Pagi dihari Minggu itu badanku segar sekali dan rasanya wajahku saat itu berseri-seri, bahkan aku merasa rupa wajahku dipagi itu terganteng selama hidupku! Huahahaha…. Aku sedang merasa sangat senang. Senang karena dipagi itu aku sempat berolah raga! Coba bayangkan selama empat minggu aku benar-benar berkutat dengan kerja dan kerja saja, gak ada yang lain. Sabtu dan Minggu bukan hari libur, masuk kerja terus, pergi pagi pulang malam. Berarti aku bekerja 14 jam perhari selama tiga puluh hari. Wuihhh! Apakah cuman aku yang seperti itu? Tidak juga. Bukan cuman aku yang begitu. Ada Pak Matno,  pak Waryandi, pak Tagiran, pak Gusur, pak Ngadimin, pak Yaminal dan masih ada lagi yang lain, semuanya kerja terus selama empat minggu tanpa hari libur demi kejar target!

Pagi itu sehabis solat subuh sekitar jam lima lewat sedikit hingga hampir jam tujuh pagi aku jogging dan jalan cepat diatas sepatu kets ku yang baru kubeli sebulan lalu seharga 135 ribu rupiah. Lho, kok murah harganya? Hehehe, aku sedang berhemat. Berhemat buat biaya sekolah anak-anakku! Aku disini mencari nafkah sedangkan anak-anakku menuntut ilmu disana. Ya Allah aku sangat rindu anak-anakku, aku begitu kangen mereka. Jadikanlah harta yang kukais dan kudapat dari kerja ini adalah halal bagiku dan anak-anakku. Jadikanlah mereka baik-baik saja disana. Jadikanlah mereka anak-anak yang soleh-solehah hingga kelak dewasa dan selamanya.

Pagi jam 8.30 dihari Minggu itu aku dan pak Waryandi tetap masuk kerja untuk hari ke tiga puluh satu non-stop tanpa hari libur. Kami berdua telah sepakat, khusus dihari itu masuk kerjanya tidak jam tujuh melainkan jam setengah sepuluh. Kami berdua menggunakan Innova pergi dari tempat kos kami menuju kecamatan Keradenan kabupaten Blora, tempat kami kerja. Kos kami ke Keradenan berjarak 28 kilometer. Saat mencapai kilometer 22 kami berhenti tepat di warung Minong, begitulah sebutan populer warung itu. Kami berdua sudah berlangganan sarapan pagi disitu sejak lima bulan lalu. Di warung itu pak Waryandi bisa terpenuhi pesanan khususnya yakni direbuskan wortel dan tahu kuning setiap pagi.

wrgMinongWarung Minong terletak di tepi lintasan alternatif Purwodadi – Cepu. Badan jalan depan warung Minong tak terlalu lebar dan benar-benar tak mulus kondisinya, meskipun begitu banyak kendaraan berkategori muatan menengah yang lewat lintasan tersebut. Sepanjang lintasan itu tak ada satupun jembatan timbang bagi kendaraan bermuatan, mungkin karena itulah menjadi pilihan yang disukai para supir truk dan mobil box. Warung Minong senantiasa dihampiri para supir truk dan supir mobil box.

Warung Minong mempunyai masakan yang spesial bagiku dan pak Waryandi yaitu hidangan serba panas. Nasi putih panas, sayur rebung panas, goreng ikan asin panas dan goreng tempe tepung panas. Gara-gara hidangan serba panas itulah yang bikin kami berdua betah sarapan di warung itu. View sekitar warung sangat terasa asri alam desa, bagiku unik menarik. Depan warung terbentang ladang jagung yang batang-batangnya kuning mengering di tanah milik Perhutani, mungkin dua atau tiga hari lagi akan dipanen pemiliknya. Diatas tanah itu juga barisan jati milik perhutani berusia sembilan setengah tahun dibiarkan kering tanpa daun, yang aku dengar akhir tahun ini jati-jati itu akan ditebang.

