qktrDari stasiun Citayam menuju lokasi SMK Nurul Qolbi (SMKNQ) berjarak tidak lebih dari 3 KM. Lokasi SMKNQ tepatnya di jalan Parung Citayam, kampung Bambon, Desa Ragajaya, Bojonggede, Kabupaten Bogor.

SMKNQ beroperasi dibawah naungan Yayasan Pendidikan Islam Nurul Qolbi. Yayasan tersebut merupakan milik keluarga yang didirikan oleh Haji Majeh Suryaatmadja. Pendiri yayasan ini adalah putra asli Citayam, lebih dikenal dengan sebutan Ustadz Majeh, pensiunan Departemen Agama Kabupaten Bogor.

Saya langsung dibawa oleh Khairudin Jaya ke kantor Kepala Sekolah SMKNQ, duduk santai di sofa berwarna merah maron dengan hidangan kopi susu panas yang dipesan dari kantin sekolah.

Karena terbatas waktu maka tanpa basa-basi panjang Khairudin Jaya langsung memperkenalkan diri bahwa dirinya adalah Kepala Sekolah SMKNQ sejak didirikan pada tahun 2015. Lantas kami berdialog santai di ruang tamu Kepala Sekolah bersofa merah maron itu sekitar satu jam. Saya meminta Kepala Sekolah itu keluar untuk keliling komplek SMKNQ.

Keluar dari ruang Kepala Sekolah melewati ruang rapat berkursi lima buah dan lab komputer. Ada beberapa piala dipajang diatas lemari yang saya lewati.

Luas tanah komplek Yayasan Pendidikan Islam Nurul Qolbi ini sekitar 3000 meter persegi, dari mulai halaman depan kita akan disambut dengan bangunan musholla. Musholla ini rutin digunakan para murid dan anak didik untuk dzuhur dan ashar, magrib dan isya masyarakat sekitar turut menggunakannya.

Utara musholla dilanjut dengan bangunan madrasah ibtidaiyah (MI) dengan jumlah 6 kelas, ke utara lagi bangunan MTs sebanyak 6 kelas, sisi Selatan komplek sekolah terdapat bangunan untuk tingkat PAUD (RA), sedangkan bangunan SMKNQ yang terdiri dari 4 kelas terletak di paling utara.

qklasKilas balik ke tahun ajaran 2015/16, di tahun pertama SMKNQ menerima dua kelas dengan jumlah total 65 siswa. Tahun ini Khairudin Jaya memperkirakan minimal 3 kelas atau sekitar 100 siswa. Di tahun kedua ini Khairudin mengeluarkan kebijakan pendaftaran untuk 70 pendaftar pertama hanya membayar 30% nya saja. Latar belakang munculnya kebijakan tersebut adalah karena adanya hambatan dalam program turut mencerdaskan anak bangsa.

Hambatan utama dalam mengoperasikan SMKNQ adalah ijin operasional sekolah yang belum didapatkan oleh SMKNQ. Khairudin menjelaskan bahwa persyaratan administrasi telah memenuhi untuk hal tersebut.

Layaknya sekolah yang sudah lama berdiri, SMKNQ memiliki beberapa kegiatan ekskul, pemda setempat memberikan dukungan kepada SMKNQ semisal fasilitas panjat tebing, Pramuka. Hambatan utama kedua adalah perlu tambahan fasilitas sekolah berupa gedung agar dapat (setidaknya) menuju ideal.

qguru2Hambatan kedua adalah jumlah guru (termasuk Kepala Sekolah) yang telah mencapai 16 orang namun masih perlu upaya untuk meningkatkan kesejahteraannya. “Guru-guru disini adalah yang mengerti soal SMKNQ dan memiliki semangat tinggi untuk mendidik. Saya hargai mereka”, jelas Khairudin. Separuh jumlah guru telah bersertifikasi pendidikan.

Hambatan ketiga, animo masyarakat sekitar untuk menyekolahkan anaknya terbilang belum baik. Komunikasi antara sekolah dan para orang tua pun belum seperti yang diharapkan pihak SMKNQ. Khairudin menjelaskan yang keterangannya dikuatkan beberapa guru yang saat itu berada disitu bahwa masyarakat sekitar masih kurang dalam semangat menyekolahkan anak, namun bila untuk pernikahan mereka rela menjual hartanya/tanahnya. Masih ada kebutuhan lain dari masyarakat yang pada akhirnya dapat menyita keuangan yang seharusnya dapat digunakan untuk biaya sekolah. Akibat dari hal tersebut iuran SPP hanya dibayar oleh 30% dari total siswa, sisanya menunggak bahkan ada yang diatas 5 bulan.

Pihak SMKNQ berkat bantuan donatur dapat membebaskan 2 siswanya dari segala iuran sekolah, namun dengan kondisi umum banyak yang menunggak tentunya pihak SMKNQ berharap ada donatur-donatur lain yang dapat membantu siswanya yang merasa keberatan karena bersekolah.

Khairudin Jaya yang sehari-harinya akrab dipanggil pak Khair oleh para guru dan siswanya merasa ada beban untuk memajukan SMKNQ yang didirikannya itu, meski demikian dirinya merasa tertantang dan memiliki kepuasan tersendiri. Kepuasan apa? “Saya sangat senang jika ada para orang tua sekitar sekolah yang menitipkan anaknya di SMKNQ kemudian dapat merubah perilaku si anak tersebut menjadi lebih baik. Itu saya puas. Saya sulit mengutarakan kepuasan saya. Ya, saya puas aja”, ujar alumnus fakultas Tarbiyah universitas Ibnu Khaldun Kota Bogor itu bersemangat.

qjengKami berdua yang berkeliling komplek sekolah akhirnya terhenti di bangku kecil memanjang berbentuk huruf L dibawah pohon jengkol, kami melanjutkan perbincangan disitu. Bangku itu disebut pak Khair sebagai “bangku perenungan”. Ya bangku itu tempat pak Khair merenung sambil melihat tanah kosong yang seharusnya segera didirikan bangunan diatasnya untuk SMK Nurul Qolbi.

Perjuangan pak Khair untuk memajukan sekolahnya nampaknya tak pernah surut, selain memiliki pengalaman mengajar dan mendidik bertahun-tahun iapun sudah melaksanakan program ‘guru tamu’. Guru tamu adalah program mendatangkan praktisi berpengalaman dari Jakarta untuk berbagi ilmu dan pengalaman bagi siswa-siswi SMKNQ. Program ini akan berlanjut dan sudah dirancang untuk waktu mendatang. Pak Khair untuk melakukan program ini tidaklah sulit karena ia dan istrinya memiliki relasi yang tidak sedikit di Jakarta, diantaranya sudah menyatakan bersedia menjadi guru tamu.

Selamat berjuang memajukan pendidikan para generasi muda di tanah Citayam, pak Khair!*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.