas 3 SMP sedangkan Amir di kelas 3 SPG. SPG, kependekan dari Sekolah Pendidikan Guru, setingkat SLTA. Suatu hari di hari Sabtu sekitar jam sembilan malam kudengar sangat jelas Amir memanggil-manggil namaku, dan aku keluar rumah menghampirinya di teras tajug. Rupanya ia mengajak aku menemaninya tidur di tajug malam itu. Samidah, adik lelaki Amir malam itu sedang bermalam di rumah pamannya yang ada diluar kota. Setelah ijin ke bapak-ibuku, aku diijinkan tidur di tajug menemani Amir.

div align=”center”>



Kami sudah didalam tajug, Amir mematikan lampu bagian dalam tajug sedang lampu luar dibiarkannya menyala. Kami berdua mulai rebahan diatas lantai beralaskan tikar jerami. Tiba-tiba kudengar suara tawa Amir, kutoleh kearahnya, ia sedang tertawa sendiri. Aku heran. Jangan-jangan ada hantu yang berani masuk tajug dan mengajaknya guyon.

“Kenapa, mir?!” tanyaku. Lantas Amir menolehkan wajahnya padaku sambil terus berbaring. Kami saling berpandangan. Aku memandangnya dia masih tertawa, tertawa sendiri.

Setelah agak reda tawanya, Amir bangkit dan duduk disebelahku dan dia terlihat seperti ingin menuturkan sesuatu. Kulihat mimik mukanya seperti yang sedang teringat-ingat kejadian yang membuatnya geli sendiri. Kemudian Amir mulai bercerita.

Cerita Amir malam itu, dihari itu waktu paginya sekitar jam setengah tujuh Amir berniat untuk mandi dan pada saat itu juga tetangga kami bernama ibu Susini sengaja bertandang ke rumah Amir dan meminta bantuan Amir. Ibu Susini adalah ibu Kepala Sekolah di SD Kebon Melati 2. Karena Amir begitu hormat kepada tetangga yang berprofesi guru itu maka Amir yang sedang sekolah calon guru menyanggupi tugas yang diberikan oleh ibu Susini.

Ketika ibu Susini telah pergi, Amir melihat tiga adiknya sedang ngantri menunggu giliran mandi, jam sudah menunjukkan 06.45 Wib. Pagi itu Amir putuskan tidak mandi karena di rumah orangtuanya hanya ada satu kamar mandi. Amir hanya sempatkan gosok gigi kemudian pergi ke sekolah SD Kebon Melati 2 untuk menunaikan yang ditugaskan ibu Susini.

amirrrAmir saat pagi itu diberi amanah oleh ibu Susini menjadi guru pengganti. Soal mengurus ijin Amir ke SPG, sekolahnya, adalah urusan Ibu Susini. Kepala Sekolah SPG tempat Amir bersekolah adalah kakak kandung Ibu Susini. Pagi itu, Ibu Susini dan sebagian besar para guru di SD Kebon Melati 2 akan melayat dan berencana menghadiri hingga pemakaman Bapak Mukidin sang mantan Kepala Sekolah Kebon Melati 2 yang meninggal tadi malam.

Pagi itu, Amir ditugasi mengajar paralel di dua kelas, kelas 3 dan kelas 4 dalam tiga jam pelajaran. Di kelas 3 Amir diminta memberi pelajaran menggambar dan di kelas 4 Amir diminta mengajar pelajaran Bahasa Indonesia. Ketika sampai di SD Melati 2, pertama-tama Amir masuk ke kelas 3, dia menjelaskan alasan kenapa pagi itu dia sebagai guru pengganti. Lantas Amir memimpin baca surat Alfatihah untuk almarhum bapak Mukidin di kelas 3 itu.

Setelah pembacaan Alfatihah selesai Amir menjelaskan singkat mengenai kendaraan yang namanya becak. Diakhir penjelasannya Amir meminta seluruh murid kelas 3 membuka lembar kosong buku gambar masing-masing dan menugaskan para murid menggambar “becak” secara bebas. Ketika para murid kelas 3 mulai menggambar becak, Amir berjalan hilir mudik dalam kelas memperhatikan para murid dari deretan bangku terdepan hingga ke belakang. Tiba-tiba Amir merasa padat dibagian perutnya dan harus buang angin ketika berada di lorong antara dua bangku bagian belakang. Amir pun melepaskan angin itu secara hati-hati sekali, dan sangat beruntung suaranya dapat diredam secara sempurna. Amir segera bergegas keluar menuju kelas 4.

amirrSerupa dengan di kelas 3, di kelas 4 itu Amir menjelaskan alasan kenapa pagi itu dia hadir sebagai guru pengganti. Bersama para murid kelas 4 Amir membaca surat Alfatihah untuk almarhum bapak Mukidin. Suara gaduh di kelas 3 terdengar oleh Amir, namun ia tak acuh, ia ingin konsentrasi di kelas 4 itu untuk memberikan tugas kepada para muridnya.

