Sore hari yang cerah di bulan Februari 2015. Kubuka tabloid wanita terbaru. Dua cangkir kopi yang masih panas dan sepiring pisang goreng hangat menemani waktu santaiku di teras rumah. Sesekali kualihkan pandanganku pada suami yang asyik mencuci sepeda motor di carport rumah kami. Senyum simpul tersungging dibibirku tepat saat suami melihat ke arahku.

“Senyum-senyum sendiri. Ada berita lucu di tabloid itu?” tanya suamiku sambil tetap dengan kesibukannya mengelap sepeda motor yang baru selesai dicucinya.

“Nggak ada berita yang lucu, kok,” jawabku.

“Terus kenapa senyum-senyum sendiri?” tanyanya sambil terus asyik mengelap kaca spion sepeda motor itu.

Aku kembali tersenyum. Kumasukkan potongan kecil pisang goreng hangat ke mulutku. Kukunyah pelan-pelan. Kuhirup harumnya aroma kopi. Kudengar suara khas pintu pagar rumah tetangga sebelah sedang dibuka seseorang. Langkah suami mendekatiku.

“Sudah selesai belum nyuci motornya?” tanyaku. “Ini kopinya nanti keburu dingin,” aku menunjuk cangkir kopi yang kusediakan untuknya.

“Sudah, tapi sebentar ya, cuci tangan dulu. Nanti balik lagi,” katanya menghilang di balik pintu.

Tak lama kemudian, dia sudah balik dan duduk bersamaku di teras itu. Dia menghirup dan mengambil kopi yang kusediakan, menyeruputnya pelan-pelan. Kupandang terus suamiku. Dia balik memandangku.

“Jadi, sebenarnya apa yang membuatmu senyum-senyum sendiri tadi?” tanyanya.

“Oh, itu. Hahahaha…… Lucu aja setiap kali memandang motor kita itu!” kataku menunjuk sepeda motor kami yang terlihat bersih mengkilap.

“Hebat kan, motor kita. Walaupun sudah delapan tahun, tetap nggak bermasalah dan selalu kelihatan baru,” katanya gak nyambung dengan apa yang sedang kupikirkan.

“Jadi, apanya yang lucu dengan motor?” tanyanya tersadar.

“Aku ingat saat pertama kali motor itu datang. Kemudian sulung yang saat itu berumur empat tahun berlari keluar dengan gembira untuk menyambutnya. Tapi kemudian dia kembali masuk rumah dengan wajah sangat kecewa,” kataku mengingat-ingat saat sepeda motor itu dikirim ke rumah ini dengan diangkut mobil pick up.

Suami mengunyah pisang goreng untuk kali ke dua yang diambilnya dari piring sambil senyum-senyum mengikuti yang sedang kukenang. Rupanya dia pun sedang mengenang kejadian delapan tahun lalu di teras ini.

“Sulung marah padaku saat itu. Dia protes kenapa yang datang motor, kok bukan mobil?” kenang suamiku. Kamipun tertawa bersama mengingatnya.

“Lucunya, keesokan harinya sulung sudah melupakan kekecewaannya sama sekali. Sulung gak protes saat kami  memulai rutinitas harian bertiga dengan motor itu. Pagi pergi ke sekolah TK sulung, siangnya kami jemput dari TK dan langsung ke Taman Penitipan Anak beberapa blok disebelahnya. Pulang kita jemput lagi. Begitu setiap hari selama dua tahun,” katanya.

“Ya, setelah itu kita bertiga sering jalan-jalan di hari libur dengan motor itu,” aku mengingat kenangan demi kenangan bersama sulung dengan sepeda motor kami.

“Motor itu pula yang mengantarmu ke rumah sakit dan kamu melahirkan si bungsu.”

Suami mengunyah pisang goreng terakhir yang sudah mulai dingin. Menghabiskan kopinya. Begitu pula aku menghabiskan kopiku. Sore hari ini benar-benar cerah dan kami bisa berdua di teras rumah kami yang penuh kehangatan. Sulung dan bungsu masih berada di masjid, mengaji.

Hening sekejap. Beberapa saat kemudian suamiku bersuara, “Waktu bungsu masih kecil, kita masih bisa pergi berempat dengan mengendarai motor itu dan jalan ke tempat-tempat yang sulung suka”.

“Aku masih ingat betul, kamu duduk di jok belakang sambil menggendong bungsu sedangkan sulung duduk di jok depan, depanku”, tambahnya.

“Tapi seingatku saat itu sulung pergi pulang sekolah sudah naik mobil antar jemput, gak pakai motor kita,” tambahnya lagi dengan mimik muka seperti menerawang ke masa lalu. Aku mengiyakan ingatannya dengan diam sambil kulihat isi cangkir kopinya yang sudah tak lagi bersisa.

“Oh ya, diwaktu yang gak begitu lama dari itu lalu kamu berhasil menyelesaikan sekolahmu di tingkat S3. Lalu, kita pernah diskusi di suatu malam tentang motor itu,” kataku.

“Aku gak akan pernah lupa diskusi kita dimalam itu,” katanya tersenyum. Senyum termanis suami untukku di sore itu.

“Saat itu aku memberikan pilihan padamu, apakah yang kamu inginkan, membeli mobil baru atau merenovasi rumah kita menjadi rumah yang kita idam-idamkan sejak dulu?”

