supirSeingatku ketika kecil dulu aku begitu menyukai stiker yang berbunyi “Dilarang Bicara Dengan Sopir”. Kenapa aku suka kalimat itu? Entah. Hanya suka saja setahuku.

Berjalan waktu kalimat larangan tersebut yang biasanya ditempel atau berada disekitar duduk pak sopir bus atau pak sopir angkot semakin sirna, setahuku nyaris tak ada kutemui lagi. Kenapa ya? Entah. Hanya itu setahuku.

Kemajuan zaman nampaknya sudah tidak relevan lagi adanya stiker “Dilarang Bicara Dengan Sopir”. Dizaman sekarang para penumpang bus atau angkot malas bicara dengan sopir. Daripada bicara dengan sopir para penumpang lebih mendingan pegang hp ngupdate status di fesbuk, buka google plus, baca novel, maen game atau cari pahala baca quran di hp.

Tapi jangan salah ya, dizaman sekarang para sopir pun malas bicara dengan para penumpang. Para sopir lebih memilih sms-an, ber-BBM ria atau komunikasi via WA dengan anak istrinya atau teman-temannya.

Dizaman sekarang kesimpulannya para penumpang dan para sopir sama-sama sibuk dengan hp-nya masing-masing. Mereka antara penumpang dan sopir memang tidak saling kenal antara satu dengan yang lainnya, tapi tidak menutup kemungkinan mereka saling berteman di dunia maya (dumay): bisa di fesbuk, bisa di google plus atau di medsos dumay lainnya. Karena tidak sedikit orang di dumay terkadang tidak lagi menjaga sebagian privacy-nya, maksudnya, sebagian orang mudah add terhadap orang yang tak pernah dikenalnya. Sebaliknya sebagian orang juga begitu mudah accept / menerima pertemanan dalam dumay ini. Pertemanan dalam dumay ini mungkin bisa saja berdampak positif namun tidak sedikit yang berujung kepedihan dalam hidupnya.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.