Berawal dari anak sulung yang saat itu duduk di kelas lima menjelang kelas enam sekolah dasar meminta izin ikut try out yang diselenggarakan salah satu lembaga bimbingan belajar (bimbel) di Kota Bogor. Anakku, Sulung, tertarik dan bersemangat untuk ikut try out itu begitupun teman-temannya. Rencana mereka nantinya akan bertemu dan berkumpul kembali di SMP negeri yang menjadi cita-cita mereka setelah lulus SD. Kebetulan pelaksanaan try out bertempat di SMP negeri yang mereka cita-citakan itu. Betapa suka cita dan semangatnya Sulung dengan try out perdananya dan terus bertanya itu ini kepada kami apa itu try out dan seterusnya dan seterusnya.

Hari itu Sulung berangkat ke SMP negeri tempat try out diselenggarakan dengan rombongan dari sekolah. Kami berangkat menyusul dari rumah setengah jam setelah jam try out dimulai tanpa sepengetahuannya. Sesampai di sana, ternyata bukan hanya kami saja yang datang melainkan sudah banyak orang tua yang sedang menunggu anaknya selesai mengikuti try out. Mereka bergerombol dan mendiskusikan sesuatu dengan brosur dan leaflet ditangan mereka. Kami menjadi tertarik dan mendekati meja panitia penyelenggara. Ternyata brosur dan leaflet itu berasal dari lembaga bimbel yang sedang menyelenggarakan try out tersebut. Lembaga bimbel itu sedang mempromosikan dan menawarkan kelas bimbel khusus bagi siswa kelas enam SD untuk mempersiapkan Ujian Nasional (UN) nanti. Setiap pendaftaran delapan anak mendapat potongan harga setengahnya dari harga yang ditawarkan perorangnya jika mendaftar sebelum bulan Juni. Rupanya para orang tua yang bergerombol sedang mencari kelompok dari teman-teman sekolahnya masing-masing.

Menjelang UN-DhefKami, ayah dan ibu Sulung, sepakat tidak mengambil bimbel tersebut. Mengapa? Karena tempatnya sangat jauh dari rumah kami apalagi ditambah dengan rute yang akan dilalui Sulung nantinya dikenal sebagai jalur macet di Kota Bogor. Bila naik angkot dibutuhkan waktu satu jam. Kami khawatir tidak maksimal hasilnya karena saat mulai rutinitas bimbel dilakukan Sulung diperkirakan sudah capek dan mengantuk kelelahan akibat rute yang dilaluinya dari rumah ke tempat bimbel itu.

Sulung naik kelas enam. Di awal Sulung kelas enam, kami sebagai orang tua mendapat undangan rapat dari SD dimana Sulung bersekolah dengan agenda persiapan UN dan perpisahan. Merasa penting dengan agenda rapat tersebut, kami berdua hadir. Dalam rapat sudah disusun program sekolah untuk menghadapi UN yang akan datang dengan adanya pendalaman materi berupa les seusai jam sekolah dan akan diadakan try out sebanyak tiga kali menjelang UN. Pendalaman materi dimaksudkan agar siswa mendapat bimbingan memahami materi lebih mendalam lagi dan try out diadakan dengan maksud agar siswa terlatih mengerjakan soal-soal UN. Harapannya siswa akan siap saat menghadapi UN nanti. Sebagai orang tua, kami pun mensupport anak dengan mempersiapkan bekal sehat ke sekolah dan uang saku yang cukup karena jam pulang sekolah berubah menjadi jam 14.30 WIB dari biasanya jam 12.15 WIB.

Disisi lain kami rutin mengajaknya berolah raga diakhir pekan seperti berenang atau jalan pagi, dan memintanya beristirahat yang cukup setiap harinya. Tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk melakukan hal itu. Namanya juga anak-anak, moodnya bisa berubah-ubah. Ajakan berolah raga tidak bersambut, malah di hari libur dimanfaatkan untuk tidur lebih lama. Tidak apa-apa, setidaknya sudah beristirahat yang cukup untuk me-recharge staminanya.

Bagaimana dengan bimbel dan try out di luar sekolah? Ternyata pada akhirnya kami dikejutkan oleh permintaan Sulung mengikuti bimbel karena sedikit banyak terpengaruh teman-temannya yang sudah ikut bimbel. Kami pun mulai mencari tempat bimbel yang dekat dengan rumah. Beberapa hari berselang kami mendapatkan tempat bimbel yang dapat ditempuh dengan waktu sepuluh menit saja dengan naik angkot. Atas persetujuan Sulung, kami mendaftarkannya di bimbel tersebut. Bisa dibayangkan betapa sibuknya anak di kelas enam dengan hari-hari yang dilaluinya menjadi rangkaian rutinitas. Dari mulai sekolah, les tambahan di sekolah dan dilanjutkan bimbel dua kali seminggu. Apalagi saat kelas enam semester dua seperti saat ini (mulai Januari sampai Mei), mulai berjalan rangkaian try out, dari try out ke try out. Bukan try out program sekolah saja, melainkan Sulung ikut juga try out diluar program sekolah. Awalnya, kami masih bisa menyesuaikan jadwal dan mengantar Sulung ke tempat try out di akhir pekan. Hingga di suatu akhir pekan kami menolaknya mengantar try out dan memintanya tidak ikut try out saat itu. Rupanya Sulung sangat bersemangat ikut try out itu karena akan bertemu dengan teman-temannya di tempat yang baru sekaligus juga berlatih soal.

Sebagai orang tua, beberapa kali kami mengingatkan apa sebenarnya tujuan Sulung ikut try out dan bukan sekedar ikut-ikutan. Bila memang lelah, apa bisa Sulung ikut try out secara maksimal, atau apabila tempat try out cukup jauh adalah sesuatu yang harus dipertimbangkan oleh kami dan Sulung. Kami merasa try out yang diselenggarakan di sekolah dan bimbel sudah cukup untuk melatih Sulung mengerjakan soal-soal ujian asal dilakukan dengan kesungguhan dan keikhlasan. Kami tidak ingin kebersamaan kami di akhir pekan menjadi hilang karena try out dan try out yang mungkin dirasa berlebihan. Kami ingin dia tetap rajin belajar namun juga tetap bersemangat seperti dulu untuk nonton bareng, jalan-jalan diakhir pekan, berenang untuk mengimbangi dan mengurangi kejenuhannya dengan kegiatan rutin sekolah, les tambahan, dan bimbel. Kami ingin berjalan seimbang dan si Sulung tidak stress.

Melihat hasil try out-nya yang turun naik, sebetulnya kami merasa cemas dan mencoba mencari informasi nilai UN tahun lalu yang terendah diberbagai SMP negeri di Kota Bogor. Untuk sekolah yang menjadi pilihannya, sementara dari nilai try outnya tidaklah memenuhi, tapi kami tetap memberinya semangat untuk menjalankan UN dengan persiapan terbaiknya, dengan kesungguhan usaha dan doa tentunya. Sedikit lega, karena nilainya termasuk bagus meskipun tidak memenuhi nilai terendah UN sekolah pilihannya dengan acuan nilai UN satu tahun sebelumnya. Kami tidak ingin terlalu membebaninya. Harapan kami semoga dia bisa masuk SMP negeri pilihannya.

Beberapa SMP swasta yang kami survey cukup mahal dan pendaftaran calon siswa baru sudah ada yang dibuka diakhir tahun lalu (mulai Desember), sedangkan untuk SMP negeri mulai dibuka di pertengahan Juni nanti setelah UN diumumkan. Pilih SMP negeri atau swasta, semuanya tergantung anak dan kesiapan orang tua yang membiayainya. Bagi kami yang berada di level menengah, berharap Sulung bisa diterima di SMP negeri agar dari hal biaya tidak terlalu memberatkan sehingga kami dapat menabung untuk Sulung saat ia sekolah ke jenjang berikutnya.

 

 

Farhah Faridah 2015

One thought on “Menjelang UN”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.