Ketika saya membaca cukilan-cukilan sebuah buku melalui beberapa situs diinternet, saya langsung membayangkan wajah anak-anak saya yang masih berstatus pelajar. Cukilan-cukilan yang saya baca adalah dari sebuah buku yang ditulis oleh Dr. Travis Bradberry, Emotional Intelligence 2.0. Buku ini merupakan bestselling di USA. Satu diantara situs yang saya buka didapat bahwa buku ini telah diterjemahkan kedalam 25 bahasa dan tersebar di 150 negara. Karena buku yang saya baca berupa cukilan-cukilan maka tidaklah lengkap dan tentu tidak sempurna, meskipun begitu saya berkeyakinan dapat menangkap garis besar bagian-bagian isi buku yang saya baca. Obyek dalam buku itu adalah usia kerja atau karyawan, dan mengulas usaha menumbuhkan rasa “percaya diri”alias pede, dimana dibahas juga IQ-EQ tests. Saya tak ingin mengulas soal karyawan sebagai obyek dalam postingan ini, maksudnya dari isi buku yang saya baca maka obyeknya saya prespektifkan terhadap manusia yang masih berstatus pelajar (anak didik) dalam lingkungan sekolah. Jadi isi tulisan ini adalah opini saya yang dipengaruhi dari sebagian buku yang saya baca tersebut diatas. Moga saja postingan ini bernilai bagi pembaca.




pedeHampir selalu pada wajah-wajah orang yang sukses akan memancarkan rasa percaya diri, begitupun wajah para anak didik yang sukses. Anak didik yang sukses tidak harus merupakan pelajar yang pintar atau bernilai akademik baik, sebab pelajar yang pintar dan berakademik baik belum tentu memiliki rasa percaya diri yang baik. Anak didik sukses yang dimaksud disini adalah mereka yang memiliki rasa percaya diri terhadap apa yang sedang mereka lakukan. Bukan sebuah kesuksesan yang membuat anak didik menjadi percaya diri, namun rasa percaya diri pada dirinya itulah yang membuat mereka sukses.

Mari kita untuk sama-sama berfikir tentang tiga hal penting terkait dengan percaya diri anak didik yang tersaji dibawah ini:

  • Ragu-ragu = Rasa tidak percaya diri. Mengapa kita percaya pada seorang anak didik, entah karena ide-idenya, atau kemampuannya dalam melakukan sesuatu keahlian atau mampu mengemban sebuah tanggung jawab. Mengapa kita percaya? Semua kepercayaan yang kita berikan kepadanya bisa jadi menghasilkan sebuah kegagalan atau tak akan berarti apa-apa alias nonsense jika kepercayaan yang kita berikan kepadanya berbarengan dengan keraguan pada anak didik tersebut untuk melakukannya. Kenapa anak didik tersebut ragu dengan kemampuannya untuk melakukan tugas yang dibebankan kepadanya?
  • Dibutuhkan rasa percaya diri untuk meraih angan-angan. Para anak didik yang penakut atau merasa tidak aman cenderung berdiam diri dalam zona yang dianggap mereka aman. Namun zona aman mereka ini akan berakibat mengkungkung mereka sendiri untuk meraih kemajuan. Sebab bisa jadi zona aman mereka itu sebenarnya adalah sebuah pilihan yang salah. Itulah sebabnya anak didik yang kurang percaya diri (lack confidence) sering terjebak dalam kebuntuan meraih kesuksesan dan membiarkan kesempatan berharga berlalu begitu saja. Ibarat seekor burung yang terikat salah satu sayapnya, bagaimana bisa terbang dengan satu sayap?
  • Anak didik berusia labil mudah dipengaruhi oleh eksternal . Anak didik yang memiliki rasa percaya diri baik tidak akan pernah merasa terhalang oleh hambatan, yang ada hanya bagaimana mereka bergerak dan menyelasaikan tugasnya sebagai seorang pelajar. Namun perlu diingat bahwa berapa sih kisaran usia anak didik? Sejauh mana tingkat kedewasaan dalam menghadapi suatu tantangan atau hambatan dalam meraih angan-angannya? Pengaruh eksternal negatif yang bertentangan dengan diri si anak didik akan berpengaruh buruk bagi dirinya untuk menuju sukses.

Anak didik adalah layaknya manusia pada umumnya, ia selalu memiliki keinginan atau kehendak, maka tak ada yang dapat menghentikan sebuah keinginan yang hendak dicapai oleh seorang anak didik kecuali oleh dirinya sendiri. Idealnya seperti itu. Tapi pihak eksternal si anak didik terkadang terlalu kuat untuk dilawan oleh dirinya. Inilah saatnya untuk membongkar dan membuang jauh-jauh penciptaan keraguan pada diri anak didik, khususnya dalam meraih sebuah keinginan menggapai sesuatu dengan memahami apa seharusnya peran pihak eksternal terhadap si anak didik.

