RSS
Facebook

Pandemi Virus Corona Berpotensi Meningkatnya Epidemi Obesitas Anak

IMG_20191005_164601Federasi Obesitas Dunia (World Obesity Federation) secara umum memperkirakan pada saat ini ada lebih dari 223 juta anak sekolah yang mengalami obesitas. Jumlah ini diperkirakan akan meningkat lagi menjadi 268 juta pada tahun 2025. Angka itu setara dengan jumlah penduduk Indonesia saat ini!

Federasi Obesitas Dunia beranggotakan para profesional ilmiah, ahli medis, dan peneliti. Federasi ini mendedikasikan dirinya untuk memecahkan masalah obesitas global.

Federasi ini menyikapi Organisasi Kesehatan Dunia WHO yang selama pandemi coronavirus merekomendasikan penutupan sekolah untuk mencegah penularan virus lebih lanjut secara global.

 

Dampak libur panjang pada obesitas anak

Di Indonesia, melalui alatSurat Edaran” para pemimpin daerah dengan levelnya masing-masing meliburkan para anak didik di wilayah kekuasaannya. Para pemimpin daerah tersebut meneruskan yang telah diputuskan melalui surat edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI no. 3 tahun 2020, tentang Covid-19.

Menutup sekolah-sekolah apalagi diperkuat dengan munculnya kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) tentu merupakan bentuk pemaksaan pada anak-anak hingga tingkat universitas untuk tetap di dalam rumah. Diakui ini bertujuan baik untuk mencegah merebaknya Covid-19.

Penulis yakin pembaca menyetujui, banyak anak-anak memiliki pengalaman penambahan berat badan setelah menjalani liburan sekolah. Seperti liburan semester, liburan hari raya, tahun baru masehi.

IMG-20191107-WA0094Hal ini diatas sejalan dengan kekhawatiran beberapa peneliti dari Federasi Obesitas Dunia bahwa penutupan sekolah karena jangka panjang pandemi akan berdampak pada kesehatan anak-anak yakni memperburuk epidemi obesitas anak.

Para peneliti tersebut berpendapat bahwa data dari studi sebelumnya menunjukkan sebagian besar anak-anak cenderung menambah berat badan, bukan selama tahun sekolah.

“Although we criticize schools a lot for poor nutrition and physical activity, children actually tend to gain weight during the summer months, when school is out of session,” says Andrew Rundle, associate professor of epidemiology at Columbia University’s Mailman School of Public Health and lead author of the recent study that was published in the journal, Obesity. (Menurut freelance jounalist Anuradha Varanasi di site forbes.com).

Pada mulanya, semua orang khususnya para orang tua berpendapat bahwa lockdown dan penutupan / meliburkan sekolah tidak akan berlangsung lama. Namun apa yang terjadi sekarang. Liburan diperpanjang hingga setelah Lebaran?

Apa yang dilakukan para orang tua dan anak-anak selama stay at home? Menghilangkan jenuh dan suntuk dengan makan lebih banyak dari pada biasanya, betul?!

Sekolah-sekolah secara nasional telah ditutup sebulan lebih, dan mungkin tidak dibuka kembali sampai setelah lebaran. Walaupun tidak melalui berupa penelitian namun kita dapat melihat setidaknya anak-anak yang menjalani masa liburan sangat panjang karena Covid-19 ini mereka asyik dengan game online, ngemil, banyak makan berkalori tinggi, sementara gerak fisik terbatas.

banner5forbes.com mengatakan, The researchers started looking at trade magazines and analyzed what kind of food was being sold and also, the statistics on online gaming. “What we’re seeing is that yes, people were buying lots of energy-dense foods. The data on online gaming has also been going up,” explains Rundle. “The school closures are making it harder for kids to be physically active and that means, there’s also going to be a lot more snacking on unhealthy foods.”

Apa yang ditulis oleh forbes.com tersebut sejalan yang dialami anak-anak kita di rumah. Betul kan?!

Disisi lain, pemberlakuan social distancing berdampak pula pada timbulnya krisis ekonomi saat ini. Kita bisa melihat melalui berita dari manapun adanya keluarga yang menghadapi kerawanan pangan.

Secara umum Covid-19 telah mengganggu roda perekonomian Indonesia yang juga di dunia secara keseluruhan. Dimana-mana beberapa usaha mengalami penurunan penjualan barang atau jasa atau malah menghentikan operasi.

usa proteters1Kita lihat di Amerika adanya desakan dari warganya yang menggelar aksi demo di sejumlah negara bagian untuk memprotes aturan lockdown wilayah, yang diterapkan karena pandemi virus corona. Protes semacam itu bukan saja terjadi di Amerika namun juga di negara-negara lainnya.

Kembali ke obesitas anak-anak, para peneliti federasi tersebut menunjukkan bahwa risiko kenaikan berat badan di kalangan anak-anak Amerika terjadi pada tingkat kehidupan level atas hingga rendah dengan alasan keterbatasan aktifitas fisik.

Pada alenia diatas tentunya tidak hanya dapat terjadi di Amerika, kondisi tersebut masih sangat relevan pada kehidupan dimanapun termasuk Indonesia. Tapi bagaimanakah dengan anak-anak yang hidup dengan cukup ruang baik didalam rumah maupun alam terbuka?

Itulah bantahan seorang peneliti asala Selandia Baru, Samantha Marsh. Ia adalah peneliti di bidang kesehatan populasi dari University of Auckland, mengatakan masih terlalu dini untuk memprediksi apakah penutupan sekolah selama pandemi coronavirus akan memperburuk epidemi obesitas atau tidak.

hari anakDia mengatakan bahwa di Selandia Baru, ada banyak ruang terbuka dengan kepadatan populasi rendah.

Berbeda dengan Samantha Marsh, maka Paul Von Hippel, associate professor di LBJ School of Public Affairs, Universitas Texas, Austin, mengatakan kemungkinan orang dewasa dan anak-anak sama-sama akan mencoba menghilangkan kejenuhan dengan banyak banyak makan-makanan yang mereka sukai dengan kadar lemak tinggi dan karbohidrat sederhana.

Mari kita lihat diri kita sendiri, apakah kita dan anak-anak di rumah cenderung menghabiskan waktu di atas kasur untuk tidur, berbaring di sofa, berlama-lama menonton TV,  asyik berjam-jam dengan youtube atau game online? Jika ya, pertanyaan berikutnya, sambil ngemil and banyak makan? Jika ya, anda mempunyai potensi dan resiko menjadi obesitas!

Bagaimanapun kondisi kita dan apapun alasannya kita harus sempatkan berjemur dibawah sinar matahari pagi, agendakan rutin untuk berjalan-jalan atau lari-lari kecil di sekitar rumah sambil menjaga jarak fisik, melakukan latihan ringan di rumah seperti lompat ringan berulang, push-up, dll.

dgKita tahu bahwa obesitas pada masa anak-anak menyebabkan antara lain komplikasi kesehatan lainnya seperti diabetes, penyakit hati, tulang, dan masalah persendian, tekanan darah tinggi, kolesterol darah tinggi, penyakit hati, dan juga masalah pernapasan seperti asma.

Semangat kita semoga tak akan pernah luntur dimana menjadikan situasi sulit di era Covid-19 ini dapat dirubah kedalam bentuk aktifitas positif yang penuh berkah. Semoga!***




Leave a Reply

You might also likeclose
%d bloggers like this: