bo3Saya masih sangat ingat ketika saya masih kecil saya banyak memiliki cita-cita. Sekarang, jika saya sedang sendiri atau sedang bersama teman-teman biasanya tiba-tiba saja saya teringat akan cita-cita tersebut. Tentu tidak teringat semuanya sekaligus disatu waktu, melainkan diwaktu tertentu salah satunya saja yang teringat. Cita-cita masa kecil itu banyak yang sudah saya ungkapkan ke teman-teman namun lebih banyak lagi yang masih saya simpan sendiri hingga kini. Semua teman-teman saya umumnya tertawa bahkan sebagian terkekeh-kekeh ketika usai mendengar cerita detail tentang cita-cita saya dimasa kecil.

Ketika saya masih kelas 3 SD, saya sudah mempunyai cita-cita menjadi seorang penemu. Cita-cita saya saat itu terinspirasi oleh buku “tentang para penemu”, judul bukunya saya lupa. Saya yang masih bocah itu kagum dengan para penemu kelas dunia. Sebut saja penemu pesawat telepon yang bernama Alexander Graham Bell. Walaupun belakangan setelah saya berumur 45 tahun diketahui bahwa penemu pesawat telepon bukanlah Alexander Graham Bell melainkan Antonio Santi Giuseppe Meucci.

Penemu lain yang saya ketahui dari buku itu seperti Thomas Alva Edison penemu lampu pijar, Michael Faraday penemu listrik, Aljabar penemu matematika, Christopher Columbus penemu benua Amerika meski belakangan saya ketahui bahwa dia bukanlah orang pertama yang menginjakkan kaki di tanah benua Amerika melainkan 3 abad sebelumnya para pelaut muslim asal China yang dipimpin Laksamana Cheng Ho mendarat disana, dan masih banyak penemu-penemu hebat lain yang saya ketahui dari buku itu.




Semua penemu kelas dunia itu menginspirasi saya yang masih bocah untuk menemukan atau menciptakan sesuatu. Apalagi sekitar kurun waktu tersebut saya mendengar bahwa penemu ikan mujair adalah orang Blitar, Jawa Timur, Indonesia!  Seingat saya, sejak saat itu saya hanya berfikiran bahwa saya harus menemukan atau menciptakan sesuatu biar jadi orang terkenal dan hebat. Kalau saya menemukan sesuatu, kata guru SD saya maka nama saya akan dipakai untuk barang temuan saya itu, contohnya ikan mujair yang ditemukan oleh Moedjair.

Salah satu cita-cita saya yang lain, saya ingin jadi tentara hebat. Tentara yang dilengkapi senjata lengkap berangkat ke medan pertempuran dan bertempur tetapi gak pernah mati-mati. Saya punya cita-cita itu diawal kurun waktu terjadinya perang Iran-Irak yaitu disekitar tengah  tahun 1981. Saya membela Iran. Saya ingin jadi tentara dan berada di garis depan menembaki satu-persatu tentara Irak yang masuk ke wilayah Iran. Pemahaman saya saat itu adalah bila tanah air saya diserang maka saya harus melawan guna mempertahankan kedaulatan tanah air saya. Lho, Iran kan bukan tanah air saya? Hehe, gelora emosi saya saat itu yang masih kelas dua SMP mengatakan karena tentara Iraklah yang memulai peperangan dengan memasuki wilayah teritorial Iran.

Cerita diatas hanyalah sedikit dari sekian banyak cita-cita saya dimasa kecil. Semua cita-cita saya termasuk yang belum saya sebutkan ternyata tak ada satupun yang terwujud. Semua cita-cita dimasa kecilku hilang begitu saja seiring berjalannya umur saya.

adha ngabuburitTahun ini, tahun 2016. Saya genap berumur 45 tahun.

Sehari sebelum Iedul Adha 2016 lalu saya dan empat teman saya ngabuburit bersama. Kami berlima sama-sama sedang berpuasa sunah Arafah 9 Zulhijah saat itu. Saya tidak tahu apa yang dirasakan teman-teman saya dalam ngabuburit itu, bagi saya ngabuburit kali itu dirasakan amat lain sekali. Rasa lain tersebut mungkin karena ngabuburit sore itu terjadi disebuah desa yang sangat terpencil, di salah satu puncak bebukitan, dikitari kebun kopi, dan dikelilingi hutan rimbun pepohonan yang tinggi-tinggi.