Jagung JatiSamping kiri-kanan warung Minong adalah kebun terong yang buahnya berwarna ungu dan seminggu lagi siap untuk dipetik. Belakang warung ada ladang labu siam yang mulai berbuah sebesar kelereng, belakangnya lagi adalah hamparan sawah hijau berumur satu setengah bulan, dan dibelakanya lagi dibalik hutan jati bertengger gunung Lawu. Disitu, jika pagi tiba kabut tebal selalu turun. Diatas jam delapan pagi sinar matahari mendorong kabut ke langit. Burung-burung sawah terbang kesana kemari, ada yang berkelompok ada yang menyendiri. Siulan dan kicauan burung-burung itu seakan memantul dari satu pohon ke pohon lainnya. Sungguh alam yang cantik dalam irama yang cantik pula. Suasana desa sangat terasa, aku suka!

Pagi itu di warung Minong, aku ambil nasi putih panas, tempe tepung panas, sayur rebung panas dan sambal. Pak Waryandi memilih menu yang sama, gak lupa pesanan khususnya wortel dan tahu kuning rebus. Ia memilih tempat duduk menghadap depan warung sedangkan aku memilih duduk di dapur tepat berhadapan dengan tungku berkayu bakar yang membara dan berapi merah. Hangat.

Aku di dapur menemani mbok Tarmi yang sedang masak air kopiku di panci, kopi klothok namanya kata mbok Tarmi. Kopi itu aku minta dibungkus plastik untuk aku seruput di kantor nanti. Selama aku sarapan mbok Tarmi tak henti-hentinya bercerita. Cerita mbok Tarmi  pagi itu menyatu dengan suasana hatiku, hingga tanpa kusadari akhirnya aku terhanyut mendengarkan cerita mbok Tarmi kata perkata. Coletah mbok Tarmi tak jua berakhir hingga habis sarapanku hingga ludes dua gelas air kelapa mudaku.

Mbok TarmiSetelah dianggap cukup berlama-lama di warung itu akhirnya kami berdua pamit. Diiringi lambaian tangan pak Waryandi kami meneruskan perjalanan meninggalkan warung Minong menuju tempat kerja kami. Aku tak tahu sejak kapan pak Waryandi harus melambaikan tangan khusus buat mbok Tarmi setiap saat akan meninggalkan warung Minong itu. Affair? Ah, gak mungkin. Pak Waryandi berusia tigapuluh sembilan tahun sedangkan mbok Tarmi enam puluh tiga tahun.

Di mobil saat meneruskan perjalanan menuju tempat kerja kami.

”Kok keliatan asyik banget sih tadi pak Kotis ngobrol sama mbok Tarmi di dapur?”, tanya pak Waryandi kepadaku membuka pembicaraan.

“Mmmmhh, cemburu?”, balik tanyaku diiringi senyum sambil kulirik wajah pak Waryandi yang tangannya sedang pegang setir mobil. Dia tertawa kecil. Sederet gigi putih bak biji jagung terlihat dari balik bibirnya yang kecoklatan.

“Begini brow…..,” kataku membuka yang ingin kuceritakan padanya.

“Mbok Tarmi tadi bercerita kepadaku mengenai sesuatu. Kali ini kualitas ceritanya benar-benar berbeda dari biasanya. Tidak lagi bergaya orang desa yang lugu, pagi ini dia seakan-akan tampil seperti orang bijak yang pandai berfilosopi. Rangkaian ceritanya begitu tertata, teratur dan berurutan,” jelasku. “Dan penuh makna!” imbuhku dengan tekanan yang dalam.

“Mmh. Trus?” tanyanya serius sambil memutar setir mobil kekiri kekanan menghindari jalan berlubang. Kulanjutkan ceritaku.

Panci Mbok TarmiKata mbok Tarmi, diatas tungku yang sama dengan panci-panci yang sama sudah menghasilkan ribuan kali masakan yang mengundang selera, dan para pembelilah yang menghabiskannya. Panci-panci itu mulai ia gunakan sedari jam empat pagi hingga jam lima sore setiap harinya. Setiap habis digunakan maka mbok Tarmi akan mencuci panci-panci itu kemudian dia pakai lagi untuk memasak lainnya. Jika petang tiba panci-panci itu dia gantungkan didinding dapur bersama wajan, langseng, dandang, alat parutan kelapa, dan perkakas dapur lainnya.

