dhefffffGoresanmu adalah kebahagiaanmu yang sontak tersentak tak berdetak seperti angin yang tiba-tiba terhenyak tak bergerak karena rongga antara laut dan langit tersumbat dahak. Tidak pohon, tidak daun, tidakpun dahan semua tertahan, berhenti diam dan hening. Senyap seperti aliran air yang sulit mengalir terlihat membasah tanpa bekas kemudian sirna tanpa sebelumnya tampak dimata.

Goresanmu adalah diatas kertas, meski hanya satu lembar tapi maknanya begitu luas tak terbatas dan tak pernah cukup tuntas meski tujuh malam dibahas. Nyanyian kebahagiaan burung-burung kala menjelang pagi diujung-ujung pepohonan rimba yang tak pernah tersentuh tangan manusia masih tak sebahagia goresan diatas kertasmu itu. Meski goresan kertasmu tertinggal disitu, kupercaya kebahagiaanmu tak hanya sampai disitu.

Goresanmu diatas kertas itu tak perlu disimpan didalam aquarium apalagi lemari es sebab meski hanya kertas ia tak termasuk flammeable material yang bisa mudah terbakar dan hangus. Api sangat rakus terhadap kertas tapi api sangat takut terhadap jejak jemarimu yang menggores tegas diatas kertas itu. Biarlah kertas itu disimpan saja disitu sebab dahak penyumbat rongga antara laut dan langit suatu saat akan mengencer bersama hujan sewaktu-waktu atau pada tiba waktunya akan gusar bahkan kocar-kacir disambar halilintar yang menggelegar.

Goresanmu yang diatas kertas itu biarkan saja disitu sebab ia adalah sebagian dirimu dalam rindu dan doaku yang disetiap hening malam selalu menggebu mencari sebuah pintu.*

Sajak karya M.A. Bagayo, episod TerjepitPintu, GangMulyaII/69, Agustus 2015.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.