1. cunuBeberapa hari seusai liburan sekolah akhir tahun 2017 saya sengaja menghubungi lima kawan lama saya. Saya menghubungi mereka melalui telepon. Pembicaraan pertelepon kami selain saling menanyakan kabar lantas ngobrol ngalor-ngidul, terkahir saya menanyakan bagaimana lima kawan saya ini mengisi acara liburan sekolah bagi anak-anak mereka. Mereka pun menanyakan hal yang sama pada saya.

Hasil pembicaraan dengan lima kawan lama tersebut singkatnya saya simpulkan bahwa mengisi liburan sekolah memerlukan biaya. Sedikit atau banyak biaya liburan yang dikeluarkan akan dipengaruhi jarak tempuh, pemilihan fasilitas liburan, pemilihan tempat menginap, durasi waktu liburan, pemilihan tempat makan, pemilihan model tempat wisata, dan lain-lain.

Oh ya, perlu diketahui taraf ekonomi rumah tangga saya dan kelima kawan saya bervariasi mulai dari yang sederhana, menengah dan ada yang bisa disebut sebagai konglomerat di kotanya.

Dari pembicaraan saya dengan kelima kawan tersebut saya juga menyimpulkan bahwa dalam berlibur bisa jadi muncul hal-hal seperti ini:

  1. Rasa ingin. Ingin di sini maksudanya seperti yang sering kita dengar: saya pingin tahu candi Borobudur, saya belum pernah ke taman safari, pingin merasakan mandi berenang di pantai, ingin bermalam di alam pegunungan, saya ingin liburan di kota besar, dan lain-lain.
  2. Terjadinya pertukaran tempat. Contohnya: keluarga/rombongan dari kota Pekanbaru berlibur ke Bali, keluarga/rombongan dari Denpasar berlibur ke Lombok, keluarga/rombongan dari Bima pergi berlibur ke Jogja, yang dari Jogja berlibur ke Pangandaran, yang dari Ciamis berlibur ke Palembang, dan seterusnya. Akibat hal ini bisa dilihat sibuknya lalu lintas di jalanan, sibuknya stasiun kereta api, ramainya pelabuhan penyeberangan, padatnya manusia di bandara, dan ramainya hunian hotel.
  3. Ada gengsi. Perasaan gengsi dapat muncul pada si anak maupun pada ortunya juga. Gengsi donk kalau liburan sekolah cuma di rumah saja, malu donk kalo cuma berlibur di dekat-dekat rumah, sia-sia donk kalau waktu libur digunakan hanya untuk menulis atau membaca buku, dan masih banyak lagi alasan yang berpatok pada gengsi. Pokoknya gengsi is number one, apalagi sekarang zaman semaraknya medsos. Kan satu hal yang prestige jika saat berlibur foto-foto yang kita unggah di medsos bisa bikin teman-teman berdecak kagum dan bergelimang acungan jempol.

cone9Nomor 1 hingga 3 diatas bisa saja bertambah, jika pembaca mengetahui silahkan tambahkan saja pada kolom komen dibawah. Yang jelas semua nomor tersebut diatas memiliki cost impact.

Dari pembicaraan saya dengan kelima kawan saya, saya merasa kagum dan setuju dengan uraian pengalaman berlibur tiga kawan dari lima kawan saya tersebut. Mereka bertiga memilih sesuatu yang murah dalam menjalani liburan sekolah. Pengalaman apa yang diuraikan ketiga kawan saya itu?

Ketiga kawan saya itu melakukan liburan sekolah bersama anak-anak dengan biaya murah dibarengi berburu ibadah. Lantas liburan yang seperti apa itu? Silahkan baca ‘Liburan Sekolah Murah Bernilai Ibadah 1’ KLIK DISINI. Baca juga ‘Liburan Sekolah Murah Bernilai Ibadah 2’ KLIK DISINI.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.