Mm11Namanya masjid Merah, terletak di wilayah Kotamadya Cirebon. Nama merah ini secara historical tidak ada hubungannya dengan :

  • Tentara merah milik Russia (Krasnaya Armiya, yaitu tentara merah buruh dan petani) yang pertama dibentuk oleh kaum Bolshevik selama perang saudara Rusia pada tahun 1918.
  • Tentara merah Jepang Nihon Sekigun atau Japanese Red Army ā€“ JRA (militan komunis) yang dibentuk di Libanon pada tahun 1971.
  • Lapangan merah tinanmen di China, tempat demo pimpinan mahasiswa setempat pada tahun 1989.
  • Laut merah, yaitu laut yang memisahkan benua Asia dan Benua Afrika. Laut dimana menyimpan kisah kebesaran Allah SWT, saat laut terbelah oleh media tongkat Nabi Musa AS dan menenggelamkan Firaun beserta pasukannya.




Masjid ini dinamakan merah karena bangunan masjid ini berwarna bata merah. Masjid ini pertama kali dibangun pada tahun 1480 oleh imigran dari Baghdad – Irak yang dipimpin oleh Syarif Abdurrahman pada tahun 1480. Wow, sudah sangat tua bukan?! Dan dari tahunnya tidak ada hubungannya dengan tentara merah Rusia, tentara merah Jepang, lapangan merah di China maupun masa nabi Musa AS.

Syarif Abdurraman ini dikenal pula dengan nama Pangeran Panjunan. Pangeran ini dalam catatan sejarah berguru kepada Sunan Gunungjati.

By the way bagaimana di kota kalian, tahun berapa masjid tertua di kota kalian dibangun? Pernahkah orang tuamu mengajak kalian solat berjamaah disana?

Mm7Sejak pertama dibangun ukuran Masjid Merah Cirebon ini 40 persegi saja. Saat itu disebut tajug sebelum disebut masjid setelah diperluas menjadi 150 meter persegi. Tajug adalah atap berbentuk piramidal atau limas bujursangkar, dimana dasarnya segiempat samasisi dan memiliki satu puncak. Atap tajug umumnya di Asia Tenggara di gunakan sebagai tempat suci atau cungkup sebuah makam. Tajug juga merupakan sebutan tempat ibadah sebagaimana kita kenal istilah surau, wong (orang) Cirebon sangat familiar dengan sebutan tajug.

Arsitektural masjid ini dominan mengadop gaya budaya yang berkembang di Cirebon saat itu yakni gaya India/Hindu dan Cina. Ciri khas arsitektural Arab bisa dikatakan tidak ada kecuali pada bagian mihrobnya. Gaya Hindu terdapat pada gaya gapura pintu gerbang, pengaruh China seperti adanya piring atau porselin model China yang menempel di dinding-dinding masjid bagian dalam. Konon piring-piring itu merupakan sebagian hadiah kala pernikahan Sunan Gunungjati dengan gadis China yang bernama Tan Hong Tien Nio.

Mm9Masjid merah Cirebon tanpa adanya dinding depan maupun daun pintu masuk. Sebelah utara untuk ruang wudlu dan toilet, sebelah selatan untuk ruang solat wanita sedangkan di bagian tengah untuk jamaah pria.

Pada masjid ini tidak terdapat podium atau mimbar karena masjid ini tidak digunakan untuk solat Jumat ataupun Ied, ia hanya digunakan untuk tempat pelaksanaan solat 5 waktu saja.

Letak masjid terletak di tengah kota Cirebon, tepatnya di belakang area pertokoan Karanggetas dan di tengah perkampungan Arab. Posisi tepatnya di jalan Kolektoran no. 43, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kodya Cirebon.

Bila kalian punya waktu ke Cirebon, silahkan berkunjung dan melihat keunikan arstektural masjid Merah ini, jangan lupa rasakan juga makanan khas Cirebon yang ada di Panjunan tak jauh dari masjid yakni mie koclok!***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.