duriano5 orang itu adalah Redho, Haryo, Willy, Dian dan Widhi. Mereka semuanya kelas berat, berat badan mereka masing-masing diatas 95 Kg. Badan mereka semuanya besar. Redho berbadan tertinggi diantara mereka, tingginya mencapai 184 Cm, sedangkan Willy dan Dian berperut buncit namun tingginya hanya 163 Cm.

Mereka berlima benar-benar sedang melepaskan kerinduannya pada buah durian. Mereka secara patungan membeli 25 buah durian seharga 275 ribu rupiah dari Haji Darma. Haji Darma adalah pemilik kebun dengan ratusan pohon durian. Haji Darma juga pemilik kebun karet yang kini menjadi tempat pesta durian kelima orang tersebut.

Mereka berlima pesta durian di dalam gubuk beratap jerami tanpa dinding. Dalam waktu relatif singkat mereka berlima sudah memakan masing-masing dua buah durian, sekarang mereka mulai membelah durian yang ketiga. Saat memakan buah durian yang ketiga kecepatan mereka mulai melambat, mereka mulai kekenyangan. Apalagi satu jam sebelum mereka makan durian itu mereka berlima sudah makan lontong gado-gado di sebuah warung yang ada di dusun itu.

Suasana hening saat mereka tengah asyik makan durian. Mereka semua serius dan fokus makan buah durian, tiba-tiba Redho membuka sebuah cerita. “Temenku dulu ada yang mati gara-gara banyak makan durian”. Nada Redho sangat serius dalam bercerita, empat teman lainnya serius mendengarkan. Kemudian lanjut Redho, “Ia anak rakus. Ia makan durian besar lima buah sendirian aja. Waktu selesai makan buah durian yang kelima ia butuh minum. Ia segera ambil sebotol air minum kemasan yang gak jauh dari ia duduk. Air dalam botol itu langsung diminum, tapi dalam sekejap ia sekarat dan mati karena yang ia minum rupanya racun tikus cair!”. Haryo, Willy, Dian dan Widhi cuman melongo mendengar akhir cerita Redho. Redho melanjutkan dengan kalimat, “Ini ceritaku, mana ceritamu?!”

“Hahahaha…!”, mereka berlima tertawa lepas. Redho tak hanya tertawa lepas tapi juga tertawa puas karena sudah bisa membuat ketawa empat temannya.

Usai derai tawa karena cerita Redho, Haryo merasa terpanggil untuk bercerita juga. “Temen kuliahku juga ada yang mati gara-gara banyak makan durian”. Nada Haryo tak kalah serius dari Redho dalam bercerita, empat teman lainnya serius mendengarkan. Kemudian lanjut Haryo, “Dia anak tamak. Dia makan lima buah durian besar sendirian aja didalam kamar kosnya yang sengaja dikunci dari dalam. Waktu belum selesai makan buah durian yang kelima ada banjir bandang datang menerjang rumah tempat kosnnya. Ia tak sempat membuka pintu kamarnya untuk menyelamatkan diri. Ia hanyut bersama rumah itu dan seluruh kulit durian sialan itu!”. Redho, Willy, Dian dan Widhi cuman melongo mendengar akhir cerita Haryo. Haryo menutup ceritanya dengan kalimat, “Ini ceritaku, mana ceritamu?!”

“Hahahaha…!”, mereka berlima terbahak tertawa lepas. Haryo tak hanya tertawa lepas tapi juga tertawa sangat puas karena sudah bisa membuat cerita tandingan dari cerita Redho sebelumnya.

Gerakan tangan mereka kian melambat, kunyahan mereka pun tak lagi lahap. Sebenarnya mereka sudah mulai kekenyangan namun mereka terus paksakan melahap manisnya buah durian. Dalam kondisi kekenyangan, Willy yang berperut buncit giliran membuka cerita. “Temenku dulu juga ada yang mati gara-gara banyak makan durian”. Nada Willy sedih dengan maksud ingin menunjukkan ceritanya itu benar-benar terjadi, empat teman lainnya serius mendengarkan. “Ia anak yang serakah. Ia makan lima buah durian besar sendirian aja. Ia makan durian tepat dibawah pohon durian terbesar dan terlebat di sebuah kebun durian. Waktu belum memulai makan buah durian yang pertama, tiba-tiba ada buah durian sebesar kepalanya yang jatuh dari atas pohon tepat mengenai kepalanya dan langsung tak sadarkan diri selamanya!”. Redho, Haryo, Dian dan Widhi cuman melongo mendengar akhir cerita Willy. Willy melanjutkan ceritanya dengan kalimat yang sama dengan para pendahulunya, “Ini ceritaku, mana ceritamu brow?!!” ujar Willy dengan memelototkan mata sambil menolehkan wajahnya ke wajah Dian.

durian“Hahahaha…!”, mereka berlima terkekeh-kekeh tertawa lepas. Willy tak hanya tertawa lepas tapi juga tertawa puas karena sudah bisa membuat  terkekeh-kekeh empat temannya meski semua temannya dalam kondisi kekenyangan.

