Begitu banyak yang ingin saya sampaikan tentang keunikan masjid Lautze ini, namun alasan apapun saya harus mencukupkannya dalam 4 (empat) postingan saja. Ya, sampai part-4 saja dan habis. Ini adalah postingan terakhir untuk masjid Lautze. Di postingan terakhir ini saya akan share bahwa para pengunjung masjid Lautze ini bukan masyarakat biasa saja melainkan ada artis, para tokoh dan pejabat Negara serta tamu Internasional. Siapa sajakah mereka?

Salah satu yang tak bisa saya lupakan selepas menghadiri tasyakuran milad YHKO di masjid Lautze adalah kaligrafi Cina. Kenapa?

Milad 25th & Kaligrafi Cina

l A Kursi

Sejak saya kecil saya biasa saja jika melihat aksara dan tulisan Cina. Saya kecil sering melihat tulisan Cina itu misalnya dikemasan obat-obatan seperti pak pung oil (PPO), obat nyamuk bakar (yang spiral lho!), puyer bintang toedjoeh, dan masih banyak lagi. Namun, sungguh, sekali lagi sungguh, sungguh saya merasa senang sekali waktu melihat langsung saudara kita yang keturunan Cina menorehkan aksara demi aksara Cina (Hanzi) dengan menggunakan kuas dan tinta hitam diatas kertas membentuk kata atau nama. Kenapa saya merasa senang melihat sang kaligrafer Cina saat menorehkan kuasnya diatas kertas? O, mungkin karena saya pehobi membuat lukisan cat minyak dimana sudah hampir 10 tahun tak pernah melukis lagi diatas kanvas.




Saat diacara tasyakuran milad YHKO ke 25 di masjid Lautze sang kaligrafer duduk diatas kursi dihadapan meja panjang yang diatasnya tersedia segulung kertas putih buram, beberapa kuas beragam ukuran, sebotol tinta hitam, semangkok tinta hitam dan semangkok air jernih. Sebotol dan semangkok tinta hitam itu tentunya bukan hendak diminum sang kaligrafer, namun sebagai bahan untuk ia berkarya. Sang kaligrafer nampak sekali sedikit bicara banyak bekerja. Ia hanya menerima coretan nama dengan huruf latin dari pemesan/pengunjung, misal si pemesan bernama “Raisa Indrasunu” maka sang kaligrafer akan menuliskan ulang nama itu namun dalam aksara-aksara Hanzi. Supaya saya sedikit cerita, yuk kita lihat saja aksi sang kaligrafer tersebut dalam video berdurasi 2 menit dibawah ini.

Tamu Masjid Lautze

Selayaknya masjid, sebagai tempat ibadah, tidak ada satupun akan pernah ditemui larangan tamu atau musafir tertentu dilarang mengunjunginya begitupun masjid Lautze ini. Siapapun bisa datang dan mengunjunginya, apalagi tertera nama ‘Lautze’ yang bermakna ilmu atau bijak. Jadi siapapun yang datang kesitu menurut saya sudah merupakan keputusan bijak dan niat untuk mencari atau untuk membagi ilmu.

lautze habibieKalian perlu tahu bahwa masjid Lautze di kampung pecinan Pasar Baru ini bisa dibilang masuk kategori berukuran kecil, tapi masjid ini bukan menjadi masjid biasa lagi. Ini unik. Lagi-lagi unik, ya unik karena tercatat ada artis, beberapa tokoh dan pejabat negara serta pejabat Internasional pernah berkunjung ke masjid ini. Saya perlu share soal beberapa tamu penting masjid ini disini. Siapakah para tokoh dan pejabat tersebut?

Tahun 1994, Prof. BJ Habibie, sebagai Ketua ICMI, ceramah agama dan meresmikan masjid Lautze ini.
Tahun 1994, H. Surjadi Sudirja, Gubernur DKI, sholat Jumat.
Tahun 1995, Ribbi Awad, Duta Besar Palestina, sholat Jumat.
Tahun 1996, Tun Abdulrahman Ya’cob, mantan Menteri Pendidikan Malaysia dan menjabat Gubernur Serawak.
Tahun 2006, SBY (Soesilo Bambang Yudoyono), Presiden RI. Beliau disitu berdialog dengan para tokoh ormas Islam seperti NU dan Muhammadiyah dan lain-lain. Pak Presiden sempat melakukan solat Magrib berjamaah disitu.
Tahun 2006, Dr. Selim Cafer Caratasi, Executive Director Islamic Development Bank.
Tahun 2006, Jenderal HR Hartono, KASAD, sholat Jumat.
Tahun 2008, 37 orang delegasi Pegawai Majelis Taklim Agama Islam Negeri Johor, Malaysia.
Tahun 2008, M. Nuh, Menteri Komunikasi dan Informasi.
Tahun 2010, Patrialis Akbar (Menteri Hukum & Perundang-undangan) bersama Din Syamsuddin (Ketua Umum PP Muhammadiyah), Tajuddin (seorang Dubes), dan Pontjo Sutowo (pengusaha). Dubes Tajuddin saat itu sebagai Khotib dan Imam sholat Jumat.
Tahun 2010, Hj Dorce Gamalama, artis.
Tahun 2011, Tifatul Sembiring, Menteri Komunikasi dan Informasi, menjadi Khotib dan Imam sholat Jumat.

Masih ada beberapa tokoh nasional lagi yang pernah berkunjung ke masjid ini namun setahu saya karena sering berkunjung maka tak perlu saya tulis lagi seperti KH Ali Yafie.

Nah, habislah sudah bahan postingan masjid Lautze di website ini. Oh ya, kapan kalian akan berkunjung ke masjid Lautze Jakarta? Apa kalian menunggu jadi Pejabat Negara terlebih dahulu?***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.