satiman1Pak Satiman tak pernah merasa gagal dengan jenjang pendidikan yang telah ia raih, ia merasa inilah yang terbaik untuk dirinya. Itulah buah kerja keras dirinya dan kedua orang tuanya yang petani. Ia lulusan STM Sutomo angkatan pertama di kota Cilacap. Di sekolah ini pak Satiman mengambil jurusan Mesin.

Lulusan STM, dirasa Pak Satiman belum puas, ia merasa bahwa ia harus mampu meraih lebih tinggi lagi dalam segi pendidikannya. Meski hal ini hanya sepintas dipikirkannya namun tekad itu ia simpan terus dalam batinnya.

Selepas lulus STM ditahun 1981 pak Satiman yang masih remaja ini langsung bekerja sebagai pembantu tukang las (helper) untuk selama 3 bulan di proyek konstruksi Cilacap. Di proyek itu pula ia mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan yang melatih seseorang dapat mengerti dan bisa sebagai pelaksana kerja dalam konstruksi perpipaan (construction of piping work). Pelatihan ini diadakan oleh Pemda Cilacap dengan Fluor Daniel (FD) di tahun 1982.

Selepas mengikuti kursus construction of piping work ia ditawari kerja untuk sebuah proyek di Kalimantan, saat itu ia menolak untuk merantau. Ia memilih menganggur dan tetap berada di Cilacap. Dalam masa pengangguran ini ia dikenalkan dengan seorang gadis kelahiran Cilacap, setelah satu bulan berkenalan pak Satiman muda ini menikahi gadis tersebut.

“Saya nikah, daripada nganggur saat itu”, kata pak Satiman ketika sekolahajadotcom berbincang dengannya di ruang tunggu Bandara Soetta Cengkareng sebelum pak Satiman terbang ke Palembang.

Pak Satiman mau menikah dikala menganggur karena dia berprinsip bahwa dengan menikah maka ia otomatis telah memiliki istri dan nantinya akan memiliki anak, ia sangat percaya dan yakin bahwa dengan adanya istri dan anaknya itu akan membawa rejeki tersendiri bagi diri dan keluarganya. Prinsip itu tertanam berkat nasihat orang tua pak Satiman dan para saudara tuanya.

Tak lama berselang dari bulan pernikannya ia boyong istrinya ke Jakarta, ia bekerja di Ibukota di sebuah proyek PLN. Di proyek ini pak Satiman sebagai helper untuk pekerjaan penarikan kabel (pulling cable). Selama di Jakarta, istri pak Satiman ikut menambah kocek keluarga dengan bekerja disebuah perusahaan konveksi di kawaasan Pulogadung. Disebuah rumah kontrakan sekitar kawasan Pulogadung mereka selalu bertemu disetiap petang hingga pagi hari. Hal tersebut dijalaninya hingga penghujung tahun 1986.

Melihat kandungan istri kian membesar maka pak Satiman meminta istri tercintanya berhenti bekerja dan memulangkan sang istri ke kampung halaman di Cilacap. Sementara pak Satiman terus mengadu nasib di Jakarta.

Saat anak pertamanya lahir pak Satiman tak langsung pulang ke Cilacap untuk menyambutnya, namun ia tetap berada di Jakarta untuk terus bekerja.

“Waktu itu alat komunikasi tidak secanggih sekarang, ada telepon rumah, ada hp”, ungkap pak Satiman.

“Waktu itu saya mendapatkan kabar sepuluh hari setelah kelahiran dari surat istri yang dikirim melalui pos dan giro”, imbuhnya sambil mata pak Satiman seakan sedang mengingat saat-saat kejadian itu.

Sekitar setengah tahun bekerja di Jakarta setelah balik kampung menyambut kelahiran anak pertamanya, pak Satiman merasa ada sesuatu yang belum memuaskannya. Ia merenung di suatu malam, kalau terus menerus menjadi helper makan apa nanti istri dan anak saya, bisa sekolah nggak anak saya nanti, begitu kata pak Satiman. Dengan upah seorang helper bikin akte kelahiran saja gak mampu dan ia sampai pinjam uang ke saudaranya. Melihat hal itu pak Satiman ‘dimarahi’ oleh orangtua pak Satiman karena meminjam uang.

Ditahun 1997 pak Satiman memutuskan balik kampung. Ia memilih berjualan kelapa, lebih tepatnya sebagai seorang tengkulak kelapa. Ia beli buah kelapa petikan para petani di desanya, dikumpulkan dan dijualnya ke para pedagang di pasar. Sebagai tengkulak kelapa dijalani pak Satiman sekitar satu tahun lebih.

satiman4Pada tahun 1989 ia kembali ke dunia proyek, proyek Pertamina di Cilacap juga. Ia sebagai tukang setel pipa kelas 2 (pipe fitter-2 atau PF-2), berjalan tiga bulan ia naik pangkat menjadi PF-1. Pak Satiman lagi merasa tidak puas dengan bertahun-tahun di posisi PF-1. Ia terus rajin bekerja dan terus belajar. Akhirnya di tahun 1992 ia naik menjadi Mandor (Foreman) untuk proyek Pusri 1B, Palembang.

Karir dalam konstruksi pipa berturut-turut di tahun 1996, ia naik posisi sebagai asisten penyelia (asisten supervisor), di tahun 2009 ia berhasil menduduki posisi piping supervisor.

Dari mulai jenjang pendidikan dan karir kerja pak Satiman selalu didasari rasa ketidakpuasan batinnya. Rasa ketidakpuasan dalam batin terkait karir kerjanya itu adalah menjadi urusan pak Satiman sendiri, sedangkan urusan ketidakpuasan soal pendidikannya ia selalu curahkan kepada anak pertamanya.

Curahan hati pak Satiman kepada anak pertamanya tanpa disadari telah menjadikan pak Satiman sebagai seorang ‘motivator ulung’ bagi anak pertamanya, bak gayung bersambut. Sianak pun sangat memahami bahasa dan maksud bapaknya.

Anak pertama pak Satiman sekarang sedang menempuh jenjang pendidikan S3 di Jerman. Bagaimanakah jurus-jurus pak Satiman membakar semangat sekolah bagi anak pertamanya?

Anak pak Satiman S3 di Jerman.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.