ExecExcavator yang telah lulus uji periksa (inspeksi) berarti excavator tersebut telah dinyatakan layak operasi, artinya excavator tersebut dapat dioperasikan. Excavator yang dinyatakan layak operasi setidaknya telah menurunkan potensi kemungkinan terjadinya kecelakaan atau kerugian yang disebabkan kegagalan karena excavator itu sendiri pada saat pengoperasiannya. Ingat hanya menurunkan kemungkinan terjadinya kerugian, ini menunjukkan bahwa masih ada bahaya (hazards) yang dapat menyebabkan terjadinya kerugian atau kecelakaan meskipun excavator telah dinyatakan lulus inspeksi. Bahaya-bahaya apa itu?

Bahaya pengoperasian excavator dapat muncul dari sebab-sebab seperti akibat salah dalam menerapkan kontrol dan buruknya traffic management.

Berikut adalah potensi-potensi bahaya pada saat pengoperasian excavator, dari resiko paling ringan hingga fatality, yaitu disaat:

  • Bergerak (moving). Pergerakan excavator berpotensi menabrak orang / pejalan kaki (pedestrian) terutama saat bergerak mundur.
  • Berbelok / memutar (slewing). Excavator sering sekonyong-konyong bergerak memutar yang berpotensi menjebak / menggencet seseorang antara excavator dan struktur atau kendaraan / benda tetap lain.
  • Sedang bekerja (working). ketika bucket bergerak atau attachment lainnya dapat berpotensi menabrak / membentur / menyerang seseorang atau pejalan kaki atau juga ketika bucket secara tidak sengaja jatuh terlepas dari excavator.

Dari pengalaman di lapangan bisa jadi korban akibat hal-hal diatas adalah crew dari excavator itu sendiri misal pemberi aba-aba (signaller).

Pengendalian bahaya saat excavator beroperasi

Berdasarkan observasi dan mempraktekkan di lapangan bertahun-tahun berikut adalah hal utama dalam pencegahan untuk mengendalikan potensi bahaya dalam pengoperasian excavator:

  • execcPemisahan (segregation). Aktifitas orang atau pekerja lain harus dijauhkan dari area kerja operasi excavator. Pemisahan dengan menggunakan batas (barriers) yang tepat, warna mencolok dan diketahui / dipahami para pekerja disitu. Kenyataan membuktikan kematian dapat terjadi akibat area operasi excavator berdekatan dengan aktifitas pekerja lain, atau sebaliknya.
  • Jarak aman (clearance). Memperhitungkan ketika excavator melakukan slewing di area yang terbatas. Berikan jarak aman setidaknya setengah meter bagian excavator terhadap struktur atau benda-benda terdekatnya.
  • Jarak pandang (visibility). Pastikan jarak pandang sang operator excavator pada posisi terbaiknya. Jika diperlukan dibantu oleh signaller atau signalman, atau alat bantu yang berfungsi membantu operator dapat melihat sekitar dengan maksimal.
  • Pemberi aba-aba (signaller). Apabila itu sebuah keharusan maka signaller / signalman harus disediakan untuk kelancaran dan keselamatan kerja. Pastikan posisi signaller pada posisi yang aman dan tepat sesuai fungsinya.

Pengendalian bahaya operasional excavator dapat dilakukan juga dengan melakukan pelatihan (training) kepada mereka yang terlibat dalam pengoperasian tersebut:

  • Operator. Merupakan pemeran utama dalam pengoperasian excavator. Ia harus terlatih yang dapat dibuktikan dengan sertifikat sebaga operator, SIO (surat ijin operator) yang masih berlaku.
  • Signaller. Pembantu utama operator ini pun harus terlatih, kompeten dengan pekerjaannya. Memahami gerakan-gerakan excavator, memahami pekerjaan yang sedang dikerjakan dan memahami persyaratan aspek keselamatan pada pekerjaan itu.
  • Pekerja lain. Sosialisasi dan instruksi pada aspek keselamatan kerja terkait area operasi excavator merupakan satu kesatuan dalam tindakan peniadaan bahaya & resiko (kecelakaan kerja).***
2 thoughts on “Excavator: Operational Hazards & Controls”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.