RSS
Facebook

Mushola Tanpa Nama

subuhhDesa Penindaian dalam kurun empat bulan ini banyak menerima pendatang hingga hampir mencapai dua ratus lima puluh orang. Para pendatang itu mayoritas berasal dari kota seperti Jakarta, Bandung, Cirebon, Surabaya, Demak, Medan, Palembang dan sekitarnya. Tiga persen dari para pendatang tersebut adalah para pekerja asing dari Jepang dan mancanegara.

Mereka para pendatang adalah pekerja proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi yang ada di desa itu. Mereka tinggal di desa itu diatas tanah sewa seluas tujuh hektar dalam satu area yang disebut base camp. Didalam base camp itu terdapat banyak sarana dan prasarana untuk kehidupan sehari-hari termasuk sebuah mushola. Mushola berkapasitas empat puluh jamaah itu masih tanpa nama meski telah digunakan sekian lama.

Siang maupun malam suasana base camp selalu sepi. Saat siang suasana sepi karena base camp ditinggalkan para penghuninya yang pergi bekerja ke lapangan proyek, sedangkan malam sepi karena semua pekerja masuk kamar dan asyik dengan acara sendiri di kamar masing-masing setelah makan malam usai. Area base camp memang selalu sepi, begitupun musholanya. Jamaah sholat paling banyak tiga orang pada waktu magrib maupun Isya, sedangkan saat solat subuh biasanya hanya dua jamaah namun beberapa kali hanya sang imam saja.

Mushola tanpa nama itu memiliki imam tetap yaitu Haji Junai, seorang penduduk desa setempat yang bekerja sebagai tukang sapu taman di base camp. Haji Junai seorang kakek berusia tujuh puluh dua tahun. Ia merupakan orang yang sedikit bicara banyak bekerja. Meski hanya tukang sapu ia disegani di area base camp. Hampir semua pendatang yang pekerja proyek itu termasuk yang bertitel insinyur entah S1 ataupun S2 sangat berhati-hati jika berbicara dengan Haji Junai, entah kenapa.

Seminggu lalu penghuni base camp bertambah satu. Penghuni baru itu adalah seorang pejabat struktural proyek yang mulai bertugas di proyek tersebut. Ia menjabat sebagai Construction Manager, bernama Willy Iskandar. Willy Iskandar adalah orang kedua di proyek itu, orang nomor satunya adalah Takeshi Mizumoto dengan posisi sebagai Project Manager. Banyak penghuni base camp bertanya-tanya dengan cara berpakaian Willy Iskandar. Petang hari dihari pertama kedatangan Willy Iskandar yang berkulit kuning langsat dan bermata sipit itu datang ke mushola dengan memakai gamis dan kopiah haji yang dibalut sorban dimana semuanya serba berwarna putih. Dandanan ala Aa Gym. Wewangian khas para habaib dipakai oleh Willy Iskandar dan itu tercium dihidung tiga jamaah solat magrib saat itu. Solat Magrib petang itu dilaksanakan dengan imam seperti biasanya yaitu Haji Junai.

Esok paginya disaat adzan subuh usai dialunkan, Willy Iskandar yang berperawakan agak pendek dan berperut buncit datang ke mushola itu lagi. Kali ini gamis yang dipakai Willy Iskandar berwarna hitam pekat dengan kopiah hitam berbalut sorban putih. Usai solat qobliyah subuh Willy Iskandar meminta jamaah yang ada disitu untuk duduk mendekat kearah dirinya. Rido, Haryo dan Haji Junai merapat ke posisi Willy Iskandar dan mereka berempat duduk bersila melingkar. Willy Iskandar meminta banyak informasi terkait mushola itu. Tak lama kemudian mereka melaksanakan sholat subuh berjamaah dengan imam Haji Junai.

Kantor lapangan proyek berjarak tiga kilometer kearah atas bukit dari area base camp. Di area kantor juga terdapat mushola. Di hari pertama Willy Iskandar masuk kantor, ia melakukan solat Dzuhur dan Ashar berjamaah di mushola itu dan ia diminta jamaah untuk menjadi imam sholat. Jamaah solat di mushola kantor adalah para staff bawahan Willy Iskandar dan para buruh pekerja proyek. Ba’da sholat dzuhur dan Ashar Willy Iskandar menyampaikan pesan-pesan dan menghimbau para jamaah untuk menunaikan ajakannya.

