coveralllApa hubungan antara snelli dan coverall? Tahu nggak, snelli itu adalah doctor’s white coat alias jas dokter. Betul, warnanya putih! Snelli merupakan barrier terluar terhadap cairan tubuh pasien dan cairan lain, misalnya aja: darah, ketuban, dahak, dan lain-lain.

Kalo coverall itu apa? Coverall alias wearpack itu pakaian terusan yang melindungi seluruh tubuh, biasanya digunakan oleh pekerja lapangan. Misal lapangan tambang (mining) atau oil & gas. Trus…apa hubungan antara snelli dan coverall?

Kalo dipandang dari dunia profesi maka jauh berbeda. Yang satu bekerja di lokasi tambang, konstruksi, oil & gas dimana diarea penuh debu, terik matahari atau hujan, atau kadang dilingkungan penuh bahaya (hazards). Sedangkan snelli, dipakai di tempat paling banyak mengadung virus dan bakteri, kuman yang loncat dari satu tempat ke tempat lain, dan tempat yg sangat dijaga kebersihannya yaitu rumah sakit.

Sekali lagi apa hubungan antara snelli dan coverall? Jangan duga-duga sendiri ya…. Yang jelas dua jenis pakaian ini pernah dan masih saya ‘pakai secara bersamaan’. Yang satu saya pakai dengan penuh kebanggaan, sedang yang satunya lagi saya pakai dengan penuh suka cita. Ya, dua profesi ada dalam diri saya. Kok bisa?

Memakai coverall merupakan cita-cita saya tersendiri. Membayangkan menggunakan baju terusan lurus lengkap dengan sepatu boot dan helmet (topi helem), ditambah lagi kaca mata hitam (bayangkan kerennyaaaa…) adalah impian besar saya. Tapi menggunakan snelli dengan gaya yang seakan dewa disatu tempat yang disebut rumah sakit, siapa yang tidak kepingin? Dengan stetoskop menggantung di leher berjalan di koridor RS….dan semua orang yang bertemu dengannya segera menganggukan kepala..cool. Wooow, saya juga kepingin.

Dua baju profesi itu buat saya memang menyenangkan…. menurut saya dua-duanya membuat saya terlihat keren selain tampak cantik, hahaha… Bekerja dengan coverall itu penuh tantangan, menyelesaikan satu project dengan team yang luar biasa hebatnya dalam bekerja sama, wuooow… merupakan pengalaman saya yang tiada tara.

Bekerja dengan snelli, penuh kesabaran, mendengarkan keluhan tiap orang yang datang dengan pengharapan akan sembuh dari derita sakit (walau kesembuhan hanya kuasa Allah), walaupun sebenarnya hati kita sedang tak karuan tapi harus selalu tersenyum ramah. Itu semua adalah tantangan tersendiri yang harus saya jalani dan saya menyukai keduanya.

Saya terlahir dengan cita cita menjadi seorang engineer, disisi lain mengemban keinginan orang tua agar saya menjadi seorang dokter. Saya menjalani masa-masa kuliah dengan bergembira ketika duduk di fakultas kesehatan masyarakat (FKM) perguruan tinggi negri ternama di Jakarta pada sore hari…jurusan paling ajaib saat itu karena satu-satunya kelas di FKM dengan jumlah mahasiswa laki-laki 80% dibanding dengan perempuan yang hanya 20%. Saya bahagia dengan semua mata kuliah yang sangat menantang. Bagaimana sibuknya kita menghitung berapa Alat Pemadam Api Ringan yang harus ditaruh dalam satu ruangan dengan perbandingan luas dan material gedung. Dan masih banyak lagi yang seru…!

Nah, kalo pagi harinya, sebelum saya menikmati mata kuliah yang diajarkan bapak-ibu dosen di FKM, saya berkutat dengan textbook kedokteran yang bahasanya dirasa aneh baik di otak maupun diucapkan lidah. Satu demi satu tiap kata-kata dengan bahasa ilmiah, Yunani, kadang Belanda kadang Jerman saya pahami pelan-pelan dan saya baca terus. Menghapal tiap kata dan kalimat dalam kamus paling keren (kamus Dorland).

Saya kuliah di dua fakultas berbeda yang cukup menyenangkan dengan ketulusan hati dan tanpa keterpaksaan. Saya berusaha selalu mendapat nilai paling bagus ditiap mata kuliah yang diajarkan di FKM, tapi saya cuek di fakultas kedokteran (FK) namun selalu lulus.

Dua dunia fakultas dengan keseruan yg berbeda… Namun pada saat saya lulus, saya harus memilih dunia mana yg harus saya geluti untuk menjadikan diri saya hidup mandiri. Apakah saya menjadi seorang dokter dengan snelli putih, menghirup bau karbol RS yang menjadi desifektan atau memakai coverall keren seperti yang saya cita-citakan sejak kecil???

Buat saya sekarang, keduanya sangat menyenangkan, keduanya coba saya jalani. Kok, bisa? Ya, bisalah. Orang saya sedang jalani. Hehehe…. alhamdulillaaaah bisa dijalani, meski tak sempurna.

Pekerjaan atau profesi adalah panggilan hati, dimana ketulusan dan keiklasan adalah hal yang sangat diperlukan untuk menjalankannya. Jadi, jelas ‘kan hubungan antara snelli dan coverall? Dua-duanya saat ini saya pakai.

Saya siap, jika ada orang yang membutuhkan saya dengan snelli yang sudah tidak putih lagi warnanya.  Dan saya tidak akan kabur, ketika saya harus memakai coverall dan bekerja dibawah terik matahari. Kedua-duanya menurut saya ‘sangat keren’! Semoga saya iklas menjalankannya.*

(dr. Heleni Mirana, Jakarta).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.