Aku merasa Islamku islam yang memalukan, diusia yang terus beranjak namun banyak ilmu pengetahuan yang terabaikan bahkan banyak ilmu yang belum kuketahui dan kupahami, apalagi sampai tingkat menghayati. Padahal jelas-jelas sudah kuketahui bahwa kita diperintahkan “Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga liang lahat”. 




Ternyata aku sebagai  manusia yang jijik-an, ‘sok jijik’ atau mudah jijik. Contoh, ketika berjalan kemudian melihat tahi kucing ditambah lagi tercium baunya maka aku langsung “wuoook…” nyaris muntah. Atau tak sengaja melihat bangkai tikus terkapar dijalanan apalagi dengan usus terburai maka aku langsung “wwuook…hwuok” bisa jadi bener-bener muntah saat itu juga.

sate usussMelihat bangkai tikus dengan usus terburainya satu bulan lalu tapi akan teringat terus terutama kala aku akan makan atau sedang makan. Apalagi yang dimakan menerupai bentuknya, misal sate usus ayam atau gule jeroan kambing. Jika sedang nikmat-nikmatnya makan sate usus ayam atau gule jeroan kambing dan tiba-tiba teringat bangkai tikus itu maka akupun langsung mual-mual ‘wuook’ and stop makan. Tersiksa aku jadinya.

‘Sok jijik’ ku juga sering muncul secara tiba-tiba jika sedang berjalan dengan seseorang dan orang tersebut tersebut sekonyong-konyong buang dahak atau ingus didekatku maka aku akan terasa ingin muntah “…wuook!!”. Aku lebih merasa jijik lagi jika sedang makan kemudian terdengar orang buang ingus atau dahak. Wuihh! Tak ada pilihan, aku langsung berhenti makan. Kenyang tidak kenyang, kegiatan makan harus dihentikan. Jijik!!!

Ketika kecil aku selalu menghindari makan bersama, makan bersama dalam satu nampan maksudku. Aku jijik ada jemari tangan orang lain masuk dalam nasi yang akan aku makan. Aku jadi jijik membayangkan jemari tangan orang lain, entah teman sendiri atau saudara sendiri yang masuk kemulut mereka kemudian dimasukkan lagi jemari itu ke nasi yang ada di nampan itu “….wuook!”. Belum lagi nasi yang terjatuh ke nampan dari mulut-mulut mereka.

Semua rasa ‘sok jijik’ diatas sangat terasa ketika aku sekolah SD hingga awal-awal aku mulai bekerja. Lambat laun rasa ‘sok jijik’ itu sirna dengan berjalannya waktu. Puncak hilangnya adalah ketika aku bertugas di Jakarta. Kala itu tahun 2015, aku terkadang menghadiri pengajian disebuah surau yang tak jauh dari tempat stay-ku. Pengajian itu diadakan rutin seminggu dua kali ba’da solat magrib.

nisfuuSuatu saat aku diundang oleh ustadz dan jamaah pengajian itu dalam acara penutupan pengajian tahunan. Karena diundang maka akupun datang. Dalam acara penutupan pengajian itu setelah kata sambutan dari pengurus musholla, ustadz dan pak RW lantas disambung dengan solawatan dan do’a. Sehabis itu belasan nampan berisi nasi uduk dengan lauk paru dan babat kambing goreng dan telur bulat dihidangkan ditengah-tengah jamaah. Tanpa komando para jamaah mengambil nampan tersebut, tiap nampan berukuran besar itu dikitari tiga hingga empat jamaah, aku pun termasuk seperti jamaah lain duduk bersila didepan nampan berisi nasi dan lauk-pauk. Aku makan lahap, lahap sekali. Aku benar-benar lupa dan tak terpikir sama sekali soal rasa jijik. Ya Allah, nikmat!

Karena hubunganku dengan jamaah surau kian hari kian dekat maka suatu hari aku diundang lagi untuk hadir ba’da solat isya di acara Isro’ Mi’roj di surau itu. Sebelum menghadiri acara itu kuniatkan  sengaja tak makan malam sebelumnya, aku sangat yakin akan ada acara makan-makan dalam satu nampan lagi. Keyakinanku itu ‘pasti’ karena aku termasuk penyumbang dana diacara tersebut.