Panci-panci mbok Tarmi berbahan alumunium biasa bukan besi cor, keramik, kaca ataupun stainless steel. Alumunium sudah cukup bagi mbok Tarmi, katanya begitu. Menurut kesimpulannya dalam memasak ada empat unsur yang terpenting yakni tersedia bahan-bahan yang akan dimasak, peralatan memasak, air atau minyak, dan yang terakhir adalah tungku.

“Begitulah cerita mbok Tarmi tadi, wahai pak Waryandi yang manis,” kataku dengan suara bak penyiar tivi untuk menggoda pak Waryandi.

“Lantas apanya yang menarik, sampe pak Kotis bilang kalo mbok Tarmi seakan-akan tampil seperti orang bijak yang pandai berfilosopi?” kernyitan pak Waryandi terlihat jelas didahinya. Aku tak menjawabnya langsung, kulihat rumah-rumah di sebelah kiri jalan rata-rata memiliki sapi yang kandangnya persis berada disamping rumah-rumah itu.

“Apanya yang menarik?” tanyanya lagi dengan menolehkan wajahnya kepadaku. Dia serius.

Kujelaskan apa maksud cerita mbok Tarmi sesuai dengan yang dijelaskan mbok Tarmi kepadaku barusan di dapur itu.

“Yang menarik itu ya yang terkandung didalam cerita itu.”

“Apa yang terkandung didalamnya, wahai bapak haji Kotis Satria Purnomo?” tanya pak Waryandi dengan memainkan nada suara sekaligus memelesetkan namaku. Itu bukan gaya pak Waryandi, itu gayaku yang ia tirukan.

Begini. Kata mbok Tarmi, yang dimaksud empat unsur terpenting dalam memasak tadi adalah ibarat dalam dunia pendidikan. Bahan-bahan yang akan dimasak adalah simbolik dari para siswa. Kita tahu bahwa bahan-bahan yang akan dimasak itu adalah sangat beragam mulai dari sayuran, ikan-ikan laut, ikan-ikan tawar, umbi-umbian hingga rempah-rempah. Begitulah para siswa, beragam pula  asal usulnya, kebiasaan, sifat dan karakternya. Mereka dikumpulkan dalam satu wadah yaitu alat memasak, kita sebut saja wadah itu panci. Nah, menurut mbok Tarmi bahwa panci itu adalah sebuah sekolah. Panci tak harus berharga mahal agar masakan menjadi enak. Begitupun sekolah, tidak jadi jaminan sekolah yang berbangunan megah dengan fasilitas lengkap yang akan menghasilkan siswa-siswi yang cerdas dan berakhlak mulia.

Air atau minyak adalah simbol dari peran serta para orang tua wali siswa dalam mengimbangi pola dan sistim pendidikan yang diterapkan di sekolah. Para orang tua atau wali siswa dituntut selalu terlibat dalam pengawasan terhadap anak-anaknya yang menjadi siswa di sekolah terutama ketika si anak berada diluar jam sekolah. Jadi fungsi kontrol orang tua atau wali harus berjalan.

Unsur terpenting terakhir dalam memasak adalah tungku. Tungku adalah simbol dari Depdikbud atau Pemerintah. Bangunan fisik tungku adalah merefleksikan segala hal yang ditetapkan pemerintah terkait dunia pendidikan. Ia jangan dilanggar sebab ia adalah ruang terbatas. Jika panci diletakkan terlalu kekiri atau kekanan akan njomplang atau tumpah nantinya. Sedangkan kayu bakarnya adalah program-program atau materi-materi pendukung pada semua ketetapan pemerintah itu.

Kuhela nafas dalam-dalam lantas diam.

Pak Waryandi pun diam namun seperti ada yang sedang dipikirkannya.

“Jadi, bahan-bahan masakan itu ibarat para siswa. Panci adalah sekolah. Air atau minyak adalah fungsi kontrol orang tua siswa. Tungku adalah ketetapan pemerintah. Betul begitu?!”