Kami berlima datang ke desa diatas bukit tersebut untuk beberapa waktu lamanya dalam rangka mengerjakan tugas survey tanah. Alam bebukitan sangat menyejukkan kami berlima yang sama-sama terlahir dan dibesarkan di perkotaan.

Kami sore itu menuruni bukit. Disisi kiri ujung turunan itu terdapat bebatuan ukuran sedang dengan gemericik air bening mengalir diatasnya seakan mengikuti kami berjalan. Ngabuburit kami akhirnya berhenti di warung pinggir jalan. Lampu penerangan warung baru saja menyala karena diesel genset baru dihidupkan. Setelah memesan lima gelas teh hangat, pisang rebus, dan empek-empek kukus kami semua duduk dibangku-bangku kayu sambil menunggu adzan magrib.

Esok paginya saya terbangun sebelum waktu subuh tiba. Saya menuju mushola terdekat. Didalam mushola sudah ada beberapa penduduk desa dan empat kawan saya. Lantunan “…..ashsholaaatu khoirum minannaum…!” yang dikumandangkan sang muadzin seakan-akan membangunkan semua penghuni desa itu termasuk siamang, burung, ayam, kambing, sapi, kadal, jangkrik, belalang, dan lain-lain. Adzan subuh itu telah menghidupkan awal kehidupan desa yang bertemperatur udara dipagi hari sekitar 13°C. Dingin!




Seusai solat subuh dilakukan, imam solat memimpin mengalunkan gema takbir. Takbiran Iedul Adha 2016 itu mampu mengusir rasa menggigil kedinginan di badan saya namun menjadikan seluruh permukaan kulit dibadan ini merinding, sementara air mata sulit saya bendung. Saya sedang sangat teringat semua anak-anak saya yang sedang jauh dari saya.

Kami berlima dari mushola langsung menuju rumah panggung tempat kami stay di desa itu untuk sarapan ketupat yang telah tersedia. Ibu Riskiatun, istri kepala dusun disitu sengaja menyediakan ketupat dan opor ayam kampung buat sarapan kami.

Ketika jam menunjukkan pukul 5.30 pagi kami semua telah mandi dengan air dingin yang keluar dari celah dinding bebatuan tebing terjal. Usai mandi, kami berdandan selayaknya para jamaah solat. Kami menuruni bukit dengan berjalan kaki menuju sebuah masjid yang mengadakan pelaksanaan ibadah solat Ied. Kata orang-orang desa masjid itu tak jauh, hanya 3 kali jalan menurun dan 2 kali jalan menanjak.

adha naikbrooowSelama perjalanan menuju masjid kami sering bercanda sambil sesekali menikmati indahnya alam bebukitan. Kami seperti orang desa yang baru kali pertama datang di Jakarta, penuh dengan kekaguman sekaligus keheranan dengan kehidupan Jakarta. Kami di desa itu keheranan dengan tahi luwak bercampur biji kopi dijemur diatas jalanan, kami keheranan melihat seorang nenek menggendong setengah karung biji kopi yang sedang berjalan menaiki bukit tanpa nafas terengah, dan keheranan-keheranan lain yang tak mungkin saya sebutkan satu persatu.

Masjid tujuan kami kian dekat, takbir semakin terdengar. Beberapa kali kami harus menyeberangi jembatan super kecil dengan pijakan kayu tunggal. Ohh… ini betul-betul suasana desa, kata saya dalam hati.

Seperti jamaah lain, usai solat Ied saya mendengarkan khutbah. Saya sangat terkesan dengan isi khutbah solat Ied oleh khatib asal desa tersebut. Ada beberapa isi khutbah yang nampaknya sama seperti masalah yang sedang saya hadapi dalam kehidupan ini.

