Seno, nama samaran, tinggal di dusun Jompong desa Sumber Kecamatan Kradenan Kabupaten Blora. Pak Seno, lelaki paruh baya yang penyuka film India ini sekarang bekerja sebagai office boy (pesuruh kantor) di sebuah kontraktor Jakarta untuk proyek besar milik Pertamina EP yang ada di desa sumber Kecamatan Kradenan Kabupaten Blora. Tempat tinggal pak Seno ke kantor proyek hanya berjarak 400 meter.

senokerupuk3Selaku salah seorang office boy maka pak Seno selalu datang lebih pagi dari karyawan lainnya namun ia selalu pulang paling belakangan. Setiap hari pak Seno sudah berada di kantor sejak pukul setengah tujuh pagi dan pulang paling akhir, setidaknya pukul sembilan malam. Tugas-tugas pokok pak Seno tidak kalah penting dengan tugas-tugas para engineer maupun para manager di kantornya, yakni sejak pagi ia harus sudah menyiapkan sekitar tujuh puluh gelas minuman air putih, air teh atau kopi diatas setiap meja kerja. Tugas pokok lainnya adalah membersihkan musholla dan dua lokasi toilet minimal tiga  kali dalam sehari. Disaat semua karyawan lainnya telah pulang maka pak Seno dan satu office boy lainnya masih harus membersihkan dan merapikan seluruh meja kursi, menyapu dan mengepel lantai di seluruh ruangan kantor.

Pak Seno merupakan sosok bapak yang berpenampilan sederhana namun sangat gigih dalam memaknai betapa pentingnya pendidikan bagi diri dan keluarganya. Selapas lulus SMA ia mencoba mendaftarkan diri ke IKIP swasta di Bojonegoro, sayang sekali yang bisa dilakukannya saat itu hanya sampai mengajukan pertanyaan dibagian pendaftaran lantaran jelas-jelas ia tidak memiliki sama sekali harta untuk membayar kuliahnya kelak. Kandaslah harapannya untuk dapat mengenyam pendidikan dibangku kuliah. Menyadari dirinya yang sudah menjadi anak yatim sejak usianya delapan tahun maka untuk menghidupi dirinya ia putuskan menjadi penjual kerupuk. Ia mengambil kerupuk dari satu tempat kemudian ia bersepeda ontel keliling desa untuk menjual kerupuk dagangannya ke warung-warung yang ada disebagian kecamatan Kradenan. Selain sebagai penjual kerupuk keliling pak Seno muda aktif di ormas Nahdatul Ulama (NU) setempat. Pak Seno duduk sebagai asisten sekretaris di ormas tersebut. Pada tahun 1989 bersama rekan-rekan yang juga seniornya di ormas tersebut mendirikan Madrasah Tsanawiyah (MTs) Hasyim Ashari. Ia sempat mengajar beberapa waktu di MTs tersebut lantas ditempatkan dibagian tata usaha selama empat tahun. Pada tahun 1992 ormas tersebut mendirikan gedung sekolah taman kanak-kanak TK Abdusy Syukur di tetangga desa yakni di desa Menden. Setelah gedung TK itu selesai dibangun maka dicarilah guru sebagai tenaga pengajarnya. Sangat kebetulan pak Seno-lah yang menemukan seorang gadis lulusan madrasah aliah untuk dijadikan guru pertama di TK tersebut. Satu tahun kemudian ibu guru yang masih gadis tersebut ia nikahi dijadikan pendamping hidupnya.

senokerupuk1Pekerjaan menjual kerupuk keliling tetap ia tekuni dari hari ke hari hingga tahun ke tahun. Setiap siang ia bagikan tetesan keringatnya diatas aspal dan tanah sepanjang jalan dengan sepeda ontelnya untuk menjual kerupuk dagangannya, sedangkan petang ia gunakan untuk berkumpul dengan istri dan anak-anaknya yang saat itu masih berjumlah dua anak. Sejak itu ia menyadari betul bahwa perubahan nasib hidupnya tidak akan pernah berubah kecuali ia selaku pemimpin keluarga melakukan perubahan. Meski ada keraguan yang besar akhirnya Ia mengambil sepeda motor dari dealer terdekat secara sistim kredit. Omset kerupuk dagangannya agak meningkat linier dengan bertambahnya waktu berkat adanya sepeda motor honda suprafit kreditan. Pembayaran kredit motor dapat dilakukan dengan lancar berkat kebaikan pemilik dealer. Pembayaran cicilan kredit motor hanya dibayar sesuai kemampuan penghasilan pak Seno bukan sesuai aturan dealer. Pemilik dealer sangat memahami keadaan pak Seno dan keluarganya apalagi disaat pak Seno mengutarakan bahwa uang muka yang dia pakai untuk mengambil sepeda motor itu adalah uang hasil hutang.

