kcg DdNycaTITA kecil berusia 5 bulan, ia gemuk, lucu dan benar-benar menggemaskan. Pertama kali saya melihatnya, saya langsung jatuh hati padanya. Tak kuasa untuk tidak menggendongnya, memeluknya dan mendekapnya. Hanya saja dia langsung berontak.

Yap,Tita adalah nama seekor kucing Persia. Berbulu tebal dan hidung agak pesek. Tita baru saja diadopsi, tapi kok Tita kecil bertingkah mengkhawatirkan. Tidak mau makan, nyumput (ngumpet, sembunyi) di kolong-kolong dan tempat sepi, juga mata terus berair seperti menangis, Ya Allah,…..kenapa Tita??

Khawatir banget, sore hari saya dan sibungsu membawa Tita ke dokter hewan yang kebetulan tak jauh dari rumah. Dokternya cantik dan pastinya penyayang binatang. Terlihat dari cara nya memperlakukan Tita…… dan sukses Tita tidak berontak ketika di gendong ibu dokter.

“Kita periksa dulu ya?” kata dokter cantik berjilbab itu. Baiklah, saya tertarik dengan kata katanya ‘periksa’ nya ibu dokter itu. Bagaimanakah cara meng-anamnesa seekor kucing, apa diagnosanya, lalu macam mana obat diberikan?

“Kita ukur suhunya dulu ya….”, dengan lihai dokter Santi Erika mengambil thermometer yang saya perhatikan sama persis dengan thermometer yang saya gunakan ketika mengukur suhu tubuh pasien saya. Saya fikir, apakah diletakan diantara kaki depannya Tita (seperti di ketiak???), oooww ternyata thermometer di letakan di dubur si Tita. OK, Tita demam, suhunya 40oC.

“Ha, panas sekali dok?!” Kaget saya hampir berteriak.

“Ga dong bu, hanya demam, karena dia berdarah panas, suhu normalnya 39oC, itu bedanya dengan manusia yang suhu normal tubuhnya 37oC”.

Kemudian dokter Santi cek mata Tita, matanya berair tanda ada iritasi pada matanya (oh sama dengan manusia juga ya, saya pikir Tita menangis).

Kata dokter Santi itu lagi, karena Tita baru saja pindah rumah maka hormone kortisol pada Tita sedang tinggi, Tita akan diam, tak mau makan dan mencari ketenangan dengan bersembunyi di tempat sepi. Ohhh, ternyata kucing punya hormone kortisol yaitu hormon yang secara alami diproduksi di kelenjar adrenal. Kortisol membantu mengontrol metabolisme, mengatur tekanan darah dan meningkatkan fungsi sistem kekebalan tubuh yang baik, selain itu stress  juga membuat si hormone yang satu ini meningkat.

Nah karena Tita demam, diagnosisnya adalah mungkin ada virus atau bakteri dalam tubuhnya, jadi Tita diberi antibiotik. Lagi-lagi antibiotik yang sama dengan yang kadang saya berikan pada manusia (pasien saya), namun dengan ukuran yang berbeda 0,8 ml saja 2 kali sehari setelah makan. Vitaminnya pun sama dan cukup 0,5 ml saja. Tetes matanya 1 tetes saja sehari.

Ternyata antara hewan dan manusia tak berbeda. Hewan punya hormone pemicu stress, punya hormone kebahagiaan (endorphin), punya rasa sedih, takut dan khawatir.

Dua hari setelah dari dokter hewan, Tita sudah bisa ceria. Makan banyak dan tidak bersembunyi di kolong kolong. Senang bercanda dan berlari-lari. Tapi ketika saya gendong, terdengar suara seperti hipesekresi bronkus…suara grok grok seperti orang ngorok. Aduuhhhh, jangan-jangan Tita kena penyakit yang berhubungan dengan paru paru ni. Sore harinya saya dan sibungsu pun kembali bawa Tita ke dokter Santi.

“Hahaha bu, Tita sedang bahagia. Suara grok grok ini tandanya kucing senang atau bahagia, ketika hormone endorphin-nya lepas, maka akan terdengar suara grok grok…tandanya dia sedang bahagia bu!”

“Ohhhh….”, gumamku disambut senyum sibungsu.

Nah yang punya kucing, ga usah takut, jijik atau khawatir kalau ada suara seperti ngorok ketika menyentuh atau mengendongnya, itu tandanya dia sedang bahagia!*

dr. Heleni Mirana

You tube: Sibungsu-dan-Kucing-Peliharaan-di-Surrabaya

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.