Selesai acara inti Isro’ Mi’roj, kami makan-makan dalam satu nampan (lihat video dibawah ini). Saya benar-benar bisa merasakan nikmatnya makan bersama dalam satu nampan. Kala itu nampan berisi nasi kebuli dengan lauk daging kambing bakar dan gule tanpa kuah. Aku dan para jamaah lain makan dengan jemari tangan masing-masing. Kala itu aku teringat bangkai tikus dengan usus terburai dan lain-lainnya yang menjijikkan, tapi aku tidak jijik lagi. Nikmat!

Rasa jijikku, saat makan-makan di Isro’ Mi’roj itu benar-benar hilang. Aku begitu menikmati daging kambing bakar, dan aku katakan hal itu kepada jamaah yang dalam kerumunan satu nampan denganku. Dua jamaah yang mendengar ucapanku langsung meletakkan daging kambing bakar punya mereka keatas nasiku. Mereka meletakkan daging-daging kambing bakar itu diatas nasiku dengan menggunakan jemari tangan mereka yang sudah ‘berlumur’ gule dan telah masuk kemulut mereka. Aku tak jijik sedikitpun. Aku cuek aja, kumakan semua itu dan nikmat!

nisfuSeminggu lalu di surau itu diadakan acara malam Nisfu’ Sya’ban, aku hadir diantara seratusan jamaah. Acara dimulai dari sambutan dan makna malam Nisfu’ Sya’ban oleh ustadz surau itu. Ustadz menguraikan salah satu kebesaran malam nisfu sya’ban, beribadahlah di malamnya dan puasalah di siang harinya sesungguhnya Allah menurunkan rahmatNYA dan para MalaikatNYA pada malam itu dan berkata siapa yang minta rezeki KUberi, siapa meminta keselamatan AKU pelihara, siapa yang hendak sesuatu maka akan AKU kabulkan sampai terbit fajar.

Kemudian lantunan ‘Ramadlan syahru ramadlan’ keluar dari mulut ustadz yang diikuti oleh para jamaah. Lantas dilanjutkan sholawat nabi dan kemudian kami semua bersama-sama membaca surat Alfatihah dan Yaasiin sebanyak tiga kali berturut-turut diselingi permohonan ampunan kepada Allah SWT.

Acara usai dan ditutup doa. Kala itu otakku sangat memperhatikan perutku, perutku berkata “lapar aku”. Otakku menjawab, “tenang, nanti habis acara ini akan ada nasi diatas nampan dan makan bareng-bareng dengan semua jamaah”.

Doa penutup usai, ustadz memerintahkan adzan dan langsung iqomah ke salah satu jamaah yang sangat aku kenal. Diujung iqomah kami semua serentak berdiri dan berderet memenuhi shaf-shaf untuk melakukan solat Isya berjamaah.




Usai sholat Isya seperti biasa disambung wirid dan sholat sunat rowatib. Waktu itu sholat sunnah rowatibku termasuk lambat selesai dibanding jamaah lain, saat salam kanan-kiri kulihat jumlah jamaah yang tersisa bisa dihitung dengan jari ditangan. Perutku bertanya,”malam ini tidak ada makan bareng dalam satu nampan?”.

“Betul, wahai perut, tak tercium sedikitpun aroma nasi kebuli ato aroma nasi uduk atopun aroma bawang goreng. Jamaahpun sudah tinggal segelintir”, jawab otakku.

“Aku tak mau tau, pokoknya malam ini aku harus diisi nasi sesuai tujuanmu datang ke surau ini”.

Otakku tak berkata apa-apa hanya mengangguk tanda setuju, sementara kalbuku sedih meyaksikan pembicaraan organ tubuhku antara perut dan otakku mengenai pengharapan akan satu nampan nasi dimalam Nisfu’ Sya’ban 2016.***

 

2 thoughts on “Pengharapan Kerdil Dimalam Nisfu’ Sya’ban”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.