Pagi itu, kenangnya, berita dari pemda kabupaten Blora di tahun 1999 sangat menggembirakan hati pak Seno. Saat itu pemda kabupaten Blora menawarkan program beasiswa pendidikan D2 bagi para guru di wilayahnya. Singkat cerita, istri pak Seno termasuk yang lolos untuk mengikuti jenjang pendidikan D2 di IAIN semarang dengan mengambil jurusan pendidikan agama Islam (PAI). Berprinsip walaupun harus menguras tenaga dan pikiran asal untuk kemajuan pendidikan di keluarganya (bagi istrinya) ia rela menjalaninya. Menuntut ilmu adalah tuntutan agama yang diyakininya, siapa yang berjuang untuk agamanya maka dunia akan mengikutinya. Soal rizki Allah lah yang mengaturnya. “Urip-urip agomo”, kata pak Seno. Akhirnya dengan penuh keikhlasan yang tinggi pak Seno mengijinkan sang istri tercinta untuk menuntut ilmu yang lebih tinggi dari sebelumnya. ”Lillahi ta’ala……..” itulah yang ia niatkan dalam hatinya saat itu. Perjuangan dan keikhlasan yang berbuah manis, sang istri lulus program pendidikan D2 di tahun 2001.

Selepas lulus jenjang D2 sang istri kembali ke desa Sumber dan tetap menekuni profesi guru namun tidak lagi mengajar di TK semula melainkan di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Bustanul Sholihin. Setelah dijalani beberapa tahun lagi-lagi pak Seno masih merasa kurang puas melihat istrinya yang berprofesi guru hanya dengan pendidikan D2. Meski ada beban menyekolahkan anak pertama dan keduanya pak Seno mencoba mendaftarkan sang istri tercinta ke jenjang S1 di universitas Sunan Giri (Unsuri) Bojonegoro. Melihat besarnya biaya kuliah bagi istrinya pak Seno mengurungkan niat mulianya.

senokerupukDisela-sela menjalani profesi sebagai pedagang kerupuk keliling ada yang diingat dibenak pak Seno. Perkataan seorang Kyai yang pernah dikenalnya, kata pak Kyai, untuk mendapatkan dunia harus pakai ilmu, untuk mendapatkan ukhrowi harus pakai ilmu dan untuk mendapatkan keduanya juga harus pakai ilmu. Gagal dan sukses adalah urusan Allah SWT! Semangat pak Seno kembali membara untuk menyekolahkan istrinya di jenjang S1 setelah memaknai pesan pak Kyai tersebut. Semangat itu kian menjadi-jadi setelah pak Seno mengetahui dari istrinya bahwa ada program sertifikasi untuk guru namun dengan syarat harus lulusan S1. Dengan mengendarai sepeda motor yang belum lunas cicilannya pak Seno membonceng istrinya untuk coba mendaftarkan lagi istrinya ke jenjang S1 di universitas Sunan Giri (Unsuri) Bojonegoro. Akhirnya sang istri dapat kuliah S1 di universitas tersebut dari tahun 2005 hingga 2008. Sesuai waktunya sang istri lulus S1. Ibu Seno tetap mengajar di madrasah ibtidaiyah (MI) Bustanul Sholihin. Berkat keikhlasan dan kesabaran pak Seno beserta istri dan atas ijin Allah maka di tahun 2012 ibu Seno telah lulus sertifikasi guru. Pendapatan ibu Seno meningkat dan sangat meringankan beban pak Seno selaku kepala keluarga. “Alhamdulillah…”, kata pak Seno sambil menatap langit-langit dapur di kantor proyek.

Ingin mencari yang lebih baik, itulah alasan pak Seno di tengah tahun 2013 ketika beralih profesi dari pedagang kerupuk keliling menjadi office boy di kantor proyek. Namun, namanya proyek tentunya akan berbatas waktu. Aktifitas proyek akan berakhir sekitar tiga bulan lagi. Jika proyek ini benar-benar akan berakhir tiga bulan lagi lantas kemanakah ia harus mencari penghasilan? Pertanyaan itu yang sementara bergelayut dibenaknya. Kembali menjadi pedagang kerupuk? Ah, tidak. Saya malu, begitu kata pak Seno. Lagian sudah banyak pedagang kerupuk seperti itu sekarang. Banyak saingan!

Dibenak pak Seno terbayang wajah lelaki anak pertamanya yang telah bekerja disatu-satunya pabrik gas yang ada di desa sumber dimana sambil menyelesaikan kuliah S1 di fakultas tehnik semester 7 Sekolah Tinggi Tehnik ronggolawe (STTR) Cepu. Kemudian pak Seno berganti membayangkan wajah perempuan anak keduanya yang sedang menyelesaikan kuliah S1 di fakultas tehnik semester 3 di STTR Cepu juga. Kemudian ia membayangkan wajah anak lelaki yang bungsu yang masih duduk di kelas 6 MI Bustanul Sholihin dusun Jompong desa Sumber.

Kemanakah pak Seno harus mencari pkerupukenghasilan jika ia di PHK karena proyek tiga bulan lagi bubar? Pertanyaan itu yang sementara terus bergelayut dibenaknya. Kembali menjadi pedagang kerupuk? Ah, tidak. Saya malu. Sudah banyak pedagang kerupuk seperti itu sekarang. Tapi ia dengan haru sekaligus bangga menceritakan telah berhasil menyekolahkan istrinya dari hasil jual kerupuk. Berarti kuliah kerupuk. Kemarin juga anak-anaknya ia sekolahkan dari dagang kerupuk. Berarti sekolah-kuliah kerupuk. Akankah pak Seno kembali menjadi pedagang kerupuk keliling? Toh para tetangga sedesanya sudah terlanjur melengkapi nama Seno dengan julukan Seno kerupuk!*

2 thoughts on “SENO KERUPUK”
    1. Trims banyak. Kontribusi terbesar dlm cerita itu adalah cerita P Seno yg mengalir spt air terjun. Moga berkah bt P Seno dan kita para pembacanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.