Hari itu hari ketiga kedatangan Willy Iskandar di base camp. Haji Junai datang lebih lambat dari biasanya, ia memasuki mushola saat adzan subuh hampir usai dialunkan oleh Rido. Saat langkah pertama haji Junai memasuki mushola ia sangat terkejut ketika matanya melihat jumlah jamaah solat Shubuh pagi itu sekitar lima belasan orang. “Subhanallaah. Alhamdulillaaah…”, bibir Haji Junai mengekspresikan rasa syukurnya dengan suara yang hanya bisa didengar oleh dirinya.
Solat subuh berjamaah pagi itu usai dilakukan, dilanjutkan wirid dan doa singkat, lantas para jamaah pun bubar meninggalkan mushola hingga hanya meninggalkan Haji Junai dan Willy Iskandar. Mereka berdua lantas mendiskusikan sesuatu di mushola itu.

Siangnya, Willy Iskandar melakukan hal sama di kantor seperti kemarin yakni menjadi imam saat sholat Dzuhur dan Ashar. Sehabis setiap dua solat wajib itu dilaksanakan lantas ia memberikan pesan-pesan dan menghimbau para jamaah untuk menunaikan ajakannya.

subuhHari Sabtu, 31 Desember 2016, adalah hari ketujuh bagi Willy Iskandar berada di base camp. Jamaah solat Subuh di penghujung tahun 2016 memadati mushola itu, jika dihitung maka genap empat puluh jamaah. Pagi itu haji Junai tak terkejut lagi melihat membludaknya jumlah jamaah sholat Subuh. Usai salam sebagai akhir dari sebuah ibadah sholat, Haji Junai selaku imam ia langsung membalikkan badan menghadap para jamaah dan berucap “Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh!”, kemudian dijawab spontan para jamaah. Jawaban salam dari para jamaah sholat subuh itu seakan menggema menembus dinding-dinding mushola itu, lantas merobohkan semua sekat-sekat kamar dan membangunkan para penghuni base camp yang masih terlelap.

Setelah sambutan singkat dari Haji Junai maka Willy Iskandar diminta bicara oleh Haji Junai. Willy Iskandar, lelaki berkulit kuning langsat, bermata sipit, berperut buncit, yang pagi itu bergamis putih, berkopiah dan bersorban putih pun mulai berbicara. “Assalamu’alaikum waroh matllohi wabarokatuh!”
“Dua hari lalu saya sudah memperkenalkan diri saya waktu di mushola yang di kantor, namun tidak ada salahnya untuk kali kedua saya perkenalkan diri saya lagi sekarang. Saya, Willy Iskandar…….”, para jamaah sholat subuh mendengarkan seksama dari orang nomor dua di proyek itu.
“Sejak hari pertama kedatangan saya, saya sudah berkomunikasi bahkan berdiskusi panjang dengan pak Haji Junai. Saya sangat berterima kasih kepada beliau karena beliau telah banyak bercerita ke saya mengenai kondisi mushola kita ini dan saya berharap kedepannya beliau mau membimbing saya. Tak lupa juga terima kasih banyak atas bantuan mas Rido dan mas Haryo yang telah membantu saya dalam banyak hal”, lanjut Willy Iskandar sambil sesekali memandang ke arah Haji Junai, Rido dan Haryo.

Lanjut Willy Iskandar lagi, “Bapak-bapak, mas-mas, dan adik-adik semua, tentunya masih ingat apa yang saya katakan ketika di mushola kantor. Waktu itu, saya berulang mengajak semua penghuni base camp atau para pekerja proyek termasuk mengajak saya sendiri untuk sama-sama memakmurkam mushola di manapun kita berada. Sekarang kita sama-sama berada disini, di proyek ini. Saat malam dan waktu subuh kita berada di base camp, dan saat siang kita berada di kantor. Maka, mari kita sama-sama memakmurkan mushola, baik yang ada di kantor maupun yang ada di base camp ini.” Hening suasana, semua jamaah membiarkan hanya suara Willy Iskandar yang terdengar. Semua diam mendengarkan.

