porter kai0Stasiun kereta sama dengan bandara yakni sama-sama memiliki orang-orang yang menyediakan jasa sebagai tukang pengangkut atau yang lebih dikenal dengan sebutan porter.

Porter di stasiun pun beroperasi resmi dan berbaju seragam dengan dilengkapi nomor punggung dan nomor dada.

Gambar-gambar diambil pada tanggal 19/7/2015 jam 22.00 Wib. Pada gambar pertama para porter di stasiun Gambir yang belum mendapatkan “tuan” maka terus mencari agar tenaganya dapat bermanfaat bagi orang yang membutuhkannya. Namun nampaknya para calon penumpang malam itu sangat jarang yang membawa banyak barang. Para calon penumpang rata-rata hanya membawa barang bawaan yang dapat dibawa sendiri tanpa perlu bantuan porter.

Secara fisik baik porter bandara maupun porter stasiun relatif sama, rata-rata berumur sekitar 35 tahun, semua berjenis kelamin lelaki, berbadan sehat, gesit, dan lain-lain.

porter kai6Berbeda dengan porter bandara, porter stasiun harus benar-benar gesit termasuk bermata jeli melihat calon “tuan” sebagai pengguna jasa. Kegesitan lain yang harus dikuasai oleh porter stasiun yaitu harus dapat lari cepat (sprint) untuk mengejar pintu kereta yang berjalan dan lihai melompat masuk ke gerbong kereta yang masih berjalan tersebut.

Secara umum sprint mengejar kereta dan melompat masuk gerbong yang sedang berjalan merupakan tindakan yang benar-benar tidak aman (unsafe act) dan bisa saja membahayakan orang lain (endangering others).

Melakukan sprint di peron perlu mendapatkan perhatian Manajemen KAI lantas mengevaluasinya dan mengambil kebijakan yang dapat menyempurnakan kenyamanan di stasiun yang dirasa telah membaik dibandingkan beberapa tahun lalu. Tentunya bukan hanya kenyamanan sebagai tujuan, yang terpenting adalah tindakan pencegahan terjadinya kecelakaan (accident prevention).

porter kai4Perjuangan porter stasiun memang ‘lebih seru’ jika dibandingkan porter bandara. Selain harus bisa sprint dan melompat maka mereka pun harus kuat dalam membawa bahkan memanggul barang bawaan milik “tuannya” tanpa menggunakan troli.

Membawa barang dengan cara memanggul syah-syah saja, namun perlu diingat bahwa stasiun merupakan tempat umum yang ramai dan terdapat pergerakan dari benda yakni kereta, itulah permasalahan yang perlu dikaji dari sisi keselamatan bagi pemanggul barang, orang lain dan keselamatan dari barang itu sendiri.

Seseorang yang sedang memanggul barang dipundak maka akan mengurangi radius pandang dan berpotensi mengurangi konsentrasi pemanggul jika beban yang dipanggul dirasa terlalu berat bagi pemanggul. Sehingga selain soal sprint maka masalah ‘memanggul barang’ pun perlu menjadi hal yang perlu dikaji ulang oleh manajemen KAI.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.