RSS
Facebook

Doa Pasca Buka Puasa Bersama

WhatsApp Image 2020-05-16 at 00.15.58Jujur saja, jika tak ada pertimbangan rasa loyalitas terhadap perusahaan tempat saya bekerja rasanya saya ingin sekali tak hadir di acara sore itu. Acara buka bersama dengan teman sekerja.

Sore itu jam empat lewat lima puluh menit, saya di jemput Panji dan Ramdan. Kami bertiga dari Anyer kemudian menuju Cilegon dengan tujuan utama adalah rumah makan SKI untuk menghadiri buka bersama.

Setibanya di rumah makan SKI ternyata sudah ada rekan-rekan disana. Mereka itu Siregar, Soki, Tarigan, dan Iskandar yang sedang bercengkerama duduk lesehan mengitari hidangan diatas meja. Sepuluh menit kemudian datanglah Suril. Ia orang terakhir yang datang dalam acara tersebut. Suril pun duduk mengikuti posisi duduk bersila lesehan.

Suasana pertama sedikit basa-basi sebagai pembuka pertemuan kemudian langsung ke topik pembicaraan yang memang mau diangkat disitu meski unofficial, soal covid-19. Issue covid-19 yang sedang ramai dibicarakan masyarakat Anyer dan Cilegon. Issue itu oleh masyarakat dikaitkan dengan nama Jaka. Siapa sih orang Anyer dan Cilegon yang tak kenal nama Jaka, perusahaan tempat kami bekerja.

PT Jasa Katulistiwa, disingkat Jaka, adalah EPC contractor terbesar di Indonesia. Jaka, bukan nama asing untuk dunia konstruksi di negeri ini.

Semenjak statemen resmi dokter dari rumah sakit lokal sepuluh hari lalu yang mengatakan bahwa tiga karyawan Jaka positif terinfeksi virus corona. Semenjak itu pula rasanya ada pukulan tersendiri bagi kami yang berstatus karyawan senior Jaka. Masyarakat, LSM, berbagai aparat pemerintah terkait dirasa kian waktu kian gencar memburu update status yang kami punya. Maaf, sekarang ini kami seperti pucuk tahi yang kerubungi lalat. Mereka butuh informasi terkait tugas dan profesi masing-masing.

WhatsApp Image 2020-05-16 at 00.15.58 (1)

Tadi, dua jam sebelum di jemput oleh Panji dan Ramdan saya membuka internet dengan fokus membaca topik “hukum buka bersama menurut Islam”. Beberapa website yang dapat saya percaya saya baca habis tulisan mereka. Kemudian saya simpulkan dalam bentuk do-don’t pada tema buka bersama.

Do-don’t dimaknai sebagai ‘yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan’ selama buka puasa bersama. Do-don’t yang sudah saya simpulkan itu saya bawa dihati ke acara buka puasa bersama Panji, Ramdan, Siregar, Soki, Tarigan, Iskandar dan Suril.

Kami berdelapan sebelum adzan magrib duduk-duduk mengelilingi hidangan siap santap sembari bicara soal tiga kawan sekerja yang terinfeksi coronavirus. Tidak ada unsur ghibah sedikitpun.

Saat adzan magrib berkumandang saya dengar bacaan hamdalah bersahutan dari mulut diantara kami. Lantas bersamaan kami lakukan buka puasa dengan yang manis namun bukan kurma, melainkan kolak. Tak sampai tiga menit kemudian Ramdan si anak kampung dari Garut berdiri pertama menuju musolla. Ramdan adalah deputy manager muda yang sulit lelah, tahan banting dan pantang mundur dalam mengerjakan tugas. Nampaknya itulah berkah atau cerminan dari selalu mengerjakan lima solat wajib diawal waktu.

Panji yang setiap hari tak pernah meninggalkan solat duha nampak bangkit dari duduk silanya menyusul di belakang Ramdan menuju musolla. Dibelakang Panji, Soki sang senior dari Madura mengikutinya. Begitupun Siregar si manager muda dengan wajah selalu bercahaya menyatu untuk melakukan solat berjamaah di musolla kecil yang ada di SKI yang begitu luas.

Kami berempat yang masih tinggal duduk di lesehan akhirnya bangkit berdiri untuk solat berjamaah di musolla yang sama di giliran berikutnya.

Kewajiban menunaikan solat magrib usai kami kerjakan. Kami berdelapan sudah kembali dalam posisi mengelilingi meja makan. Akhirnya kami memulai makan nasi beserta lauk-pauk yang tersedia. Hidangan yang ada tak banyak namun cukup.

Saat kami asyik makan, mata saya tak henti memandangi cara makan mereka satu persatu. Suril yang duduk disebelah kanan saya nampak begitu lembut gerakan tiga jari kanannya mengkais dan menjepit nasi menuju kemulutnya, kunyahannya tak menimbulkan suara sedikitpun. Dialah yang tercepat menyetop dan berhenti makan. Sudah cukup kenyang katanya. Saya lihat piring bekas Suril makan sangat bersih dan tak ada sebutirpun nasi tertinggal disana.

Tarigan yang ada disebelah kanan Suril, nampak selalu mengambil makanan hanya yang ada didekatnya. Dia tak sekalipun mengambil makanan yang membutuhkan jangkauan berlebihan. Gerak-gerik mata dan tangannya begitu tenang. Sangat berbeda dengan monyet yang sedang makan kacang ditangannya sementara matanya sudah melirik ke kacang yang lain.

Sementara Soki yang duduk dikanan Tarigan, menciptakan ketenangan diri selama makan. Ia sama sekali menggunakan mulutnya hanya untuk makan dan tidak sambil bicara.

Kanannya Soki adalah Panji, berusia muda sangat ahli lifting and rigging. Ia kandidat salah satu manager di proyek berikutnya. Tak nampak dari bahasa tubuhnya sesuatu yang menunjukkan rakus. Muda usianya namun sangat faham tatakrama.

Sebelah kanan Panji itu Ramdan. Ia kerap menghentikan makannya karena mau tidak mau harus menjawab orang-orang diseberang melalui handponnya. Setelah pembicaraan usai dengan lawan bicaranya, raut wajah Ramdan tak nampak ada rasa mengeluh soal makannya yang terganggu berulang kali. Ia memiliki kesabaran tinggi, mungkin.

Ke kanan dari Ramdan adalah Siregar, pemilik wajah cerah sejak lahir. Dan kecerahannya selalu ia maintain dengan menjaga wudu, begitu kata orang-orang. Saya perhatikan ia sangat selektif memilih apa yang harus dimakan. Ia hanya makan apa-apa yang yang hanya sesuai dengan seleranya.

Kanannya Siregar adalah Iskandar. Orang yang sangat saya kenal, ia selalu menjaga keseimbangan antara asupan dan berat badannya. Tidak sedang diet namun ia tahu apapun yang telah dipindahkan ke piringnya maka ia akan lahap semuanya tanpa sisa, kecuali tulang duri.

Kanan Iskandar adalah saya sendiri, yang sedari tadi makan sembari mengamati dan mempelajari cara makan orang-orang senior diatas saya. Sebagai yang termuda disitu saya memang harus banyak belajar dari mereka. Bukan soal kerja saja tapi juga perbuatan yang mereka tunjukkan termasuk cara mereka makan harus saya pelajari.

WhatsApp Image 2020-05-05 at 22.58.25Dipenghujung acara buka bersama kami sempat ke pembicaraaan soal positifnya virus corona menginfeksi tubuh tiga rekan di Jaka. Kemudian seiring waktu yang kian gelap, Soki, sebagai yang tertua mengingatkan  kami semua perlunya ibadah tarawih meski di kamar masing-masing. Acarapun bubar.

Setelah diantar Panji dan Ramdan saya langsung masuk kamar. Diam menyendiri merenungi pelajaran berharga dari para senior yang ditunjukkan di meja makan barusan. Mereka melakukan buka bersama namun tidak melupakan solat magrib, bahkan tetap diawal waktu setelah puasa mereka batalkan. Sedikitpun tak membicarakan orang diluar yang diperlukan. Kemudian cara makan mereka yang sangat santun.

Masih banyak lagi jika saya tulis satu persatu sisi positif dari mereka yang dijadikan pelajaran buat saya malam ini. Jelasnya saya senang sekali menimba ilmu dari para senior sambil berbuka puasa. Saya merasa harus sebanyak-banyaknya belajar dari orang lain tentang apapun saat mereka berada di meja makan bersama saya. Doa saya malam ini, berpengharapan esok atau setidaknya lusa ada rekan-rekan yang sudi mau mengundang saya untuk berbuka puasa bersama demi bertambahnya ilmu saya. Semoga!***

Cerita fiktif Mr. Amperro. Dari seberang Mambruk hotel, Anyer, Banten.



Leave a Reply

You might also likeclose
%d bloggers like this: