maroganKata MAROGAN dalam nama ‘masjid Kiai Marogan’ berasal dari kata Muara Ogan, mengikuti dialek setempat berubah menjadi Muaro Ogan, untuk mempercepat dan mempermudah ucapan berubah menjadi Marogan. Masjid ini merupakan masjid tertua kedua di Palembang setelah masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II yang terletak di jalan Jendral Sudirman Kelurahan 19 Ilir Kecamatan Ilir Barat I, Kota Palembang. Masjid Kiai Marogan ditetapkan oleh pemerintah setempat sebagai masjid bersejarah dan masuk dalam cagar budaya.

Karena masjid Kiai Marogan memiliki nilai sejarah maka masjid ini merupakan salah satu masjid yang menjadi destinasi wisata religi. Alamat masjid Kiai Marogan adalah Jalan Kiai Marogan, Kelurahan I Ulu Kecamatan Kertapati, Kota Palembang. Tepat letaknya di belakang stasiun kereta api Kertapati.

Masjid Kiai Marogan terletak dipertemuan antara Sungai Musi dan Sungai Ogan yang dibangun kira-kira tahun 1871 M oleh seorang pengusaha kayu yang juga sebagai ulama besar Palembang yang bernama Kiai Haji Masagus Abdul Hamid bin Mahmud dengan sebutan lain Kiai Muara Ogan, Kiai Muaro Ogan, Kiai Marogan. Jadi, penamaan masjid diambil dari nama ulama besar tersebut, masjid ini kemudian lebih dikenal dengan sebutan Kiai Marogan.

Ukuran asli masjid ini sebelum dilakukan renovasi dan perluasan adalah 18,8 meter x 19,4 meter. Bangunan utama masjid disangga empat saka guru berbentuk persegi delapan berukuran 0,3 meter x 0,27 meter, tingginya mencapai 5 meter. Saka guru dikelilingi dua belas tiang penunjang setinggi 4,2 meter dan besar 0,25 m x 0,25 m.

Kiai Muara Ogan adalah putra seorang bangsawan Palembang, ayahnya Masagus Mahmud merupakan keturunan dari Sultan-sultan Palembang Darussalam dan trah Giri Kedaton. Meski beliau seorang pengusaha sukses dan keturunan bangsawan, Kiai Marogan dikenal sebagai seorang ulama yang zuhud dan tawadlu serta suka membantu masyarakat.

Kiai Marogan wafat pada usia 89 tahun, dimana beliau dilahirkan pada tahun 1802, dan meninggal dunia pada 17 Rajab 1319 H yang bertepatan dengan 31 Oktober 1891.

Semula masjid Kiai Marogan adalah milik pribadi kemudian diwakafkan pada tanggal 6 Syawal 1310 H (23/4/1893 M) untuk umat Islam. Sekarang masjid ini selain digunakan untuk keperluan ibadah rutin juga sering dikunjungi hingga berjubel wisatawan baik dari dalam dan luar kota Palembang seperti Cirebon, Solo, Jakarta dan beberapa kota di Jawa lainnya, Lampung, Jambi.

Pada saat-saat event khusus seperti hari Jumat, pada bulan Sya’ban dan pada saat peringatan haul Kiai Marogan pada Bulan Rajab maka jumlah pengunjung akan lebih banyak dari hari biasanya. Para pengunjung berdatangan ada yang hanya untuk salat berjamaah, itikaf, ataupun melakukan ziarah ke makam sang waliyullah, Kiai Marogan. Makam Kiai Marogan terletak sebelah kiri masjid jika kita sedang menghadap kiblat, satu kompleks dengan Masjid.

Sekilas video masjid Kiai Marogan CLICK HERE. Nama Kiai Marogan diabadikan sebagai nama jalan di kota Palembang, mulai dari Simpang Empat Jembatan Musi II Kemang Agung sampai dengan Simpang Empat Jembatan Kertapati 1 Ulu Palembang.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.