SDI sriwijaya1Hari Jumat tanggal 3 Februari 2017 lalu, jam 09.30 Wib, saya (sekolahajadotcom) harus hadir di SD Islam Al-Azhar Sriwijaya Palembang. Menurut jadwal saya jadi guru tamu di sekolah itu. Ketika dalam perjalanan menuju alamat sekolah tersebut saya membayangkan akan bertemu dengan wajah-wajah lucu seusia anak saya yang kedua dan ketiga.

SDI Al-Azhar Palembang mulai beroperasi di tahun 2013. Sekolah ini dibawah naungan yayasan  Al-Azhar Sriwijaya Palembang. Sejak beroperasinya sekolah ini memiliki seorang konsultan berpengalaman yang turut membesarkan Al-Azhar Bumi Serpong Damai – Tangerang, Kamaludin Makmun.

Pada tahun 2017 SDI Al-Azhar Sriwijaya memiliki murid dari kelas 1 hingga kelas 6 dengan total sebanyak 120 anak. Jumlah guru 14 orang dimana 13 guru sebagai guru tetap, sehingga satu kelas dipegang oleh dua guru.

Pagi jam sembilan, kedatangan saya di SD tersebut disambut oleh salah satu guru, Pak Aan Anshory. Beliau membawa saya ke ruang Kepala Sekolah, Ibu Paula Damayanti, SPd. Sayang sekali, Ibu Kepala Sekolah sedang ada tugas luar.

Hari itu, Pak Aan mengagendakan saya menjadi guru tamu untuk kelas 5 saja. Singkat cerita, saya memasuki kelas 5. Kelas 5 memiliki 9 siswa, 5 putri dan 4 putra. Saya sapa anak-anak kelas 5 itu dan mereka memberi respon hangat, suasana pun santai. Pak Aan dan saya mempersiapkan laptop dan proyektor, sementara anak-anak kelas lima tersebut bercanda diantara mereka.

SDI sriwijaya11Persiapan selesai, layarpun sudah terang benderang bertuliskan judul presentasi saya yaitu CITA-CITA. Tanpa saya duga anak-anak kelas 5 itu tiba-tiba berdiri dan salah satu dari mereka memberi aba-aba rekan-rekannya untuk memberi salam kepada saya, saya jawab sesuai salam mereka. Setelah basa-basi sebentar kami saling berkenalan. Saya memperkenalkan nama saya dan saya beritahu bahwa saya itu siapa, lantas mereka balik memperkenalkan mereka secara bergantian. Dari cara mereka memperkenalkan diri, saya melihat mereka adalah anak-anak yang mudah mengenal orang dan enteng dalam berkomunikasi dengan orang baru seperti saya.

Saya memilih materi ‘cita-cita’ karena hal tersebut perlu ditanamkan sejak dini agar mereka memiliki sesuatu yang akan dituju dalam hidupnya. Meski saya tahu bahwa cita-cita bagi seusia anak kelas lima bisa saja memiliki cita-cita lebih dari satu atau bisa berubah seiring berjalannya waktu.

Apa itu cita-cita? Mereka diam sejenak kemudian salah satu dari mereka mulai menjawab “Impian”, yang lainnya menyambung “Tujuan hidup”, kemudian disahut yang lainnya lagi “Keinginan”, lantas lainnya ikut menjawab “Harapan”. Mereka anak-anak cerdas dan tanpa ragu dalam menjawab, seperti tak peduli dengan jawaban itu akan salah atau benar.

Apa cita-cita kalian? Jawaban mereka beragam. Hanya 3 anak yang menjawab bercita-cita ingin menjadi dokter dan pengusaha, cita-cita yang sangat umum bagi usia anak-anak. Jawaban lainnya unik karena jarang terdengar oleh saya yaitu ada yang menjawab ingin jadi “programmer”, ada yang bercita-cita saya ingin mesantren di Salatiga, ingin jadi “guru”, ingin jadi “arsitektur”, sedang 1 murid masih bingung ingin jadi apa, dan satunya lagi mengaku secara terus terang belum punya cita-cita.

Setelah saya menyampaikan betapa pentingnya cita-cita dalam hidup ini, saya bersiap-siap akan lanjutkan untuk slide berikutnya yang menampilkan beragam profesi. Sebagian profesi yang akan ditampilkan tersebut adalah yang biasa diminati anak-anak dalam bercita-cita sedangkan sebagiannya lagi adalah profesi yang sedang ‘hangat’ terkait suhu politik nasional yang ada di Ibukota. Sebagian lainnya lagi hanya ‘selingan’ atau canda saya yang sengaja saya tampilkan, dimana itu bukan sebuah profesi seseorang. Sengaja saya tampilkan untuk melihat respon audien yang masih anak-anak.

SDI sriwijaya111Ragam profesi saya tampilkan di layar satu persatu dalam bentuk teks. Profesi-profesi tersebut adalah polisi, tentara, guru, olahragawan, presiden, menteri, camat, lurah, pedagang, jadi orang kaya, insinyur, ketua MPR, ketua MUI, ketua RT, Ustadz, Kiyai, Ulama, pilot, dokter, bidan, perawat, anak soleh, meneruskan sekolah, masuk syurga.

Anak-anak kelas 5 SDI Al-Azhar dingin saja saat teks polisi, tentara, olahragawan, presiden, menteri, camat lurah, ketua MPR, ketua MUI, ketua RT, pilot, bidan dan perawat saya tampilkan. Respon mereka paling banter hanya sebatas “Mmmmmhh, gak ahh pak!”.

Tapi berbeda respon mereka saat saya tampilkan teks ‘guru’ sebagai cita-cita. Anak yang paling gemuk langsung menunjuk temen ceweknya yang menurut dia paling pintar di kelas 5 tersebut. Anak-anak lainnya tertawa sepertinya menyetujui sianak gemuk itu.

Ketika slide saya lanjutkan dengan teks “Pedagang” sebagai salah satu cita-cita, mereka hampir berbarengan memberikan komentar sambil satu sama lainnya saling menertawakan komentar mereka sendiri. Kelas menjadi ramai, mereka lepas tertawa. Mereka menertawakan komentar mereka sendiri. Melihat mereka tertawa, saya jadi sangat kangen dengan anak-anak saya sendiri!

Saya lanjutkan lagi dengan teks “Jadi orang kaya”, mereka pun berkomentar namun tak ada satupun yang berkata saya mau jadi orang kaya. Saya biarkan mereka saling komentar bersahut-sahutan. Akhirnya hening.

“Ustadz” saya munculkan di slide berikutnya, serempak 8 anak menunjuk ke anak cowok yang mau mesantren. Anak cowok yang ditunjuk rekan-rekannya diam dan kemudian mengangguk setelah saya tanya “betul?”. Mereka menunjuk ke anak yang mau mesantren juga ketika saya tunjukkan teks “Kyai” dan “Ulama”. Meskipun demikian saya lihat anak laki-laki dari mereka yang menunjuk ke anak yang mau mesantren itu, sepertinya, punya rasa tertarik juga untuk menjadi seorang Kyai atau Ulama. Itu yang saya baca dari raut wajah mereka. Semoga benar.

SDI sriwijaya1111Giliran saya tampilkan teks “Anak soleh”, semua spontan hampir serempak menjawab “sayaaaaaa! Saya mauuuuu!”. Mereka semua menginginkan dirinya menjadi anak soleh. Saat itu saya berfikir, tugas orang tua merekalah yang berkewajiban mendidik dan membibingnya menuju apa yang mereka inginkan.

“Meneruskan sekolah” sebagai cita-cita, mereka semua tertawa setuju tanpa banyak komentar. Meski demikian mereka belum bisa menjawab cepat ketika saya tanya “Rencana mau meneruskan SMP mana?”, kecuali satu anak yang memiliki niat untuk mesantren di Salatiga.

Pilihan cita-cita terakhir yang saya tampilkan “Masuk syurga”, semuanya menjawab kurang lebih “Mauuuuu!” dengan penuh semangat dan antusias. Mereka riuh menyuarakan bahwa dirinya pingin masuk syurga.

Saya kemudian menampilkan dua kata-kata indah dari almarhum Bung Karno yang mantan RI1, yakni “Sungguh miskin seorang manusia yang tidak punya cita-cita atau suatu bangsa yang tidak punya cita-cita” dan “Gantungkan cita-cita mu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang”. Mereka membaca kata-kata indah itu dan saya biarkan sekitar 3 menit. Kemudian saya jelaskan makna kata-kata indah itu dengan kalimat-kalimat seusia mereka. Harapan saya, mereka menjadi termotivasi untuk memiliki cita-cita yang kuat dan selalu berusaha keras untuk meraihnya.

SDI sriwijaya11111Sebagai penguat dari profesi-profesi yang saya tampilkan di layar, saya pun menampilkan gambar-gambar seperti seperti Dr. Boyke, Tentara (TNI AD) yang gagah sedang berbaris, sosok seorang guru ditengah murid-muridnya, DR. KH. Ma’ruf Amin, Susilo Bambang Yudoyono, Aa Gym, pengusaha yang bergelimang uang dolar, siswa-siswi dengan baju seragam SMP dan SMA.

Saya dan anak-anak kelas 5 tersebut sepakat, jika ingin meraih cita-cita, apapun cita-cita kita maka kita harus meneruskan sekolah ke jenjang SMP, SMA, Perguruan Tinggi. Perbanyak doa, rajin ibadah, dan taat terhadap orang tua and guru.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.