guru AmerikaKasus ini berawal dari perintah Gubernur Atlanta – Amerika Serikat, Sony Perdue, untuk dilakukan penyelidikan secara menyeluruh atas kejanggalan yang dimuat surat kabar the Atlanta Journal-Constitution. Kejanggalan mengungkapkan nilai ujian murid-murid sejumlah sekolah di wilayah itu meningkat drastis. Penyelidikan dimulai sejak 2009 dan pada tahun 2011 laporan telah selesai dibuat. Laporan menyimpulkan bahwa setidaknya 44 sekolah terkait dengan penyimpangan yang terorganisir.

10 pelaku dalam kasus mark-up nilai sekolah ini divonis oleh pengadilan negara bagian Atlanta dengan hukuman penjara, kerja sosial (kerja ribuan jam tanpa dibayar) dan sejumlah denda.

Sebanyak 3 dari 10 tenaga pendidik divonis dengan hukuman 20 tahun penjara atas keterlibatan mereka dalam membetulkan jawaban ujian murid-murid agar nilai tes mereka menjadi lebih baik. Hukuman penjara tersebut dengan rincian tujuh tahun mendekam di sel, sedangkan sisanya di luar penjara. Ketiga tenaga pendidik dengan jabatan sebagai  penilik sekolah itu juga harus bekerja sebagai pelayan publik selama 2.000 jam tanpa dibayar dan denda sebesar US$25.000.

Lima pendidik lainnya, yakni kepala sekolah, wakil kepala sekolah, dan guru-guru, divonis lima tahun penjara dengan rincian mendekam 1 – 2 tahun di sel dan sisanya di luar sel. Mereka juga harus bekerja sebagai pelayan publik selama 1.000 – 1.500 jam tanpa dibayar dan denda yang berkisar antara US$1.000-US$5.000.

Dua orang pendidik sisanya divonis lebih ringan karena mereka mengaku bersalah. Salah satunya menjalani kurungan penjara hanya pada akhir pekan selama enam bulan, bekerja sebagai di sektor layanan publik selama 1.500 jam tanpa dibayar, dan didenda US$5.000. sedangkan satu pendidik lainnya menjadi tahanan rumah dari pukul 19.00 hingga 07.00 selama satu tahun, bekerja sebagai pelayan publik selama 1.000 jam, dan denda US$1.000.

Pendidik terakhir, yang berstatus mantan guru, mendapat penundaan vonis karena baru melahirkan pada akhir pekan lalu. Dia akan disidang pada bulan Agustus 2015.

Jerry Baxter, hakim yang mengani kasus ini, mengatakan ke-10 tenaga pendidik bersalah karena secara sengaja telah mengubah jawaban lembar ujian agar kemampuan murid tampak meningkat. Jika kemampuan murid menunjukkan perkembangan signifikan, hal ini praktis berdampak pada bonus dan penghasilan mereka.

“Ini hal paling menjijikkan yang pernah terjadi di kota ini,” kata hakim Baxter.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.