Setiba dari usai solat ied, di rumah panggung tempat kami stay secara tak sengaja kami berlima membahas muatan isi khutbah itu.

adha jembatan“Pak Bermon, judul khutbah tadi adalah belajar dari Nabi Ibrahim dalam membangun cita-cita dunia dan akhirat. Judul itu sangat cocok buat bapak”, kata Pak Swenri kepada saya. Saya Cuma tersenyum.

“Dari khutbah itu saya baru tahu kalo nabi Ibrahim mengajarkan kepada kita bahwa mukmin harus sepenuhnya hidup untuk sebuah obsesi dan cita-cita yang tinggi”, sambung Pak Nomo sambil tangannya asyik chatting menggunakan androidnya.

“Nah itulah makanya isi khutbah itu cocok buat pak Bermon. Pak Bermon kan sejak kecil hingga sekarang banyak memiliki cita-cita”, kata Pak Swenri sambil menatap wajah pak Nomo. Saya tersenyum lagi. Pak Swenri yang orang Batak ini sahabat saya, ia seorang putra Kyai dari Medan. Pak Swenri hampir tahu semua cita-cita saya semenjak saya kecil, karena saya kerap bercerita kepadanya.

“Tahu gak apa bedanya obsesi dengan cita-cita?”, Pak Kiki, temen saya yang berbadan ceking ikut nimbrung. Semua diam, tak ada satupun diantara kami yang mejawab pertanyaan Pak Kiki.

adha pulang“Pada gak tau ya?!”, sambung Pak Kiki sambil menatap wajah kami satu persatu. Lantas Pak Kiki menjawab sendiri pertanyaannya. “Obsesi adalah ide, pikiran, bayangan, atau emosi yang dahsyat terhadap sesuatu hal. Sedangkan cita-cita adalah keinginan atau kehendak yang selalu ada didalam pikiran”.

Mereka terus membahas isi khutbah itu sementara saya merebahkan badan diatas lantai papan didekat mereka. Saya pejamkan mata tidur-tiduran. Saya hanya sedang ingin mengingat-ingat semua cita-cita saya sejak kecil. Saya pernah bercita-cita jadi seorang penemu hebat, pernah bercita-cita jadi tentara hebat, pernah bercita-cita jadi pilot pesawat tempur. Kebiasaan bercita-cita itu terbawa hingga saya dewasa. Setelah dewasa saya pernah bercita-cita jadi seorang selebriti, pernah bercita-cita jadi seorang penulis kondang, pernah bercita-cita jadi orang kaya raya dengan rumah luas dengan sederet mobil, pernah bercita-cita jadi seorang bupati, pernah bercita-cita jadi seorang menteri, pernah bercita-cita jadi seorang direktur perusahaan asing, dan lain-lain. Semua cita-cita itu kandas begitu saja tanpa bekas.

Sambil mendengarkan pembicaraan empat teman saya, saya berfikir apakah semua yang selama ini saya sebut sebagai cita-cita itu memang benar cita-cita atau bukan? Atau itu termasuk obsesi? Jangan-jangan termasuk khayalan belaka? Sementara yang saya dengar dari ucapan sang khotib tadi bahwa orang yang merugi adalah mereka yang lemah dalam memiliki obsesi dan cita-cita akhirat. Mereka mudah goyah dan takluk tak berdaya pada godaan dunia yang menghancurkan masa depan akhirat mereka sendiri.

Pak Swenri, Pak Nomo, Pak Kiki, dan Pak Simon semakin asyik pada bahasan mereka sedangkan saya terus asyik dengan pikiran sendiri.

Saya berfikir bahwa apa yang selama ini saya sebut sebagai cita-cita hanyalah obsesi yang tak terkendali alias khayalan kosong belaka. Saya rupanya tak menyadari telah manjadi seorang pengkhayal selama berpuluh-puluh tahun. Jadi sungguh naif jika saya mengatakan bahwa semua cita-cita saya yang seabrek jumlahnya tidak ada satupun yang terwujud.***

*Cerita fiktif M.A. BAGAYO diilhami rutinitas sehari-hari. Dari atas bukit di wilayah Sumatera Selatan, 28 September 2016.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.