Aku tersenyum sambil berulang-ulang mengenang tawaran suamiku saat itu. Ketika itu  aku benar-benar menyadari bahwa aku telah menjadi wanita dewasa yang harus bisa menentukan sebuah pilihan. Pilihanku tentu tak boleh salah dalam kondisi keterbatasan keuangan. Aku sangat merasakan makna bahwa hidup itu adalah sebuah pilihan.

“Aku ingat. Aku bilang padamu bahwa aku ingin merenovasi rumah jika memang harus dipilih. Seandainya kamu menawarkan keduanya untuk diwujudkan tentu aku lebih senang. Tapi, hidup adalah realita, dan aku berusaha mengerti, jadi waktu itu aku pilih renovasi rumah dulu, karena aku berpikir kita tidak terlalu butuh mobil dan masih ada motor yang bisa digunakan untuk mengantar kita berdua berangkat dan pulang kerja,” jawabku.

Dia menoleh padaku dan senyum-senyum sendiri. Senyuman yang aneh dan seperti mentertawakanku. Ah, padahal aku masih memerlukan senyuman termanisnya yang kali kedua di sore itu.

“Kenapa senyum-senyum sendiri?” tanyaku padanya. Pertanyaan yang sama yang tadi dia tanyakan saat mencuci sepeda motor.

“Tadi aku mendengar bahwa kita tidak terlalu butuh mobil? Benarkah itu?” tanyanya masih senyum-senyum lagi.

motorAku terdiam. Aku ingat dan tersadar, aku sering berkata padanya bahwa sepeda motor itu sudah tidak layak lagi dan minta diganti dengan mobil. Aku juga suka mengeluh padanya bahwa dengan sepeda motor itu kita terkadang kehujanan dan tidak bisa lagi digunakan untuk berempat, sulung dan bungsu sudah besar. Kami berempat saat mengunjungi tempat-tempat untuk refresh di akhir pekan harus dengan bis kota atau angkutan kota. Aku menjadi tidak sabar dan nyaris memaksanya untuk segera membeli mobil dan memintanya berhutang untuk bayar uang muka. Kukemukakan ketidaksabaranku itu tak hanya sekali, berulang-ulang. Karenanya, kami sering perang dingin dan diantara kami jadi hanya bicara seperlunya saja. Kehangatan keluarga menjadi terasa terganggu dan terancam sirna hanya dikarenakan keinginanku untuk segera mempunyai mobil. Hal yang sungguh berbeda dan tak pernah terjadi ketika kami berencana dan memutuskan membeli sepeda motor, sepeda motor yang barusan dicuci suamiku. Sepeda motor yang telah berjasa bagi keluarga kami selama delapan tahun.

“Aku setuju pada apa yang kamu inginkan, bahwa suatu saat nanti kita akan mempunyai mobil,” katanya berhenti sejenak. “Tapi, motor itu tidak boleh dijual, masih akan kita pakai sekali-kali dan tetap kita akan butuh motor itu untuk menghindari kemacetan saat diperlukan.”

Aku menoleh padanya. Aku tahu dia tidak pernah gegabah dalam berkata.

“Jadi, kapan kita beli mobil?” tanyaku.

Dia senyum-senyum lagi. Aku jadi sebel meski senyum itu terasa manis. Aku ingin kami segera punya mobil.

“Insya Allah kita beli, nunggu tabungan cukup untuk bayar uang muka dan tanpa mengganggu operasional lainnya terutama untuk sekolah anak-anak,” katanya sambil beranjak dari duduknya untuk membuka pagar rumah ketika dilihatnya kedua putri kami datang.

“Mengkilap amat nih motornya? Ayah pintar banget dech merawat motor,” kata sulung yang berponi ala Yulia Peres sambil terus melenggang masuk rumah diikuti oleh bungsu.

“Aku yakin, kita akan segera punya mobil” kata suami sambil mengedipkan sebelah matanya dan lantas ikut masuk ke dalam.

Aku menghela nafas sambil mengamini ucapan suamiku.

Aku segera membereskan cangkir dan piring lantas membawanya ke dalam rumah hendak menyusul mereka bertiga. Suami benar. Sepeda motor itu telah berjasa, dan aku tidak boleh melupakannya begitu saja. Sebelum masuk ke dalam rumah, kutolehkan kepalaku dan memandang sepeda motor di carport. Sepeda motor itu tetap kokoh dan anggun seperti dulu. Kututup pintu depan perlahan dan masuk ke dalam rumah. Kudengar dari kejauhan suara adzan maghrib berkumandang kemudian bersahut-sahutan. Aku ingin segera bersujud memohon ampunNya, ternyata selama ini aku kurang bersyukur dengan apa yang telah kami milikki tanpa disadari terlalu sering mengeluh dan mengeluh hanya untuk sesuatu materi yang diinginkan. Aku tidak menyadari dalam keluhan itu, Tuhan telah memberikan nikmat yang luar biasa pada keluarga kami. Kesehatan, kebahagiaan, keharmonisan dan kehangatan didalam keluarga kami. Yang pasti buatku, hidup ini adalah belajar. Aku sedang belajar dari kesalahan dan ingin memperbaiki.*

Farhah Faridah

Bogor, Februari 2015

(Cerita ini hanya fiktif, maaf bila ada kesamaan cerita/kejadian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.