lautze3Melalui website ini kita telah mengetahui keberadaan Masjid lautze Jakarta Pusat baik fisik juga keunikannya. Masih ingat apa saja keunikannya? Kalo saya bilang, ada seribu keunikan di masjid yang satu ini. Kalau kalian lupa keunikannya apa saja, baca lagi aja part-1 dan part-2 nya.

Masjid Lautze ini setiap hari buka selayaknya masjid-masjid yang sering kita jumpai namun unik, lagi-lagi unik, setiap jam 16.30 Wib masjid akan ditutup. Lho, gak menyelenggarakan sholat magrib dan isya berjamaah donk?! Ya, kabarnya begitu. Itu kata beberapa orang disana dan saya gak pernah berada disana disaat jam magrib maupun jam isya. Sebaiknya kita check saja langsung ke masjid Lautze ini hehe…., itu sih jika kita tersedia waktu. Bagaimana dengan sholat subuh?

Jika jam 16.30 Wib tutup, berarti Masjid Lautze Jakarta Pusat ini sepi jamaah dan gak ada kegiatan? Oo, tidak. Masjid ini ramai menurut saya, Insya Allah bukan saja ramai secara kwantitas tapi ramai (bagus) juga secara kualitasnya. Apa saja kegiatannya?


Kegiatan-kegiatan

Kegiatan masjid Lautze yang terletak di jalan Lautze antara lain, selain sholat berjamaah termasuk sholat Jumat adalah pengajian rutin diakhir pekan, hari Sabtu dan Minggu. Saya pernah mengikuti pengajian rutin dihari Sabtu ba’da dzuhur ada acara yang namanya ‘tafakur’.  Tafakur adalah sebuah perenungan secara penglihatan, menganalisa, kemudian meyakini sedalam-dalamnya secara pasti untuk mendapatkan keyakinan terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan Allah. Tafakur ini akan meningkatkan tauhid dan iman kepada Allah Subhanahu Wata’ala berdasarkan akal pikiran dan perasaan. Sesi tafakur ini sebagian besar yang hadir adalah para mualaf, mualaf keturunan Tionghoa maupun pribumi pria maupun wanita. Sesi tafakur ini dilakukan di masjid Lautze lantai 4, dibawakan oleh usatdz Budi.

Kegiatan lain adalah pengajian di hari Minggu sekitar jam 09.00 Wib yang dilakukan di lantai 1. Pengajian yang dihadiri ibu-ibu ini lebih ramai dari ‘tafakur’ yang hari Sabtu. Kegiatan pengajian ini kemudian disambung dengan ceramah oleh ustadz atau ustadzah, yang hadir di acara ini tidak hanya ibu-ibu tapi juga para kawula muda baik wanita maupun pria termasuk bapak-bapak. Lantas dilanjutkan sholat dzuhur berjamaah kemudian sebagian jamaah makan siang bersama dilantai 3, sebagian lagi langsung pulang.

Apakah ada kegiatan lain? Silahkan kalian berkunjung saja ke jalan Lautze….hehehe…

 

lautze3-25thMilad 25th

Pada hari Sabtu tanggal 9 April 2016 lalu, pengurus masjid Lautze meyelenggarakan tasyakuran milad yayasan YHKO dan pendirian masjid tersebut yang ke-25.

Saya datang diacara milad tersebut ketika acara tengah berlangsung, saat itu sedang pembagian hadiah untuk tingkat anak-anak. Dari MC saya bisa tahu bahwa telah diadakan beragam lomba buat anak-anak muslim seperti, lomba menggambar, lomba mengahafal surat-surat pendek, lomba menghafal doa sehari-hari dan lain-lain.

Pada tingkat dewasa ada juga lomba, yakni iqro dimana kriteria penjuriannya bukan pada umumnya sari tilawah, tapi yang menjadi penilaian adalah ‘semangat’ belajar mengajinya. Peserta tingkat dewasa ini adalah mereka para mualaf. Oh ya kalian tahu kan apa itu mualaf?

Acara tasyakuran milad tersebut dilaksanakan di lantai satu masjid dan penuh dikunjungi hadirin dan hadirot, tua dan muda. Sungguh sangat menarik mata dan hati saya ketika saya melihat berseliweran para panitia milad masjid Lautze Jakarta ini adalah para saudara kita keturunan Tionghoa. Ee, ada satu panitia keturunan arab. Panitia mudah saya kenali, mereka berkaus putih dan tulisan khusus. Sebagian besar panitia memakai kaus panitia, kecuali penerima tamu. Video acara tasyakuran berdurasi 4 menit bisa kalian putar dibawah ini.

Penerima tamu adalah muslimah muda berkulit putih nan cantik dengan bungkus baju muslimah nan indah. Disamping penerima tamu ada semacam stan penulisan nama-nama pengunjung dengan huruf kanji, ya kaligrafi Cina sih orang menyebutnya.

Acara milad selain dihadiri Ko Ali (haji Muhammad Ali Karim Oei, putra bungsu pendiri yayasan YHKO) juga dihadiri oleh tokoh nasional yakni KH Ali Yafie mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI). Tokoh Nahdatul Ulama yang putra Parepare ini juga pernah duduk sebagai anggota dewan penasihat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Nampak hadir juga KH Zein, mantan pengurus masjid Besar Istiqlal, Jakarta.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.