ujang bustomi4Pandemi Covid-19 yang melanda dunia termasuk Indonesia telah memaksa penduduknya untuk stay at home alias di rumah saja. Hal ini dimaksudkan untuk memutus rantai penyebaran coronavirus.

Lantas apa yang dilakukan orang-orang selama di rumah saja? Banyak yang bisa dilakukan selama di rumah saja, namun sebagian mengeluhkan akhirnya jenuh juga karena monoton dan terlalu lama.

Mudah ditebak, salah satu kegiatan selama diberlakukan ‘di rumah saja’ adalah mengaktifkan smartphone dan menyaksikan film atau menjadi pemirsa youtube berjam-jam.

Belakangan ini dunia per-yutub-an di Indonesia disemarakkan oleh aksi kalangan santri yang keluar dari sarangnya. Salah satunya adalah Ustad Ujang Busthomi dari Cirebon.

Nama Ustad Ujang Busthomi (Kang Ujang) memang menjadi lebih dikenal dari sebelumnya setelah viral karena sering ‘silaturahmi’ ke dukun-dukun dan beruntun ‘tanpa ampun menaklukkan’ para praktisi perdukunan.

Di kesempatan kali ini sekolahajadotcom tidak akan banyak mengulas tentang sepak terjang Kang Ujang di dunia gaib. Namun artikel ini lebih cenderung sekedar meng-hilight yang tak jarang diucapkan Kang Ujang di video-videonya.

Kang Ujang yang juga pemimpin padepokan Anti Galau di Kabupaten Cirebon ini berulangkali mengingatkan melalui akun youtube-nya tentang keutamaan solawat dan istigfar agar terhindar dari rasa takut kepada selain Allah.

Berikut yang sering diingkatkan Kang Ujang dengan bahasanya adalah ‘semua setan belek’ itu tidak perlu ditakuti ‘kepret’saja. Artinya, bahwa mereka semua adalah juga makhluk Allah tak ada yang perlu ditakuti secara berlebihan.

Ustad Ujang selalu mengawali videonya dengan salam dan solawat kemudian coletah dan banyolan khas beliau. Ini pun penting dijadikan pelajaran bahwa orang yang terlihat tegang biasanya karena ilmu yang dimilikinya pas-pasan.

ujang bustomi3Ketenangan yang ditunjukkan Ustad Ujang menunjukkan bahwa beliau benar-benar pasrah dengan ilmu yang ada pada dirinya dan pasrah atas pertolongan Allah.

Kita ambil pelajaran lain dari Ustad Ujang Busthomi yaitu beliau mencintai kota kelahirannya, Cirebon. Hal ini bisa dilihat dengan nama beliau yang disandingkan nama kota kelahirannya dibelakang nama beliau. Pernah menemui seseorang tak mencintai tanah atau kota kelahirannya?

Semoga siapapun kita dalam men-syi’ar-kan solawat dan Islam selalu diberikan jalan kemudahan dari Allah SWT. Wallahu alam bisowab.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.