pisang diatas nanasJika ada pisang diatas nanas, maka itulah buah pisang yang berada diatas buah nanas. Ia bukanlah hal yang istimewa, semuanya biasa saja. Tak perlu dikeramatkan dan tidak boleh mengkeramatkan, apalagi dicampur asap kemenyan atau sejenisnya sebagai persyaratan mencapai tujuan dengan cara sesat.

Buah pisang dan buah nanas adalah sebagian ‘teramat sangat-sangat’ kecil dari penciptaan langit dan bumi oleh Allah dalam 6 hari. FirmanNya, “Dan sungguh, Kami telah menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari, dan Kami tidak merasa letih sedikit pun“. (QS. Qaf: 38).

Aku mempunyai kawan lama, kawan satu kos dimasa kuliah dulu. Ia selalu menyusun buah-buah kesayangannya selalu seperti itu, buah pisang selalu diletakkan diatas buah nanas. Selalu begitu dan begitu selalu dari waktu ke waktu. “Pokoknya harus begitu!”, bentak kawanku disuatu waktu.

Pernah suatu hari aku bertanya untuk kesekian kali kepada kawanku itu, kenapa harus pisang diatas nanas? Ia tak mampu menjelaskan secara teknis ataupun pembuktian empiris. Ia hanya menunjukkan warna merah di wajahnya dan terbaca kegelisahan dengan pertanyaanku itu. Akupun menjadi tidak bergairah menggali alasannya, kenapa harus pisang diatas nanas?

Dari hari ke hari aku jadi ingin terus mengamati kenapa kawanku itu selalu meletakkan buah pisang diatas buah nanas. Aku hanya curious dan ingin membuktikan secara empiris kenapa harus begitu. Dia selalu meletakkan buah-buah kesayangannya dengan susunan ‘pisang diatas nanas’ selama bersama diriku di rumah kos yang kami tempati.

Dihari-hariku saat itu, aku iseng-iseng saja menghubungkan rasa penasaranku “kenapa harus pisang diatas nanas” dengan berbagai ilmu yang ada dalam diriku, semampuku, dan pastinya sesempatku disela-sela kesibukan kuliahku. Aku coba menghubungkan ‘pisang diatas nanas’ dengan ilmu fisika seperti grafitasi, berat jenis suatu zat dan lain-lain, hasilnya nol besar. Aku kaitkan dengan ilmu biologi, aku bertukar fikiran dengan salah satu kawanku yang lain yang saat itu mahasiwa MIPA Biologi, ia hanya menjawab “ah, nggo opo dipikir, suwe-suwe kowe gendheng dhewe” (ah, buat apa dipikir, lama-lama kamu gila sendiri).

Aku coba menghubungkan dengan ilmu lain yakni ilmu ekonomi, kesimpulannya tak ada sama sekali hubungannya. Aku berkonsultasi dengan ibu dokter Endah Dewati langgananku saat aku ada kesempatan datang berobat kepadanya, malah jawabannya “jangan-jangan kamu sakit gara-gara memikirkan pisang diatas nanas?”

Aku berfikir, mungkin ‘pisang diatas nanas’ ada hubungannya dengan Ilmu Bahasa khususnya pantun. Saat itu aku utak-atik ‘pisang diatas nanas – hati gersang karena uang panas‘ atau ‘buah pisang diatas buah nanas – hati senang dapat undian tabanas‘. (Tabanas = tabungan nasional). Ahh, benar-benar makin jauh dari pembuktian empiris.

Di tahun ke-3 kebersamaanku dengan kawanku yang selalu meletakkan ‘pisang diatas nanas’ berakhir, kami berpisah, aku lulus sarjana duluan. Kutinggalkan kos-kosan dan kutinggalkan kawanku yang menciptakan ‘pisang diatas nanas’.

mpek225 tahun kemudian, sebulan lalu ditahun 2015 ini, aku bertemu dengan kawanku ‘pisang diatas nanas’ itu. Pertemuan di satu kedai mpek-mpek di kota Palembang, pertemuan yang benar-benar tak terduga setelah sekian lama putus hubungan! Sambil menikmati mpek-mpek kami bicara soal kabar masing-masing, ngalor-ngidul, hingga membuka misteri ‘pisang diatas nanas’.

Dalam suasana pertemuan yang sangat membahagiakan sekaligus mengharukan itu kami berdua dimalam itu sambil diiringi tawa cekikikan menyimpulkan tiga kesimpulan yang menggelikan.

Kesimpulan pertama. Kawanku, mengakui telah melakukan susunan ‘pisang diatas nanas’ bertahun-tahun di rumah kos tanpa alasan yang jelas dengan maksud ulahnya itu akan menjadikan dirinya sebagai bahan pembicaraan diantara teman-teman satu kosnya, kampus, tetangga. Kawanku bermimpi bisa menjadi orang terkenal karena keunikannya.

Kesimpulan kedua. Aku mengakui telah melakukan observasi atau pengamatan ‘pisang diatas nanas’ yang tidak perlu dilakukan alias melakukan hal yang sia-sia. Sedangkan kesimpulan ketiga, kami berdua mengakui, telah melakukan sesuatu yang sama-sama tergolong menyia-nyiakan waktu dimasa lalu, meski demikian tetap manis untuk dikenang dan bisa diceritakan.

Malam semakin larut, sebagian pintu-pintu kedai mpek-mpek mulai ditutup, kami berpelukan erat kemudian berpisah untuk membuat kisah-kisah baru.*

 

M. A. Bagayo
(Diketinggian Novotel Palembang, September 2015)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.