Setelah pembacaan alfatihah di kelas 4 selesai Amir menjelaskan singkat mengenai kendaraan yang namanya becak. Diakhir penjelasannya Amir meminta seluruh murid kelas 4 membuka  buku tulis masing-masing dan menugaskan membuat karangan satu halaman penuh tentang “becak”. Murid-murid kelas 4 mematuhi perintah guru pengganti itu. Amir berjalan hilir mudik beberapa saat mengontrol para murid kelas 4 yang mulai mengarang, dari deretan bangku terdepan hingga ke belakang, bolak-balik. Lagi, tiba-tiba Amir merasa perutnya sakit dan harus buang angin ketika berada di lorong antara dua bangku. Amir pun sedikit demi sedikit melepaskan angin itu secara perlahan dan hati-hati sekali, suaranya lagi-lagi berhasil dapat diredam seperti saat di kelas 3. Amir bergegas keluar dari kelas 4 menuju kelas 3 yang sedang gaduh disebelah ruang kelas 4.

Saat memasuki kelas 3 Amir sangat kecewa, karena para murid kelas 3 yang duduk dibagian belakang semuanya tidak sedang mengerjakan tugas menggambar malah mereka berdiri sambil saling tunjuk.

“Anu, to…” kata Amir kepadaku.

“Mereka, para murid kelas tiga itu sedang ribut soal bau kentut mledek. Mereka saling tuduh bahwa temennyalah yang kentut dan kentutnya bau busuk banget”, sambung Amir dengan wajah sambil tertawa geli namun terus semangat untuk bercerita. Aku tertawa tak henti-henti sambil menunggu apa yang mau diceritakan Amir selanjutnya.

Kata Amir, saat Amir sibuk melerai murid-murid kelas 3 yang sedang saling tuduh, didengar oleh telinga Amir di kelas 4 pun gaduh. Kelas 3 Amir tinggalkan dan bergegas ke kelas 4, namun saat masih di dalam kelas 3 sambil berjalan keluar kelas Amir sempat buang angin lagi.

“Di kelas empat lebih rame, to. Aku ngeliat murid yang badannya gede nyengkeweng murid yang badannya kecil. Mereka saling bertahan bahwa dirinya bukan yang kentut sembarangan dan mereka saling tuduh bahwa temennyalah yang kentut”, kata Amir sambil mempraktekan kondisi murid yang nyengkeweng itu. Saya geli, geli sekali dan tertawa. Tertawa karena cerita dan mimik Amir serta buang anginnya itu lho.

Amir tertawa, akupun lebih dari sekedar tertawa. Kami lama tertawa terkekeh-kekeh.

“Kamu jahat, mir.” Kataku.

“Seharusnya kamu cepet-cepat mengaku di depan murid-murid itu bahwa yang kentut itu pak guru. Kentut kamu, mir. Biar mereka gak saling tuduh!” kataku lagi.

“Jangan cuman berusaha melerai murid-murid yang bertengkar. Harus jujur, jangan bohong!” Aku menambahkan. Amir masih saja tertawa geli.

“To. Aku memang gak mengaku perbuatanku, aku malu. Aku gak jujur sama murid-murid. Tapi kan paginya aku bukan saja gak sempet mandi tapi gak sempet berak juga. Semua itu aku lakukan untuk mereka.”, balas Amir disela tawanya yang nampak sulit sekali berhenti.

“Aku memang gak jujur. Aku bohong, tapi dalam hal ini bohong itu emas kan?!,” retoris Amir. Kami masih tertawa dan terkekeh-kekeh lama.***

 

MA Bagayo
Pinggiran Sungai Ciliwung, Jakarta, 08 April 2016.
Ide cerita pedek (cerpen) ini dari Hamir Tarman (alm), jabatan terkahir sebagai Kepala Sekolah SD Kartini Kodya Cirebon.  Mohon kita baca Al-Fatihah buat Amir teman masa kecilku dan Ibu Susini (mantan tetangga). Syukron; Nyengkeweng = menggenggam kerah baju dengan kedua tangan dan mengangkatnya; Kentut mledek = bau kentut yang seperti telur busuk.
2 thoughts on “Bohong Itu Emas!”
  1. 😀 mukidin jadi figuran :v …. bpk acho critanya udah top markotop lucu :D, cm yang masih bingung letak bohong tu mas di bagian yang mananya bpk acho ^_^

    1. Syukurlah kalo top hardtop markotop lolipop sentolop. Hehehe…. Jk masih bingung, yaaaa itulah yg trjadi spt itu…(?)
      Kunjungin lg and kasih komen, jgn kasih gorengan ya. Moga konten cerpen bermanfaat!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.