PKKPKK, singkatan dari apa ya? Buat para orang tua yang berusia diatas 40-an masihkah ingat dengan yang namanya pelajaran PKK?

Kita sering melihat papan nama yang bertuliskan PKK, terutama di kantor-kantor pemerintahan, mulai dari kantor Kelurahan, Kecamatan, Kantor pemerintahan daerah tingkat II (Kotamadya atau Kabupaten) dan Gubernur. Tim penggerak PKK diketuai oleh istri pimpinan daerah. Bisa dikatakan bahwa kunci berjalannya program dan kegiatan PKK ada pada peran nyata yang diwujudkan oleh istri Pimpinan Daerah.

Sejarah singkat PKK

PKK memiliki sejarah pendirian dan perubahan nama kepanjangannya.




  1. Tahun 1957, di Bogor, Seminar Home Economic.
  2. Tahun 1961, Tindak lanjut Seminar Home Economic, penyusunan tata susunan pelajaran pada Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Kementerian Pendidikan bersama kementerian-kementerian lainnya menyusun 10 segi kehidupan keluarga.
  3. Tahun 1967, Gerakan PKK dimasyarakatkan pertama kali oleh istri Gubernur Jawa Tengah saat itu (ibu Isriati Moenadi) setelah melihat keadaan masyarakat yang menderita busung lapar.
  4. Tahun 1972, tanggal 27 Desember, nama pendidikan kesejahteraan keluarga menjadi pembinaan kesejahteraan keluarga. Sejak itu gerakan PKK dilaksanakan di seluruh Indonesia dengan nama Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Maka dari itu 27 Desember ditetapkan sebagai “hari kesatuan gerak PKK” yang diperingati pada setiap tahun hingga sekarang.
  5. Tahun 1999, di era reformasi berubah nama menjadi Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK).

Waktu SD hingga SMP dahulu, atau sekitar hingga tahun 1982 PKK masih diajarkan di sekolah. Khususnya yang saya ikuti. PKK disitu kependekan dari Pendidikan dan Keterampilan Keluarga.

Jadi PKK ada dua kepanjangan. PKK yang terakhir disebut adalah mata pelajaran yang pernah diajarkan di sekolah-sekolah, sedangkan PKK yang kedua adalah kependekan dari Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga.

PKK sebagai mata pelajaran yang pernah diajarkan hingga tahun 1980-an. PKK mengajarkan antara lain mengenai tata krama, sopan santun, adab bertetangga, gotong royong, dan lain-lain. Di era sekarang hal-hal tersebut masih sebagian diajarkan di sekolah-sekolah dalam muatan lokal (mulok).*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.