Musim hujan mulai tiba, udara sejuk, angin yang bertiup terasa segaar di sore itu. Suara anak-anak tetangga samping rumah asyik bermain air meski derasnya hujan telah reda….….lantas kudengar agak sayup ajakan lembut sang bapaknya anak-anak itu “Chiaraa, dheeef…. ayo cepat mandi, masuk angin nantii…!!”.

hujanoMasuk angin, dalam istilah medis @$*&^%@$%. Yap, gak bisa dijelaskan. Cobalah pergi ke dokter yang terdekat sekarang dan katakan pada dokter itu, “Saya masuk angin, dok”, pasti dech dokter yang bijaksana itu akan tersenyum.

Tapi kenapa orang tua jaman dulu sangat percaya dengan perihal masuk angin ini?! Biasanya, jika mengikuti resep yang turun menurun sejak jaman dulu maka para orang tua akan punya pasangan kata dari ‘masuk angin’ yaitu kerokan.

Apa sebenarnya masuk angin itu??

Masuk angin sebenarnya bukan angin yang masuk kedalam tubuh, melainkan pembuluh darah di kulit mengalami penyempitan karena otot kekurangan oksigen sehingga terjadi nyeri. Penyempitan pembuluh darah ini bisa terjadi salah satunya karena terpaparnya kulit pada udara atau angin dingin yang berlebihan, sehingga kulit bereaksi dengan cara mempersempit pembuluh darah. Penyebab utama udara atau angin dingin yang berlebihan misalnya karena terlalu lama di ruangan AC, bermain hujan-hujanan, cuaca yang dingin, dan lainnya. Penyebab lainnya adalah terlalu banyak tertawa, salah makan, kurang buang angin alias kentut, atau karena terlalu lelah.

Penyempitan pembuluh darah ini bisa juga terjadi kalau badan kita kurang gerak. Hal ini wajar, karena penyempitan pembuluh darah sebenarnya adalah mekanisme tubuh untuk menjaga agar tidak terjadi pengeluaran kalori berlebihan dari tubuh, tapi hal ini justru bikin peredaran darah menjadi kurang lancar. Akibatnya, hasil metabolisme berupa asam laktat terakumulasi pada otot sehingga terasa pegal-pegal, atau nyeri. Rasa tidak enak badan pun kerap tercipta dikarenakan kurangnya nutrisi yang beredar ke seluruh tubuh. Selain itu akibat gangguan metabolisme ini bisa menyebabkan asam lambung meningkat.

Lalu bagaimana dengan kerokan??

Tahu kan yang namanya kerokan? Kerokan, secara ilmu biologi molukuler terjadinya suatu reaksi inflamasi atau radang dengan segala respon yang mengikutinya seperti perubahan diameter vaskuler (pembuluh darah), migrasi sel darah putih (leukosit) dan pengeluaran mediator inflamasi seperti IL-1 beta, Clq, C3, Beta endorfin dan PGE2 (faktor pertumbuhan tulang).

Kerokan juga memberikan rangsangan pada keratinosit dan endotel atau lapisan paling dalam pembuluh darah yang akan bereaksi dengan munculnya propiomelanokortin (POMC). POMC merupakan polipeptida (gabungan asam amino) yang kemudian akan dipecah dengan hasil akhir salah satunya adalah Beta endorfin (hormon yang dikeluarkan otak saat stress). Karena itu biasanya orang yang habis kerokan akan merasa nyaman, tenang, atau merasa segar karena efek si morfin alami tubuh ini.

Dibagian tubuh mana kerokan dilakukan??

Paling pas kerokan dilakukan di tubuh bagian belakang yakni punggung, karena punggung adalah pusat syaraf terpadu dengan pembuluh darah paling panjang dan menyebar. Posisi kerokan adalah miring kiri dan kanan, yaitu mengikuti arah syaraf menuju kulit.

Umumnya orang setelah selesai kerokan, minum air hangat kemudian mengistirahatkan tubuhnya barang sebentar serileks mungkin. Diharapkan tubuh akan kembali segar.

Kerokan adalah terapi turun temurun dari jaman dulu yang dilakukan para leluhur kita di Indonesia. Bisa saja sebelum Gajahmada lahir sudah ada ‘kerokan’ di bumi Nusantara ini. Apakah Mahapatih Gajahmada pernah masuk angin dan melakukan kerokan? …..Ohh, maaf, aku tak tahu kalau soal itu.*

Helen M

         

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.