JpegTidak ada kalimat lain untuk seluruh warga Muara Enim kecuali bersyukur dan banyak bersyukur. Bersyukur bukan hanya dibibir namun dibarengi amal perbuatan dalam keseharian. Coba bayangkan, hasil bumi Muara Enim melimpah ruah baik yang diatas maupun yang dibawah tanah. Seluruh alamnya nyaris hijau gemulai nan elok bikin mata enggan berkedip sepertinya ikhlas jika tak punya kelopak.

Sangat beruntung saya dapat singgah meski sejenak di bumi Muara Enim. Setiap sudut bumi Muara Enim yang saya datangi spontan kalimat thayyibah (baik) tergerakkan dari lidah ini, Masya Allah (مَ شَاءَاللَّهُ), sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. (lihat QS Al Kahfi: 39).

Sekian banyak lokasi air terjun yang terdapat di Muara Enim, namun kali ini hanya ingin mengetahkan cerita singkat dari hasil mengunjungi salah satu lokasi air terjun, yakni air terjun Bedegung.

Lokasi air terjun Bedegung terletak di Desa Bedegung, Kecamatan Tanjung Agung, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan. Dari pusat kota Muara Enim berkisar 55 Kilometer atau 1,5 jam perjalanan darat melaui jalan Sumatera lintas tengah (berhenti di simpang Mameo atau Meo dan perhatikan penunjuk arah). Simpang Meo berada diantara kota Muara Enim dan kota Baturaja. Kondisi jalan beraspal dan berkelok.

JpegDi area air terjun Bedegung, dari tempat parkiran kendaraan ke lokasi tempat dimana air terjun Bedegung berada maka kita mesti berjalan kaki diatas jalan khusus pedestrian sekitar 400 meter panjangnya. Kala kita menapak jalan setapak tersebut maka akan kita lihat sebelah kiri adalah sungai deras berbatu segala ukuran dengan aliran air berasal dari air terjun sedangkan sebelah kanan ada beberapa kolam-kolam ikan. Kemudian melewati berumpun bambu dan rindangnya pepohonan besar. Monyet-monyet kecil berbulu abu-abu dan oranye (simpay) berhamburan tunggang langgang lari terbirit-birit ketika saya melewati pepohonan nan rindang. Terganggukah mereka? Padahal saya gak mengganggu sedikitpun.

Saya berkunjung dikala itu hari Minggu dan dipungut tiket sebesar Rp. 5000,- per kepala untuk memasuki lokasi air terjun. Kata petugas tiket jika hari libur nasional seperti Natal, tahun baru, Iedul Fitri dan Iedul Adha akan lebih mahal lagi. Konon, meski labih mahal namun jumlah pengunjung lebih banyak lagi.

Sesampai didalam lokasi air terjun saya melihat tersedianya tempat mandi / bilas, tempat ganti pakaian, beberapa tempat duduk-duduk santai yang cukup hingga 10 orang. Saya melihat tinggi air terjun Bedegung maksimal 100 meter, masih dibawah ketinggian air terjun Sigura-gura di Sumatera Utara dan Ngarai Harau di Sumatera Barat.

Ketika menuruni tangga semen dengan handrail warna kuning saya mulai bisa melihat air terjun tersebut. Air terjun Bedegung itu gagah. Ia tak pernah ragu menjatuhkan airnya bertubi-tubi. Gemuruh suaranya menandakan keras dan tegas bak seorang lelaki kekar bersuara lantang menggelegar. Cipratan air dan hembusan udara dinginnya seakan merayu tulang-tulang badan untuk jangan hanya diam. Putih airnya kala jatuh dan beningnya kala di hamparan bawah ia adalah bak lelaki yang jujur, transparan dan setia. Setia membasahi kepada siapa saja yang masuk kedalam aliran airnya.

JpegKiri kanan di puncak air terjun nampak pepohonan yang reranting dan dedaunannya selalu bergoyang dan berlenggang tiada henti bagai seribu penari bertangan lembut menyambut sang tamu. Jujur saja, dikala saya berdiri dihadapan air terjun Bedegung, seakan tiada henti kata-kata indah mengalir dalam tubuh dan badan ini. Mungkin keindahan dan keelokan tiada terkira dari lokasi air terjun itu menyelusup dan merangsek ke rongga-rongga dada ini. Sepertinya saya berkata “Bedegung, aku suka kamu!”. Masya Allah, sungguh atas kehendak Allah semua kekayaan alam dan keindahan Muara Enim ini terwujud.

Agar keindahan, kenyamanan dan ramah lingkungan ada di lokasi air terjun Bedegung, menurut hemat saya, ada beberapa hal yang perlu dibenahi yakni general housekeeping dan keseragaman harga.

General housekeeping meliputi perlu penataan ulang posisi para penjual yang terlalu dekat dengan air terjun, meningkatkan kesadaran menjaga kebersihan umum dari para penjual dan pengunjung, perbaikan fasilitas seperti jembatan yang usang atau rusak dan ruang ganti yang kumuh. Selain itu perlu adanya keseragaman harga tiket masuk maupun parkir, apakah dewasa atau anak-anak, apakah hari biasa, hari libur Minggu atau hari libur nasional juga hari raya keagamaan.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.