Tulisan terkait safety shoes kali ini agak lain dari sebelumnya. Kali ini bukanlah artikel yang mengupas soal safety shoes namun mengungkapkan kejadian-kejadian unik dan lucu seputaran safety shoes yang pernah saya alami dan menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri .

Tulisan lain terkait safety shoes di website ini dapat di cari dengan judul: apa itu safety shoes, disain & material safety shoes, peraturan/perundangan dan standar safety shoes, fungsi dan manfaat safety shoes, pengujian safety shoes, dan rambu-rambu terkait safety shoes.

WhatsApp Image 2020-05-27 at 00.25.13Peran safety shoes di lapangan konstruksi tempat saya bekerja tidak perlu ditanya, ia sangat berperan melalui fungsinya sebagai pelindung kaki para pekerja. Disisi lain, sudah sekian kali saya mendapat laporan kejadian terkait dengan terselamatkannya kaki pekerja dari kejadian yang seharusnya dapat mencederai kaki. Kok bisa terselamatkan? Ya terselamatkan, karena kaki pekerja terlindungi safety shoes. Namun, semua itu adalah bentuk usaha dimana dibarengi dengan kepatuhan para pekerja dalam pemakaian safety shoes secara benar dan tepat.

Pembaca, saya banyak menyimpan cerita lucu terkait safety shoes. Selama ini cerita-cerita lucu itu saya simpan saja didalam batin, bahkan ada yang sudah berpuluh tahun. Bahkan lagi, pelakunya ada yang sudah almarhum.

Rasanya, saya tak mampu untuk terus-menerus  menyimpan cerita-cerita lucu itu lebih lama lagi. Saya ingin mengungkapkan sebagian cerita itu disini, sekarang. Perlu diingat, saya ceritakan sebagian disini bukan untuk mengolok-olok para kolega saya, baik orang kita maupun expat. Niat saya semata untuk menghibur diri saya dan pembaca. Semoga!

Cerita-cerita yang akan saya sampaikan disini bukanlah karangan atau fiksi, namun apa adanya yang terjadi di lapangan dimana saya menyaksikannya langsung.

Sebelum memulai bercerita, saya mempunyai dugaan bahwa cerita-cerita lucu itu dapat terjadi karena ada beberapa faktor yang mempengruhinya:

  1. Situasi bekerja yang under pressure dalam kurun waktu lebih dari tiga bulan.
  2. Ketergesa-gesaan, diburu waktu dengan berbagai alasan.
  3. Masalah umur.
  4. Bakat pikun.

WhatsApp Image 2020-05-27 at 00.20.23Kehilangan safety shoes-1. Hampir disetiap proyek saya mendapat laporan kehilangan sepatu. Ada hilang betulan, artinya bener-bener barang tidak kembali alias hilang selamanya. Namun ada satu kejadian lucu sekali, itulah yang mau saya ceritakan.

Begini, kantor lapangan kami, dimanapun selalu bebas sepatu. Artinya setiap orang yang akan masuk kantor harus lepas sepatu dan ganti sandal. Seorang expat Pak-MP mendatangi meja saya pagi itu dan kami berbincang sangat singkat, sepertinya hanya 1 menit-an. Setelah selesai bincang dia keluar dan saya juga keluar kantor sama-sama menuju lobby, saya ada keperluan  untuk memanggil seorang driver.

Setelah urusan dengan driver selesai lantas saya balik badan untuk menuju ke meja kerja saya lagi, namun si expat Pak-MP masih saja di lobby menghadap rak sepatu sambil seperti ada yang diperiksa.

“Ada yang bisa saya bantu, pak-MP?”, tanya saya.

Ia menoleh kearah saya, “Saya kehilangan safety shoes saya”.

“Lha, yang kamu pakai itu safety shoes siapa?”, tanya saya lagi.

Dia melihat kearah kakinya kemudian kearah saya. Senyumnya mengembang menjadi tertawa, menertawakan dirinya sendiri. Saya sulit menahan tertawa, menertawakan dia yang lupa melepas sepatu saat mau masuk kantor.***

Kehilangan safety shoes-2. Usai lembur malam itu saya langsung hendak pulang bersama dua kawan sekantor. Kami bertiga pulang paling akhir malam itu. Setelah dua kawan mendapatkan safety shoes-nya dari rak sepatu yang berada di lobby, saya mendapatkan sepasang safety shoes bukan milik saya, tapi itulah yang ada. Dibagian belakang safety shoes itu, baik yang kiri mapupun yang kanan diberi inisial SG dengan menggunakan spidol putih oleh pemiliknya. Singkat cerita saya pakai juga safety shoes itu yang sebetulnya sangat risih saat saya menggunakannya, safety shoes bekas orang!

Esok paginya, saya mendapatkan kesempatan memimpin general safety talk. Topik materi yang saya angkat adalah “Lupa tak mengenal usia”.

Diujung materi yang sedang saya sampaikan langsung saya ajak dialog dengan si belia SG.

“Bang SG, kamu kan masih muda. Apa pernah mengalami lupa?”

“Pernah, Pak”, suaranya lantang.

“Lupa apa, kasih contoh”.

“Pernah lupa makan, lupa mandi, lupa….”.

Saya segera potong kalimat SG sambil senyum “Lupa pakai sepatu orang?”

SG tersenyum, dan “Iya pak, kemarin saya pulang cepat dan pagi tadi waktu saya mo pake safety shoes, baru nyadar kalo safety shoes yang saya pake dari kemarin sore itu punya bapak”.***

Lupa simpan safety shoes. Siang itu jam meeting dengan Owner tinggal lima menit lagi. Saya dan atasan saya bergegas mengambil safety shoes masing-masing dari rak yang berada diluar lobby kemudian langsung menuju kearah mobil yang akan mengantar kami ke Owner office. Ternyata hanya saya yang masuk ke mobil, sedangkan atasan saya masih saja mencari safety shoes-nya di rak tersebut.

Melihat hal tersebut saya langsung pijit henpon saya dan kontak sekretaris atasan saya. Tak lama si sekretaris tersebut membawa sepasang safety shoes milik atasan saya dan menyerahkan ke pemiliknya yang nampak masih saja gugup mencari safety shoes-nya.

Saat didalam mobil menuju Owner office, atasan saya berucap, “Saya bangga dengan sekretaris saya, ia selalu membantu saya di saat yang tepat”.

“Maksud bapak, apa ya?!” saya pura-pura tak mengerti.

“Dia itu tahu kalo saya lebih senang menyimpan safety shoes di kolong meja saya daripada saya simpan di rak”.

“Oooo…” jawab saya singkat, seakan itu nggak penting. Padahal dalam hati saya berucap “Aaakh…bapak ini, itu kan berkat saya yang telpon sekrearis bapak!”***

WhatsApp Image 2020-05-27 at 00.04.33Safety shoes yang full color. Setelah inspeksi sepanjang pipeline yang menghubungkan tujuh cluster sumur pengeboran akhirnya saya dan partner dari pihak Owner, bernama Pak-J, beristirahat di warung kopi yang berada diluar area konstruksi.

Saat kami duduk berhadapan di bangku yang ada di warung itu saya melihat hal janggal dan langsung jari telunjuk saya menunjuk ke arah safety shoes yang sedang dipakai Pak-J. Saya lihat mata Pak-J mengikuti arah telunjuk saya dan nampak spontan terkejut tak lama berselang dia tertawa sendiri. Setelah mengerti ceritanya akhirnya kami tertawa bersama. Ternyata sedari tadi Pak-J secara tak sengaja menggunakan safety shoes kiri warna coklat muda sedangkan yang kanan coklat tua!***

Safety shoes buruk tapi masih lebih baik. Sore itu saya merokok di smoking shelter bersama Pak-T, salah satu Owner leader. Hanya kami berdua di smoking shelter tersebut. Ketika kami asyik berdiri dan berbincang sambil merokok datanglah seorang pekerja yang sudah saya kenal namanya. Mata kami berdua tertuju pada pekerja yang baru bergabung dengan kami. Pekerja itu langsung duduk bersila di lantai smoking shelter dan menyulut rokok yang sudah tinggal separuh batang yang ada dibibirnya.

“Itu rokokmu sisa siang tadi, ya?!” Pak-T membuka obrolan dengan pekerja itu dengan nada agak sinis.

“Iya pak, hidup hemat”, singkat dan datar jawab pekerja itu.

“Hidup hemat tapi gak sehat!” kata Pak-T. Pekerja yang keringatnya belum kering di dahi dan wajahnya itu hanya menghela nafas sambil memalingkan wajah dari pandangan kami.

“Kalo merokok disini aturannya harus berdiri, gak boleh duduk kayak gitu”, kata Pak-T lagi. Pekerja itu meski gerakan tubuhnya agak ogah namun berdiri juga menuruti apa yang dikatakan Pak-T.

“Lha, safety shoes-mu bagian depannya sudah menganga kok masih dipake. Kenapa?!!” sambung Pak-T dengan nada meninggi.

Pekerja tersebut langsung mematikan rokoknya dibibir asbak besar yang ada di situ kemudian sambil biji hitam matanya tertuju ke arah kaki Pak-T, ia berkata, “Ya, sepatu saya sudah mangap kayak mulut ikan mujair. Tapi masih lebih baik dari yang bapak pake, satu sandal gunung satu lagi sandal japit. Kaos kaki kanan ama kiri beda warna lagi!”.

Pekerja itu melangkah dan meninggalkan kami berdua. Mata saya menjadi tanpa sadar ikut tertuju pada apa yang ada di kaki Pak-T, betul sekali apa yang dikatakan pekerja tadi. Lantas mata saya memandang wajah Pak-T, kami beradu pandang untuk beberap saat. Nampak merah gelap wajah Pak-T. Mmmh, marah atau malu??!

“Oke Pak-T, saya akan langsung kasih safety shoes baru untuk pekerja tadi”, suara saya memecah keheningan. Saya pamit meninggalkan Pak-T sendirian di smoking shelter itu. Langkah saya agak kaku karena sambil menahan tawa yang hampir meledak karena penampilan kaki Pak-T yang kayak badut yang sengaja ingin mengundang tawa penonton!***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.