Lanjut Willy Iskandar lagi, “Kita tahu ada Gerakan Nasional 1410 dan 411 bahkan dilanjutkan 212, yang kemudian dilanjutkan gerakan sholat subuh berjamaah. Maaf saudara-saudara seiman, saya tidak sedang mengajari yang ada disini. Saya masih sedang belajar Islam. Saya hanya ingin agar saya dan saudara-saudara semua menjadi seorang muslim yang terlibat aktif dalam gerakan subuh berjamaah di mushola ini”. Ada seberkas pantulan sinar dari mata Willy Iskandar yang mulai berair. Mata Willy Iskandar berkaca, namun ia terus melanjutkan kalimatnya.

“Perlu saya ulangi lagi, satu himbauan saya, mari kita makmurkan mushola ini dengan melaksanakan sholat subuh berjamaah. Sholat subuh berjamaah bukanlah sekedar slogan, namun slogan yang perlu dibuktikan dengan amalan. Saudara-saudara semua seharusnya banyak bersyukur karena saudara-saudara semua beragama Islam sejak lahir. Sedangkan saya membu….”, kalimat Willy Iskandar terpenggal oleh sebuah pertanyaan salah seorang jamaah.

“Maaf, bapak itu mualaf?” Swenri yang berprofesi sebagai kuli bangunan yang duduk berhadapan langsung dengan Willy Iskandar bertanya menodong secara spontan.

“Ya. Alhamdulillah hidayah buat saya. Saya mualaf tiga bulan lalu. Saya bangga namun sekaligus sedih. Saya butuh guru. Tapi, oh ya maaf, sudah jam 5.30 pagi. Kita harus siap-siap berangkat kerja. Jam tujuh tepat saya ada meeting dengan Owner. Saya cukupkan hanya sampai disini saja. Wassalammu’alaikum”. Salam Willy Iskandar dijawab para jamaah sholat subuh yang sebenarnya sedang penasaran dengan cerita kemualafan sang Construction Manager itu, beberapa pertanyaan pun muncul dari para jamaah yang sengaja menghalangi Willy Iskandar untuk berhenti bercerita.

“Pak Willy, kapan bapak bisa cerita soal kenapa bapak bisa jadi mualaf?”, tanya Yedi, sang operator excavator.
“Besok saja ya, ba’da subuh, jam-jam seperti sekarang ini. Besok kan satu Januari dan kebetulan hari Minggu. Kita libur, jadi kita bisa berlama-lama di sini”, jawab Willy Iskandar.

“Sebaikanya nanti malam ba’da Isya saja pak Willy, kita malam tahun baruan di mushola ini sambil dengerin cerita bapak. Bagaimana?” usul Rido yang berprofesi sebagai dokter perusahaan di proyek itu.

“Silahkan diatur aja, saya siap. Tapi besok pagi kita subuh berjamaah lagi ya?!”, tiba-tiba sepi. Tak satupun jamaah di mushola tanpa nama itu menjawab ajakan Willy Iskandar untuk sholat subuh berjamah besok. Bisu. Semua wajah jamaah yang semula cerah tiba-tiba berubah kusut yang kemudian lenyap begitu saja dari mushola itu, begitupun Rido, Haryo dan Haji Junai. Semua lenyap dari pandangan Willy Iskandar. Di mushola itu sekarang hanya tinggal Willy Iskandar sendirian. Willy Iskandar terkejut kebingungan sebenarnya apa yang terjadi di mushola itu? Ia gelisah gemetaran tanpa bisa berucap apa-apa meski ingin menjerit sekeras-kerasnya. Kedua kakinya seakan tak berfungsi lagi untuk berdiri dan berlari, apalagi tiba-tiba pintu mushola dari arah luar ada yang menggedor bertubi-tubi dengan keras sekali.

“Dor dor dor dor! Dor dor dor dor dor dor dor!!!”

“Willy, ayo bangun! Kita tahun baruan ditempat kerja. Kita piket kerja hari ini!!!”. Nama Willy semakin lama semakin keras disebut. Lambat laun mulai jelas bahwa pemanggil namaku itu adalah Hendrik, kawanku. Aku harus segera bangun. Ya, aku giliran piket dihari pertama ditahun 2017 ini. Tapi, ohhh, subuhku??! Aku kesiangan lagi!!!*

Karya M.A. Bagayo, cerpen fiktif diilhami Gerakan Sholat Subuh Berjamaah.
Penindaian, white base camp No. 11, ujung Desember 2016.



Leave a Reply

You might also likeclose
%d bloggers like this: