RSS
Facebook

Melatih Anak Berani Tampil dan Berbicara Di Depan Umum (Bagian – 2)

Baca Bagian – 1

Perangai orang tua dalam mendidik anak

Berani tampil1Orang tua adalah pelukis bagi anak-anaknya. Anak-anak adalah kumpulan kanvas yang terbentang didepan mata orang tuanya dan kuas orang tua tersebut setiap saat dapat menggoreskan bentuk dan warna apa saja diatasnya.

Usia anak tentu dibawah usia dewasa, jika ia diibaratkan sebuah lukisan maka bentuknya belum tampak dan catnya pun masih basah. Jangan biarkan coretan hitam suram dapat mengotori kanvas itu. Coretan hitam suram tidak selalu berasal dari orang lain, bisa jadi dari pelukisnya itu sendiri. Bisa salah satu atau kedua orang tualah yang telah menggoreskannya. Oh, betapa sedih jika ada orang tua yang telah menggoreskan warna hitam suram diatas kanvas-kanvas itu.  Jika tidak sengaja si orang tua melakukannya maka segera perbaiki dengan membersihkannya, pun jika si orang tua melakukannya secara sengaja maka bersihkanlah secepatnya sebersih-bersihnya. Membersihkan goresan hitam suram pada sebuah lukisan yang masih basah catnya adalah lebih sulit dan lebih beresiko dari pada menjaga kanvas tetap suci bersih sesuai bentuk dan warna lukisan yang diharapkan. Tak ada kata lain, demi amanah, orang tua harus menjadi pelukis yang baik bagi anak-anaknya.

Dibawah ini ada beberapa contoh, meskipun hanya contoh namun berikut adalah hal-hal buruk yang paling sering secara sadar ataupun tidak sadar dilakukan para sebagian orang tua. Namanya juga contoh, sehingga tidak terbatas pada yang disebut dibawah ini:

1. Menciptakan rasa takut pada anak. Si ibu atau bapak untuk memenuhi ambisi dirinya (bisa jadi untuk tujuan kebebasan orang tua dalam perbuatan maksiat) dengan sengaja dan memaksa menanamkan rasa takut pada anak agar anak tidak memilih suatu pilihan yang dibenarkan oleh umum bahkan agama.

2. Memberikan informasi yang salah kepada anak, dengan maksud untuk memenuhi ambisi orang tua.

3. Melarang tanpa alasan jelas. Misal, si ibu/bapak melarang anaknya bergaul atau berteman dengan anak tertentu tanpa memberikan alasan yang jelas.

4. Memberikan contoh pada si anak hidup boros, berfoya-foya dan berbohong. Misal, si ibu sering meminta uang belanja tambahan pada si bapak sedangkan si ibu dimata anak jelas-jelas membelanjakannya tidak sesuai dengan yang dikatakan si ibu pada sang bapak.

5. Mengajarkan bohong kepada anak. Kebohongan diciptakan untuk menutupi kesalahan (bahkan kesalahan fatal) orang tua.

6. Memanjakan anak berlebihan. Misal si bapak melakukan ‘balas dendam’ dengan selalu memberikan keinginan dan permintaan si anak tanpa berfikir manfaat dan akibatnya. Hal ini dilakukan si bapak karena masa kecil si bapak sangat susah secara tingkatan ekonomi orang tuanya.

7. Melebihi batas kewajaran dalam memarahi anak, bahkan si orang tua mengabaikan usia si anak. Orang tua berkata seenaknya dan kasar. Tragisnya, hal ini dilakukan di depan umum.

8. Anak dijadikan tameng hidup terhadap kesalahan orang tua. Ambil contoh, si ibu berbuat melanggar tatanan sosial bahkan aturan agama namun si ibu akan aman dari tuntutan si bapak dengan dalih ada hal yang perlu dipertimbangkan yakni anak.

9. Ini keburukan paling buruk, orang tua merasa khawatir jika pendidikan agama si anak bagus. Jika pemahaman agama anak bagus maka si anak akan dengan mudah mengetahui dan pada akhirnya akan menyalahkan kesalahan-kesalahan orang tua dengan dalil-dalil yang mutlak benar.



style="display:inline-block;width:728px;height:90px"
data-ad-client="ca-pub-
6882140561110162"
data-ad-slot="9215876336">

Sebagai orang tua tidak boleh lalai atau sengaja lalai dalam mendidik anak dimana itu merupakan tanggung jawab yang besar, sebab tidak sedikit orang tua yang menganggap remeh masalah ini. sibuk dengan dunianya sendiri.

Anak-anak sudah disekolahkan di sekolah pilihan, sudah dikursuskan untuk bidang-bidang tertentu, sudah dipanggilkan guru ngaji atau entah apalagi. Apakah jika hal tersebut sudah dilakukan oleh orang tua maka pendidikan bagi si anak sudah cukup? Tentu tidak. Orang tua sangat berperan dalam pendidikan anak. Pendidikan anak tidak hanya sebatas kepada yang disebut guru, instruktur, ustadz secara formal. Pendidikan anak terbaik adalah jika orang tua bisa berperan sebagai guru, instruktur ataupun ustadz bahkan lebih dari itu. Lho kok begitu? Ya memang.