Perut mereka sudah sangat kekenyangan namun mereka terus melanjutkan dengan buah durian yang keempat. Gerakan mereka sangat amat melambat, tapi Dian masih mampu membuka mulutnya untuk bercerita. “Temenku dulu juga ada yang mati gara-gara banyak makan durian”. Nada Dian sangat berat sebab perut buncitnya sudah padat terisi lontong gado-gado dan buah durian, meski demikian ia tetap bisa serius bercerita sedangkan empat teman lainnya serius mendengarkan. “Temenku itu anak yang kemaruk. Ia makan durian besar lima buah sendirian aja. Ia makan durian di kebun durian pinggir hutan, tepat dipuncak sebuah lereng. Waktu habis makan buah durian yang terakhir ia mengantuk dan tertidur. Waktu tertidur tiba-tiba badannya menggelinding menuruni lereng dan jatuh bebas ke jurang bebatuan kali berarus deras. Ia mati terkapar diatas sebuah batu!”. Redho, Haryo, Willy dan Widhi cuman melongo mendengar akhir cerita Dian. Dian mengakhiri ceritanya dengan sambil tertawa bangga, “Hehehe, ini ceritaku. Mana ceritamu?!” kata Dian sambil melirik dan menyolek perut Widhi.

“Hahahaha…!”, mereka berlima tertawa lepas. Dian tak hanya tertawa lepas tapi juga tertawa sangat puas karena masih punya cerita untuk mengimbangi cerita-cerita sebelumnya.

Widhi yang dilirik dan dicolek Dian seakan tak peduli, ia terus melanjutkan makan buah durian yang kelima. Dian dan tiga teman lainnya menoleh kearah Widhi, Widhi tetap tak peduli. Redho, Haryo, Willy dan Dian akhirnya saling berpandangan yang seakan-akan sepakat dan berkeyakinan bahwa Widhi tak mampu bikin cerita lucu secara spontan seperti mereka.

Suasana hening. Mereka tetap mengunyah. Gerakan mereka sangat lambat sekali. Mereka semua sangat kekenyangan. Perut mereka nyaris tak ada rongga untuk air dan udara. Lontong gado-gado dan buah durian sudah menyesakkan rongga-rongga perut mereka. Mereka berlima sudah susah untuk bangun berdiri, meski demikian mereka terus saja mulutnya mengunyah dan mengunyah. “Makan durian, terus mati. Itulah cerita kalian”, suara Widhi yang meski datar tapi mengejutkan keempat temannya.

“Kematian itu takdir,” lanjut Widhi. Sementara teman-temannya yang sedang berjuang menghabiskan masing-masing buah durian kelima sangat serius mendengarkan apa yang dikatakan Widhi. Tak terasa sedikit demi sedikit mereka dihinggapi rasa kantuk. Kantuk yang disebabkan kenyang yang berlebihan.

“Aku bukan gak suka cerita humor, banyolan, ato cerita lucu. Waktu kalian semua selesai cerita, aku juga ikut tertawa. Sekarang, aku sedang gak kepingin cerita soal kematian seseorang apalagi dikaitkan dengan makan durian. Aku hanya ingin menyampaikan bahwa menurutku kita-kita ini sedang mengerjakan apa-apa yang tidak disukai oleh Tuhan,” kata Widhi lagi sambil tangan kanannya meraih jidatnya kemudian kelingkingnya berulang gerak maju-mundur menggaruk rasa gatal diatas jidatnya yang sudah mulai tak ditumbuhi rambut lagi. Redho menguap lebar begitupun yang lainnya, mereka menguap berulang kali silih berganti sambil mendengarkan coletah Widhi.

“Kita sedang mengerjakan apa-apa yang tidak disukai Tuhan. Apa maksudnya, bro?”, tanya Dian yang di-amin-i Redho, Haryo dan Willy.

“Tuhan itu gak suka orang yang makan berlebihan, Tuhan itu gak suka orang yang berkata dan tertawa berlebihan. Kalian tahu itu?!”.

Tak seorang pun menjawab pertanyaan Widhi. Redho, Haryo, Dian dan Willy menguap panjang bergantian. Suara menguap dari mereka berempat terdengar beberapa kali di telinga Widhi namun Widhi tak peduli dan tetap meneruskan coletahnya sambil sesekali menjilati jemarinya yang masih blepotan oleh sisa-sisa durian.

kuburan“Semua yang bernyawa pasti akan mati. Itu sudah ketentuan Ilahi. Akankah kita mati sebentar lagi setelah kekenyangan makan durian?? Oohhh, kita termasuk orang-orang yang merugi,” suara Widhi masih datar saja, mungkin karena ia pun sudah merasa sangat kekenyangan dan terserang rasa kantuk yang begitu berat. Sesekali ditelinganya mulai terdengar dengkuran bersahutan dari sebagian teman-temannya yang sudah tertidur, sedikitpun ia tak peduli dengan suara dengkuran dan ia terus bercoletah. Sementara semilir angin di kebun karet Haji Darma menggelayutkan beban berton-ton dikelopak mata mereka yang masih setengah terjaga termasuk Widhi. Dunia pun tiba-tiba redup seredup-redupnya di mata mereka semua, gelap. Semua tertidur.

Semilir angin membawa aroma durian keseluruh penjuru kebun karet, sementara dengkuran mereka berlima yang bersahut-sahutan seakan mengabarkan kepada pemilik langit dan bumi agar segera menurunkan malaikat Izrail. Akankah semua mereka bisa terbangun kembali dari tidurnya atau salah satu dari mereka akan menjadi cerita nyata bagi mereka yang lainnya bahwa teman mereka mati setelah makan durian?*

Cerpen fiktif, karya M.A. Bagayo, Penindaian SDL – Camp nomor 11, Jan 2017. (Jika terdapat kesamaan dengan tokoh dalam cerita ini maka hanya kebetulan belaka).
3 thoughts on “Durian Di Kebun Karet”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.