Perlu digarisbawahi ‘keinginan’ pada paragraf diatas adalah keinginan positif dalam koridor perbuatan mulia. Perbuatan mulia tidaklah sekedar perbuatan baik. Jika perbuatan baik maka lawannya perbuatan buruk, tapi apakah lawan dari perbuatan mulia? Baik-buruk saya merasakan dua kata itu bisa jadi hanya sebatas tingkat penilaian manusia, namun ‘mulia’ adalah sesuatu yang ada korelasinya dengan nilai-nilai Keagungan Tuhan. Itulah yang saya maksud sebagai perbuatan mulia.

Rasa percaya diri atau keyakinan adalah sebuah pondasi penting pada jalan menanjak menuju sukses, dimana didalamnya ada kekuatan yang akan membawa seorang anak didik kesatu tempat yang ia sendiri tidak pernah berpikir akan mungkin dapat menggapainya. Dengan langkah yang tepat, jelas dan kerja keras, siapa pun bisa menjadikan anak didik lebih percaya diri. Pada titik tertentu (setelah dewasa) adanya rasa percaya diri bukanlah berasal dari orang lain, melainkan dari dalam dirinya sendiri.

Saya ingin mengajak khususnya diri saya sendiri dan para pembaca yang budiman, mari kita ikuti beberapa poin dibawah ini yang saya yakin berguna bagi kita dalam memotivasi anak didik untuk dapat meraih rasa percaya diri menjadi lebih baik lagi.

Jujur pada diri sendiri

pedelAda perbedaan antara kesombongan (conceit) dan rasa percaya (confidence). Kesombongan hakekatnya menipu diri sendiri, sedangkan rasa percaya diri adalah keyakinan bahwa kita bisa melakukan suatu pekerjaan yang akan kita lakukan. Rasa percaya akan diperoleh melalui belajar, penghayatan, kerja keras dan tahu dimana posisi kemampuan diri sendiri. Ketika rasa percaya diri kita melebihi kemampuan yang ada maka kita sudah melewati batas dan memasuki area arogansi (arrogance).

Rasa percaya diri yang nyata akan tertanam kuat dalam tingkah laku keseharian. Untuk lebih menumbuhkan rasa percaya diri pada anak didik, penting untuk kita ajarkan melakukan penilaian terhadap diri sendiri secara jujur dan seakurat mungkin atas kemampuan yang mereka miliki. Jika ditemukan ada kelemahan dalam kondisi mereka, dalam bakat atau keterampilan mereka, maka perlu ditemukan cara untuk memahami kondisi, melatih bakat, memperkuat keterampilan dan carilah cara untuk meminimalkan dampak negatifnya.

Mengabaikan, menutupi atau menyembunyikan kelemahan yang ada pada diri anak didik atau berpura-pura seakan mereka memiliki kemampuan atau keterampilan tertentu adalah sesuatu yang menjerumuskan diri anak didik. Demikian sebaliknya, dengan memahami kekuatan yang dimilikinya akan sangat memungkinkan ia mendapatkan keuntungan yang sangat mendasar dan kekritisan pada bidangnya bisa menjadi lebih baik. Pada akhirnya akan tercipta rasa percaya diri dalam diri sianak didik yang hidup dalam lingkungan sekolah yang bisa dikatakan selalu kompetitif.




Katakan Tidak

Penelitian yang dilakukan di Universitas California di San Francisco menunjukkan bahwa lebih banyak orang merasa sulit untuk mengatakan TIDAK. Jika itu terjadi pada diri seorang anak didik maka semakin besar kemungkinan ia akan mengalami kelelahan, depresi dan bahkan stress, yang semuanya akan mengikis rasa percaya diri. Jika rasa percaya diri seorang anak didik terkikis maka sejak itulah ia berteman dengan yang namanya keraguan. Berbeda dengan anak didik yang memiliki rasa percaya diri, ia merasa (tahu) bahwa mengatakan TIDAK itu enjoy (logik dan sehat), dan mereka memiliki harga diri untuk membuat TIDAK dan TIDAK secara jelas.

Harmonis dalam lingkungan

pedexAnak didik tentu memiliki komunitas, ia adalah anggota masyarakat sekolah. Seorang anak didik yang memiliki masalah dalam hubungan dengan masyarakatnya bisa saja dapat menghancurkan rasa percaya dirinya, meski hal tersebut dialami oleh seorang anak didik yang paling berbakat sekalipun. Anak didik tersebut akan sulit untuk mendapatkan rasa percaya diri ketika teman satu tingkatnya atau yang lebih tinggi darinya, atau gurunya yang secara terus-menerus mengusik dan merusak kondisi yang ada pada dirinya atau sepak terjangnya.

Jika temuan kita adanya ketidakharmonisan seorang anak didik dalam komunitasnya maka identifikasi masalah merupakan langkah tepat. Identifikasi berfungsi untuk mengetahui dimana letak hubungan yang salah. Setelah identifikasi, jika mungkin, segera dilakukan penilaian resiko  (risk assessment) dan memutuskan apakah ada sesuatu yang dapat kita lakukan perbaikan sehingga segera mendapatkan hubungan ketingkat yang lebih baik. Jika hubungan ini benar-benar tak lagi dapat diselamatkan (unsalvageable), mungkin itu tanda saatnya untuk beralih ke sesuatu yang lain.

 

Gapailah meski kemenangan kecil

Para anak didik yang memiliki rasa percaya diri cenderung untuk menantang terhadap diri mereka sendiri dan selalu siap bersaing, meski usaha dalam persaingan tersebut hanya akan menghasilkan kemenangan kecil.

Jangan anggap remeh sebuah kemenangan kecil bagi seorang anak didik, satu kemenangan kecil akan bernilai dalam membangun reseptor androgen baru di area otak yang bertugas untuk soal penghargaan (rewards) dan motivasi. Peningkatan reseptor androgen ini meningkatkan pengaruh testosteron, yang selanjutnya meningkatkan kepercayaan diri si anak didik yang sedang mendapatkan kemenangan kecil tersebut. Tentu saja akan muncul pada dirinya kesiapan untuk menghadapi tantangan baru diwaktu berikutnya meski kemenangan kecil lagi yang akan diraihnya. Bila dirinya memiliki serangkaian kemenangan kecil, dorongan kepercayaan diri dalam diri anak didik tersebut bisa bertahan selama berbulan-bulan lamanya.

 

Mentor & motivator

pedewBanyak bacaan di situs-situs internet yang mengulas tips bagaimana cara membangun rasa percaya diri, bahkan diantaranya menyampaikan tips meraih percaya diri dalam waktu singkat. Jika para pembaca sudah membaca tulisan-tulisan tersebut adalah pertanda baik, itu akan mendewasakan anda. Hanya saja dalam membangun sebuah bangunan pondasi selalu membutuhkan waktu, apalagi bangunan pondasi itu dalam wujud ‘ada namun tak dzahir dimata’, bukankah ujud rasa percaya diri seperti itu?

Dalam banyak kasus mendasar (tertentu) tak ada cara yang dapat merubah dalam waktu singkat untuk menumbuhkan rasa percaya diri. Sungguh tidak mungkin membangun pondasi rasa percaya diri seseorang dalam kurun begitu singkat yang tiba-tiba menjadikan seorang anak didik seperti orang yang berpengalaman atau seperti orang yang berbakat yang kemudian dapat melakukan tugasnya dengan baik. Untuk menumbuhkan rasa percaya diri pada anak didik tentunya sangat dibutuhkan faktor waktu dan diperlukan yang namanya mentor sekaligus motivator.




Siapakah yang pantas menjadi mentor & motivator anak didik? Banyak orang antara lain dari lingkungan sekolah, dan rumah. Bisa guru, ayah, ibu, paman, bibik, kakak, dan masih banyak lagi serta kombinasinya.

Lepas dari siapapun yang menjadi mentor & motivator bagi si anak didik maka sang mentor & motivator harus memahami apa pegangan dan peranannya, dan juga perlu memahami betul permasalahan yang sedang dihadapai si anak didik.  Jika kondisi-kondisi itu sudah ada ditangan mentor & motivator maka ia dapat berfungsi sebagai pembangkit rasa percaya diri yang baik.

 

Cara berpakaian

pederTerakhir sepertinya sepele, suka atau tidak, setuju atau tidak setuju, bahwa cara berpakaian turut menunjang sukses. Cara bagaimana seseorang berpakaian memiliki pengaruh yang besar pada bagaimana kita melihat orang tersebut. Hal-hal seperti pemilihan corak, bentuk, dan gaya berpakaian sangat memberikan pengaruh kepercayadirian seseorang. Cara kita berpakaian juga mempengaruhi bagaimana kita melihat diri kita. Untuk meningkatkan rasa percaya pada anak didik, teruslah meyarankan agar selalu berpakaian yang pantas, baik dan menarik. Pemilihan pakaian yang dikenakan akan mencerminkan siapa diri kita. Bukankah kita mengenal peribahasa aji ning rogo soko busono, dan you are what you wear.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.