WhatsApp Image 2019-02-17 at 01.01.42Tidak kuduga sebelumnya, Muara Enim akhirnya menjadi tempatku mencari nafkah. Aku dulu kuliah di kota Bandar Lampung dan rumah orang tuaku di kota Jambi. Muara Enim saat itu hanya dilewati saja disetiap aku mudik libur kuliah dan sebaliknya.

Pertengahan bulan November 2018 aku mendarat di Bandara Palembang, Sultan Mahmud Badaruddin II. Aku dijemput seorang driver perusahaan tempat baruku bekerja. Kemudian dia mengantarku ke lokasi proyek Lumut Balai yang beralamat di Desa Penindaian, Kecamatan Semende Darat Laut (SDL), Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan.

Setelah urusan itu-ini di Kota Palembang, akhirnya kami berangkat menuju SDL pada jam lima sore. Waktu yang harus kami tempuh dari bandara ke SDL lebih kurang delapan jam.

Kala dini hari esoknya kami tiba di area Simpang Meo dan berhenti di sebuah warung makan yang dijadikan pick-up shelter. Simpang Meo terletak di lintas tengah Sumatera. Di warung ini saya ganti mobil dan driver. Driver kedua inilah yang membawaku ke lokasi proyek Lumut Balai.

Waktu tempuh dari warung tersebut ke lokasi Desa Penindaian, SDL, adalah hingga 2 jam perjalanan. SDL ada di ketinggian 1200 meter diatas permukaan laut.

Aku tiba di company base camp (camp) saat berkumandangnya adzan subuh. Aku merasa sangat lelah, jetleg. Medan jalan yang barusan ditempuh sungguh buruk dan terjal, itulah yang membuatku terasa remuk dan pegal-pegal.

WhatsApp Image 2019-02-17 at 01.20.08Perusahaan tempat bekerjaku sekarang merupakan perusahaan yang bergerak dibidang Engineering, Procurement, and Construction (EPC). Perusahaan ini mengerjakan proyek-proyek konstruksi bidang oil and gas, chemical, infrastructure and power plants, dll. Kebetulan saat ini aku ditempatkan di proyek  Lumut Balai, menggarap geothermal plant alias tenaga pembangkit listrik panas bumi .

Aku sama sekali tak pernah menyangka akan bekerja di tempat seperti ini, diatas bukit yang jauh dari kota dan keramaian. Ini juga adalah kali pertama aku bekerja sebagai dokter perusahaan, yang sebelumnya aku hanya disibukkan oleh pasien-pasien di emergency room rumah sakit tempatku bekerja di Jambi.

Aku memiliki sertifikat pelatihan seperti Advance Cardiac Life Support (ACLS), Advance Trauma Life Suport (ATLS).

Jujur aku menaruh harapan besar kepada perusahaan ini untuk bisa mengembangkan karir di Indonesia bahkan di mancanegara. Aku sangat berharap bekerja disini dapat menjadi milestone untuk menjelajahi dunia dokter perusahaan.

Mimpi besarku saat ini adalah ingin menolong dan membahagiakan sesama manusia, salah satu contohnya adalah dengan membangun rumah sakit gratis bagi anak-anak penyandang disabilitas.

Alasanku ingin membangun rumah sakit gratis bagi anak penyandang disabilitas salah satunya karena keponakan tercintaku adalah penderita cerebral palsy. Penyakit ini merupakan penyakit bawaan lahir yang disebabkan oleh parasit toxoplasma gondii yang biasa hinggap di air liur hewan terutama kucing.

Kembali lagi ke awal cerita saat hari pertamaku bekerja dimana tiba di lokasi camp saat adzan subuh berkumandang. Setelah menerima kunci kamar, aku lantas sholat subuh lalu berkeliling area camp bersama rekan baruku, Maryo. Aku diperkenalkan kesetiap bagian yang meliputi maintenance, house keeping, laundry, security dan kantin.

Alhamdulillah perusahaan ini memberiku fasilitas yang baik dan semua gratis. Mulai dari kamar tidur, laundry, makan tiga kali sehari, dan transportasi.

Selepas keliling camp, pagi itu juga aku bersama Maryo menuju lokasi site office. Jarak dari camp ke site office 15-20 menit dengan medan yang terjal dan berbatu. Sesampainya di site office, aku langsung diperkenalkan Maryo kepada para pimpinan kantor.

Aku melewati beberapa tahapan yang harus dilalui bagi karyawan baru, salah satu yang terpenting adalah safety induction. Ini merupakan pengecekan berkas karyawan sekaligus orientasi regulasi dan lokasi pekerjaan.

WhatsApp Image 2019-02-17 at 01.26.41Pada hari kedua, aku tiba di site office sebelum jam 7 pagi. Easy listening music yang berasal dari pengeras suara kantor mengiringi gerakan-gerakan senam peregangan tubuh khas negeri sakura yang dalam bahasa asalnya disebut Taiso.

Seluruh karyawan melakukan gerakan Taiso setiap pagi sebelum memulai bekerja. Setelah itu dilanjutkan Toolbox Meeting (TBM). Akhirnya saat yang dinanti pun tiba, meski malu dan sedikit gemetar aku dipersilahkan memperkenalan diri didepan seluruh karyawan yang hadir di TBM tersebut.

”Asslamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh, ……… Saya bekerja sebagai dokter di site ini”, ucapku dengan nada yang sedikit lembut.

Mungkin banyak diantara rekan kerjaku di site office yang heran kenapa aku yang bertubuh gemuk dan pengidap morbid obesity bisa menjadi seorang dokter? Mungkin bayangan banyak orang sosok seorang dokter adalah bertubuh ideal, bukan seperti saya.

Di perusahaan ini aku bekerja dibawah Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) Department, yaitu departemen yang bertugas dan bertanggung jawab atas kesehatan, keselamatan, keamanan, dan lingkungan kerja.

Di site office ini ruang kerjaku berada di clinic’s office. Aku dibantu dua perawat dan dua ambulance driver. Waktu kerjanya dibagi dua yaitu pagi dan malam dimana diwaktu pagi aku, satu orang perawat, dan satu ambulance. Pada malam hari aku hanya standby incase emergency di camp.

WhatsApp Image 2019-02-17 at 01.33.22Jobdesk utamaku meliputi daily clinic services, standby incase emergency, weekly hygiene inspection, vital sign examinations, alcohol and drug test for drivers and operators, dan monthly training or healthy talk.

Salah satu yang paling menarik perhatianku adalah monthly training or healthy talk dimana merupakan kegiatan pelatihan atau penyuluhan kesehatan yang dilakukan setiap bulan, karena disinilah aku bisa mengasah kemampuanku untuk berkomunikasi dengan baik dan benar didepan umum. Contoh pelatihan yang sudah tim aku lakukan adalah pelatihan Basic First-Aid Training for Workers dan Basic Life Support and Evacuation.

Salah satu alasanku merasa nyaman berada dilingkungan kerjaku saat ini adalah rasa kekeluargaan yang sangat erat. Mulai dari pemimpin hingga bawahan saling menghormati, menghargai, dan saling membantu satu sama lain.

HSSE adalah departemen yang paling sering mengadakan acara kumpul bersama diluar jam kerja. Mungkin hal ini ditujukan para pimpinan untuk semakin memupuk rasa kekeluargaan agar tetap solid dalam menjalankan tugas di lapangan.***

Penulis: dr. Nur Sidiq Agung Siswanto

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.