Anak itu amanah. Amanah itu berat. Berat itu menjadi ringan apabila ikhlas. Ikhlas itu hanya milik orang beriman, beriman kepada yang memberikan amanah. Orang beriman akan mendidik anak sesuai ajaran keimanan. Jika salah dalam mendidik anak maka si orang tua jualah yang akan memetik hasilnya. Tentunya bukan sekarang, melainkan berjalan dengan waktu. Waktu yang terjadi tidak dapat kembali, yang hanya tinggal menyalahkan atau menyesali. Apalah gunanya menyalahkan dan menyesal dihari kelak sedangkan kita bisa melakukannya sebelum hal itu terjadi di hari ini.

Menyesali karena hasil yang dipetik si orang tua adalah anak-anak yang tak bertakwa, melawan orang tua, atau menyimpang dari aturan agama dan tatanan sosial, banyak orang tua lupa dengan apa-apa yang telah mereka sendiri ajarkan kepada anak-anaknya. Tragisnya, banyak yang tidak sadar, bahwa sebenarnya orang tuanyalah yang menjadi penyebab utama munculnya sikap-sikap durhaka itu.

Sikap-sikap kebiasaan sehari-hari yang dipertontonkan orang tua di hadapan maupun di belakang anak adalah goresan kuas orang tua pada kanvas. Sikap kebiasaan sehari-hari yang muncul adalah refleksi sifat dari dalam batin diri seseorang yang mempengaruhi segenap pikirannya dan akhirnya membentuk watak atau perangai. ddnyca dhef ngajiWatak atau perangai orang tua yang dipertontonkan sehari-hari itu akan tertangkap mata anak dan masuk dalam pikiran anak. Pertontonan yang bertubi-tubi dihadapan anak akan masuk dalam hati kecil atau batin anak. Lama kelamaan batin anak mulai bersahabat dengan yang dicontohkan orang tuanya. Apabila yang dicontohkan orang tuanya itu melekat dalam pikiran dan batin si anak maka giliran si anak yang akan merefleksikan dalam bentuk yang secara hakekat sama dengan contoh yang dilihatnya. Apabila contoh yang dilihat mata dan mata batin anak adalah baik maka akan baiklah hasilnya, namun jika contoh itu tidak baik maka hasilnya akan tidak baik. Ini menunjukkan bahwa perangai orang tua sangat berpengaruh terhadap pembentukan akhlak sang anak. Dengan kata lain, perangai orang tua harus terlebih dahulu memantulkan aura akhlakul karimah, barulah si orang tua berharap mendapatkan anak seperti yang diharapkannya. Sangatlah logis, buah yang jatuh tak akan jauh dari pohonnya.

 

Kesalehan mendidik anak

Akhlak sangat berhubungan dengan kesalehan seseorang. Kesalehan orang tua sangat terkait dengan kesalehan anak-anaknya. Kesalehan bapak ibu setidaknya dapat terlihat dari akhlak anak-anaknya.

Pada umumnya si ibu lebih banyak memiliki frekuensi pertemuan dengan anaknya dibandingkan dengan bapak. Apalagi jika si ibu tidak bekerja, hanya sebagai ibu rumah tangga, maka si ibu banyak sekali kesempatan untuk merawat dan memantau si anak. Si ibu ini sangat memegang peranan penting, sebab anak-anak akan tumbuh dalam bingkai akhlak dan tabiat si ibu.



style="display:inline-block;width:728px;height:90px"
data-ad-client="ca-pub-
6882140561110162"
data-ad-slot="9215876336">

Ibu yang salehah yang selalu berdoa untuk anaknya niscaya Tuhan akan menolong si ibu dengan segala kemudahan dalam mendidik anak-anaknya, dengan meluruskan dan melimpahkan taufik kepadanya. Namun perlu diingat apabila si ibu  sebagai orang tua yang jauh dari ciri-ciri wanita salehah maka akan sebaliknya yang terjadi. Sehebat dan sekuat apapun usaha kita tidak akan pernah berhasil dalam mendidik anak apabila tanpa pertolongan Tuhan. Jadi, lewatilah waktu yang terus berjalan dengan selalu mengingatNya, memohon pertolonganNya agar dimudahkan dalam mendidik anak. Kita perlu mempelajari apa saja persyaratan-persyaratan agar doa mudah dikabul.

Ucapan adalah doa. Ucapan orang tua terhadap anaknya adalah doa orang tua bagi anaknya. Doa orang tua adalah salah satu doa yang mustajab, maka bagi orang tua harus berhati-hati dalam mengucapkan sesuatu terutama saat dalam keadaan situasi marah. Orang tua yang saleh-salehah akan pandai menjaga lidahnya. Seburuk apapun perangai anak, sudah seharusnya tetap mendoakan hal-hal kebaikan untuknya. Memang diperlukan sabar bahkan terkadang diperlukan ekstra sabar dalam menghadapi anak. Sebab, yang namanya anak, selain sebagai perhiasan kehidupan dunia namun anak pun merupakan media ujian dalam keimanan sang orang tua.

Kita selalu ingin berhasil dalam menghadapi setiap ujian baik di sekolah, kursus atau pun di event lainnya. Tentu kita juga punya keinginan untuk lulus dalam ujian menjalani amanah mengasuh dan mendidik anak, bukan? Sebenarnya gampang, tapi gampang-gampang susah. Cara mendidik anak yang terbaik adalah dengan contoh dan teladan yang baik dari orang tua.* 

Bersambung ke bagian – 3
Baca Bagian – 1



Leave a Reply

You might also likeclose
%d bloggers like this: