koasSudah pernah dengar kata KOASS (baca:koas)? Sebagian kamu mungkin familiar sebagian lagi mungkin belum familiar dengan istilah tersebut. Ingat koas, bukan kaos. Deskripsi saya koas itu adalah makhluk setengah dokter. Tempat kerjanya seperti dokter, alat kerjanya seperti dokter, tulisannya ‘jelek’ seperti dokter, bergaya layaknya dokter, tapi belum boleh bertingkah seperti dokter.

Yup, koass singkatan dari ko-assisten (co-assisstant), adalah seorang mahasiswa sarjana kedokteran yang menjalani magang di Rumah Sakit pendidikan/ Rumah sakit Umum yang memiliki jejaring dengan Fakultas Kedokteran tersebut.

Dalam menjalani siklus profesi sebagai dokter muda/koass, diberikan waktu kurang lebih sekitar 18 bulan (atau lebih), dan harus melewati beberapa bagian di RS pendidikan mulai dari bagian jiwa, bedah, anak, dan sebagainya.

Sudah saya tulis diatas bahwa koas adalah mahasiswa sarjana kedokteran, yang berarti untuk menjalani siklus koas ini, seorang mahasiswa harus sudah lulus sarjana kedokteran dan mengikuti yudisium sarjana kedokteran. Masa pendidikan sebelum mendapatkan gelar sarjana kedokteran adalah 7 semester yang disebut masa pre-klinik, dan sudah bisa ditebak, kalau klinik adalah masa dimana mereka bersekolah di RS alias magang.

Sebagian sarjana kedokteran, pada masa koas dianggap masa yang amat menyedihkan, menakutkan, membuat stress, menjadi keset rumah sakit, menjadi tempat sampah luapan kemarahan siapa saja. Pada saat koaslah rasanya badan menjadi zombie, tak terawat dan muka berjerawat, sujud syukur ketika bisa tidur 2 jam sehari, dan teriak bak orang gila ketika bisa tidur sampai 4 jam sehari, malam minggu adalah malam terpanjang dan teromantis karena harus bersanding terus dengan rumah sakit pendidikan.

Masa paling beruntung ketika mendapat dokter baik hati sebagai pembimbing atau masa tersial di dunia ketika seorang dokter paling ditakuti menjadi dokter pembimbing kita, itu menurut pengalaman saya lho. Namun pada saat telah terlewati dan menjadi seorang dokter, masa koas adalah masa yang mengharukan sekaligus menggelikan, banya cerita lucu yang bisa membuat kita nyengir sendiri bila mengingatnya, ingin selalu mengingatnya meski tak perlu mengulanginya.

Sebelum masa koas, kami harus mengikuti ujian terlebih dahulu. Ujian berupa tertulis, praktek dan kemampuan klinik dasar. Jadi percayalah seorang dokter muda yang sudah dinyatakan lulus artinya itulah kenyataannya bahwa secara sistem mereka sudah dianggap berkompeten sebagai dokter muda.

Namun koas belum dapat bertanggung jawab sepenuhnya terhadap pasien. Mungkin inilah yang melegakan para pasien. Jujur saja, pengalaman masa SMA dulu saat saya sakit dan didatangi oleh seorang dokter muda alias koas, saya takut dan berfikir macam macam ”hadaahh…anak kecil yang belum lulus,,ngerti gak nie sama penyakit ini?”

Seorang koas intinya adalah belajar, namun ada dokter asli yang bertanggung jawab terhadap pasien tersebut, koas tidak menuliskan hasil rekam medis di buku pasien, melainkan dibuku rekam medisnya sendiri, sebagai acuan untuk didiskusikan oleh dokter asli nantinya. Keputusan sepenuhnya ada di tanggan dokter asli tersebut. Sebelum memulai masa klinik nya pun, koass berjanji pada Tuhan YME…potongan janjinya seperti “Saya tidak akan melakukan atas tanggung jawab sendiri kegiatan pengobatan, pemberian keterangan, ataupun menerima imbalan dalam hubungan dengan penderita karena pada hakekatnya memang saya belum mepunyai wewenang dan kemampuan untuk hal tersebut selama menjalani program pendidikan ini.”

Nah secara keilmuan koas memang belum kompeten untuk bertanggung jawab atas kesehatan seorang pasien, namun sudah memiliki berkompetensi untuk melakukan pemeriksaan dan hal-hal lainya. Jadi please, gak usah takut ketika koas yang memeriksa kamu, gak usah marah ketika kamu menjadi salah satu pembelajaran bagi mereka, karena mereka butuh anda berperan sebagai pasien, sebagi penggali ilmu, sebagai tempat penambah keahlian, sebagai guru mereka. Toh, bukankah semua dokter asli sebelumnya pun menjalani masa koas ini!*

(Dr. Heleni Mirana, Jakarta)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.