“Ya, begitulah yang kudapat dari mbok Tarmi”, jawabku enteng.

“Lha, lantas unsur mana yang mengibaratkan guru. Guru itu termasuk unsur terpenting dalam dunia pendidikan, kan?!” nada pak Waryandi sedikit meninggi dengan tiga kernyitan di dahinya yang berminyak.

Aku tertawa tanpa suara, pertanyaan pak Waryandi itu mirip sekali dengan pertanyaanku ke mbok Tarmi saat di warung Minong beberapa menit lalu.

“Kata mbok Tarmi, dirinyalah yang diibaratkan guru.”

“Kok bisa begitu?” dengan bibir setengah monyong dan tiga kernyitan didahi berminyak terulang lagi.

“Masakan menjadi enak rasanya bukan karena bahan-bahan mentahnya dibeli dari super market atau impor dari luar negeri, bukan karena pancinya yang bagus atau mahal,  bukan karena air atau minyak yang digunakan adalah buatan pabrik dengan kemasan mewah, juga bukan karena tungkunya bernama kompor gas berpenampilan lux. Bukan, bukan karena itu semua. Masakan menjadi enak itu karena peran kokinya. Kokinya harus menjiwai dunia masak-memasak, mahir dan berkarakter. Koki yang cerdas pasti tahu akan masak apa dengan melihat bahan-bahan mentah yang tersedia, koki yang baik akan meletakkan panci diatas tungku berapi secara tepat. Koki akan mengatur besar kecilnya api sebab ia tahu seberapa panas yang dibutuhkannya. Koki tahu kapan panci harus ditutup kapan harus dibuka. Koki harus tahu kapan masakan dinyatakan mateng atau belum. Begitupun dalam dunia pendidikan, pendidikan di sebuah sekolah bisa bagus hasilnya bukan karena siswa-siswinya anak-anak para pejabat, anak-anak para pengusaha hebat atau anak-anak orang terpandang lainnya. Pendidikan bisa sukses bukan karena gedungnya berdiri mentereng dengan lengkap segala fasilitas. Dunia pendidikan kita bisa bersaing bukan karena dengan ketetapan-ketetapan yang dibikinnya selama tujuh hari tujuh malam tanpa tidur, atau karena segala keputusannya dibuahkan dari para pemikir yang kepalanya tanpa rambut.  Bukan, bukan karena itu semata. Pendidikan bisa menghasilkan siswa-siswi yang cerdas dan berakhlak mulia karena kesungguhan jiwa dan peran gurunya. Guru yang dibutuhkan untuk itu adalah guru yang benar-benar menjiwai dunia pendidikan, berilmu dan ikhlas. Guru termasuk yang sangat berperan terlahirnya siswa-siswi yang cerdas dan berakhlak mulia, tapi ingat, guru adalah unsur terakhir setelah empat unsur terpenting lainnya.”

Kuhela nafasku.

Pintu gerbang kantor tinggal 100 meteran lagi.

“Kenapa gak langsung aja disebut lima unsur terpenting dalam memasak atau lima unsur terpenting dalam dunia pendidikan?” pak Waryandi sepertinya kurang setuju dengan statement mbok Tarmi.

“Tak taulah. Hanya itu saja yang disampaikan mbok Tarmi padaku,” jawabku sambil kubuka kaca jendela mobil yang kami tumpangi, dua tentara dan dua satpam berdiri tegak memberikan hormat pada kami saat kami melintasi portal masuk halaman kantor.*

Taman seribu lampu – Cepu, Maret 2015

M.A. Bagayo

(Cerita pendek fiktif diilhami rutinitas sehari-hari).

2 thoughts on “Panci Mbok Tarmi”
  1. Terima kasih info tentang ini sangat bermanfaat.
    Oiya sekedar info nih, bekerja sebagai chef atau koki di kapal pesiar berpenghasilan tinggi lho.. Bahkan bisa sekaligus keliling dunia dan itupun dibayar dengan gaji yang besar..
    Semoga website ini terus menyajikan info yang menarik dan bermanfaat bagi pengunjung dan pembaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.