RSS
Facebook

Kenapa Tulisan Dokter Jelek

obatKenapa tulisan dokter itu jelek kayak cakar ayam, gak bisa dibaca secara mudah? Anehnya sesama dokter bisa saling mengerti terhadap tulisan diantara mereka, begitupun para apoteker dapat dengan mudah memahami dan bisa menterjemahkannya menjadi benda dalam bentuk obat. Wow, adakah konspirasi antara para dokter dengan para apoteker? Adakah hal-hal yang dirahasiakan agar pasien gak tau?

Sebenarnya gak usah mikir yang aneh-aneh dech. Dulu, bapak saya yang sudah almarhum pernah menduga bahwa di fakultas kedokteran ada mata kuliah cara menulis jelek, pernah juga bapak saya itu berfikir bahwa tulisan itu bertujuan untuk kerahasiaan agar pasien tidak tahu. Saya sendiri akhirnya sempat berfikir seperti yang diduga dan dipikirkan oleh bapak saya.

Waktu saya masih sekolah SD hingga SMA tulisan saya termasuk yang dikagumi para guru dan teman-teman. Tulisan saya bagus, indah dan rapih. Namun apa yang terjadi dengan tulisan saya setelah saya menjadi seorang dokter? Jadi jelek. Jelek sekali!

Sedikitpun tidak terbayangkan oleh saya, tulisan saya yang tadinya selalu bagus, indah dan rapih ternyata lambat laun berubah menjadi jelek seperti sekarang ini. Kenapa ya bisa berubah?

Inilah penyebab tulisan para dokter itu jelek. Ketika saya dibangku kuliah fakultas kedokteran begitu banyak materi kuliah yang diajarkan oleh para dosen, kadang tanpa teks book, sang dosen berbicara panjang lebar tanpa henti. Jika sudah banyak materi dan dosen nyerocos tanpa henti maka saya tulis apa yang perlu ditulis dengan cepat. Tak terasa tulisan saya yang cepat akhirnya seperti asal tulis sampai berlembar-lembar folio, tulisan yang bagus, indah dan rapih pun lama-lama berubah. Lama-lama (bertahun) terbiasa juga dalam perubahan tersebut.

Kebiasaan saat kuliah itu terus terbawa sampai masa KOAS (Coass = Co-Assistant), dimana saya harus menulis status pasien yang tidak bisa di bilang sedikit yang panjangnya bisa berlembar-lembar, apalagi jika saya harus menulisnya ketika jam-jam ayam akan berkokok atau pada saat semua orang menikmati mimpi. Alhasil, tulisan saya ini hanya bisa di baca oleh diri saya sendiri, atau oleh sesama rekan sejawat yang tulisannya tak kalah jeleknya, atau petugas rumah sakit yang terbiasa dan hafal dengan tulisan saya.

Bagaimana kalau misalnya kamu-kamu pergi ke seorang dokter sebagai pasien kemudian menerima resep dokter tersebut yang tulisannya kayak cakar ayam? Apakah anda akan protes? Tidak juga kan?! Saya yakin kamu-kamu akan menerima saja lembar resep tersebut dan membawanya ke apotek/apoteker tanpa menanyakannya apa isi resep tersebut apalagi bertanya detail.

Sudah lazim seorang dokter akan mengedukasi pasiennya dengan memberitahu obat apa yang akan diberikan, berapa kali pemberiannya, sebelum makan atau sesudah makan, dan kemungkinan efek sampingnya. Kamu-kamu tak perlu membacanya sendiri kan?!

Bagaimana dengan pendapat awam yang mengatakan ada pesan/kode terselubung di dalam resep dokter?Hmmm,..saya tidak membantah bahwa memang ada kode khusus antara dokter dan apoteker dalam hal ini. Akan tetapi kode-kode tersebut hanya digunakan untuk kepentingan tertentu. Misalnya ketika harus meresepkan obat bius, bukankah obat bius tidak boleh digunakan sembarangan? Maka dibuatlah semacam kode/pesan yang hanya dimengerti oleh dokter dan pihak farmasi (steganography).

Kesimpulannya, tidak ada maksud apa-apa dari seorang dokter ketika menulis resep dengan tulisan jelek. Anggap sajalah dokternya kurang punya jiwa seni atau anggap saja si dokter kamu itu sewaktu sekolah nilai menulis indahnya selalu buruk sehingga terbawa sampai menjadi seorang dokter.

Percayalah, tidak ada niat terselubung dari seorang dokter kepada pasiennya. Kalaupun ada yang tidak dimengerti oleh pasien, syah-syah saja kamu bertanya pada doktermu itu, sampai puas dan sejelas-jelasnya.*

(dr. Heleni Mirana).



Leave a Reply

You might also likeclose
%d bloggers like this: